Nelayan Pangkalpinang Gunakan Alat Tangkap Tradisional

Konfrontasi - Nelayan di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggunakan alat tangkap tradisional untuk menjaga kelestarian lingkungan laut di perairan daerah itu.

"Kami tetap menggunakan alat tangkap tradisional agar ekosistem kelautan tetap terjaga dengan baik, sehingga ikan-ikan tetap betah di perairan itu," ujar seorang nelayan, Basri di Pangkalpinang, Senin (16/3).

Menurut dia, hanya dengan cara itu dapat menjaga kelestarian lingkungan laut dan nelayan juga dapat meningkatkan hasil tangkapan karena produksi ikan di laut tidak terganggu dan terus bertambah.

"Alat tangkap seperti cantrang, pukat harimau, pukat hela, purse seine dan jenis lainnya dapat merusak terumbu karang di lautan. Selain itu penggunaannya juga dilarang oleh pemerintah karena tidak ramah pada lingkungan laut," ujarnya menambahkan.

Ia mengatakan, selama menangkap ikan ia hanya menggunakan pancing dan bubu. Meski hanya menggunakan alat tangkap tradisional hasil yang didapat cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Hasil tangkapan tergantung kondisi cuaca, jika cuaca bagus hasil tangkapan meningkat dan demikian juga sebaliknya," katanya.

Demikian juga dengan Hasan, nelayan lainnya yang mengakui bahwa alat tangkap tradisioanl masih tetap digunakannya agar kelestarian laut tetap terjaga.

Ia menjelaskan, kriteria penangkapan ikan ramah lingkungan seperti alat tangkap harus memiliki selektivitas yang tinggi, alat tangkap yang digunakan tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya, menghasilkan ikan yang bermutu baik dan diterima secara sosial.

"Jika alat tangkap memiliki kriteria itu nelayan bebas menggunakannya dimana saja karena tidak merusak ekosistem laut, cara penggunaannya juga tidak berbahaya bagi nelayan," ujarnya. (akl/ar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...