Nasabah Jiwasraya Tolak Skema Restrukturisasi yang Ditawarkan Pemerintah

KONFRONTASI-Nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) produk saving plan menolak tegas skema restrukturisasi yang diberikan pemerintah. Skema tersebut menawarkan tiga mekanisme pembayaran polis milik nasabah.

Roganda Manulang, salah satu nasabah Jiwasraya, mengatakan pemerintah maupun Jiwasraya tidak pernah menjelaskan secara gamblang skema restrukturisasi polis kepada nasabah.

"Kami menolak opsi restrukturisasi yang ditawarkan karena tidak mengutamakan azas keadilan dan win win solution. Semua opsi restrukturisasi yang ditawarkan sangat memberatkan nasabah," ujar Roganda dalam acara Dengar Tanggapan Nasabah Jiwasraya, Senin (14/12).

Menurutnya, kasus gagal bayar Jiwasraya murni kesalahan tata kelola perusahaan dan lemahnya pengawasan pemerintah. Ia menegaskan nasabah tidak memiliki andil kesalahan dalam kasus gagal bayar tersebut sedikitpun, termasuk nasabah Jiwasraya saving plan.

"Jadi, mengapa nasabah harus menerima potongan (haircut)? Sedangkan pihak-pihak yang tidak menjalankan fungsi dan perannya tidak menerima paycut (dipotong gajinya)?," ujarnya.

Ia juga menegaskan rancangan skema restrukturisasi tidak pernah didiskusikan bersama nasabah. Namun, nasabah diharuskan memilih hasil akhir yang semuanya dinilai merugikan mereka.

"Nasabah hanya disodori hasil akhir yang tidak ada satupun opsi yang adil bagi kami. Narasi komunikasi Jiwasraya dengan nasabah tidak persuasif bahkan intimidatif," ucapnya.

Nasabah lainnya, Amin menjelaskan Jiwasraya tidak pernah menyampaikan dokumen perihal restrukturisasi secara detail dan formal kepada nasabah. Menurutnya, hanya sebagian nasabah yang menerima dokumen skema restrukturisasi polis Jiwasraya.

Dalam dokumen tersebut, lanjutnya, dijelaskan bahwa ada tiga skema restrukturisasi polis. Pertama, untuk nasabah korporasi mendapatkan haircut sebesar 5 persen dari nilai tunai polis. Selanjutnya, nasabah korporasi mendapatkan bunga cicilan setara dengan bunga pasar yakni sekitar 4 persen-5 persen.

Kedua, nasabah ritel mendapatkan haircut 5 persen dari nilai tunai. Serupa, nasabah ritel juga mendapatkan bunga cicilan sebesar bunga pasar di kisaran 4 persen-5 persen.

Ketiga, nasabah saving plan diberikan 3 pilihan skema. Pertama, alternatif utama yakni pembayaran 100 persen dari nilai tunai dan nasabah mendapatkan manfaat asuransi kecelakaan. Namun, cicilan itu dilakukan selama 15 tahun tanpa mendapatkan bunga cicilan.

Alternatif kedua untuk nasabah saving plan, yakni nasabah mendapatkan pembayaran 71 persen dari nilai tunai polis, atau mengalami haircut sebesar 29 persen.

Namun, pembayaran tersebut dicicil selama 5 tahun tanpa bunga, ditambah manfaat asuransi kecelakaan.

Alternatif terakhir bagi nasabah saving plan, yakni nasabah mendapatkan pembayaran 69 persen dari nilai tunai polis, atau mengalami haircut sebesar 31 persen.

Untuk skema ini, pembayaran awal sebesar 10 persen diberikan melalui IFG Life, sedangkan sisanya kurang lebih 59 persen dicicil selama 5 tahun tanpa bunga. Serupa, lewat skema ini nasabah juga berhak mendapatkan manfaat asuransi kecelakaan.

Amin menuturkan Jiwasraya tidak mengajak serta nasabah membahas skema tersebut. Pun demikian, informasinya tidak diberikan secara formal kepada seluruh nasabah. Bahkan, sebagian nasabah mengetahui informasinya dari media.

"Jadi, kepada sebagian nasabah itu memang pernah disampaikan juga soal skema yang juga pernah ditulis di media," ucapnya.

Selain skema tersebut, lanjutnya, ada pula skema besaran pembayaran cicilan setiap tahunnya bagi nasabah saving plan. Namun, skema tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Jiwasraya.

Dalam skema pembayaran nasabah saving plan dirincikan tahapan pembayaran setiap tahun untuk masing-masing skema.

Pertama, untuk pembayaran 100 persen dari nilai tunai dicicil selama 15 tahun tanpa bunga. Rinciannya, tahun ke 1-10 masing-masing sebesar 5 persen dari nilai tunai polis. Sedangkan, tahun ke 11-15 sebesar 10 persen dari nilai tunai polis.

Kedua, untuk pembayaran 71 persen dari nilai tunai, atau mengalami haircut sebesar 29 persen, akan dicicil selama 5 tahun tanpa bunga.

Tahun ke 1, Jiwasraya akan membayar 15 persen dari nilai tunai polis, tahun ke 2-4 perseroan membayar 5 persen, sedangkan mayoritas dibayarkan di tahun ke-5 sebesar 41 persen dari nilai tunai polis.

Ketiga, untuk pembayaran 69 persen dari nilai tunai polis atau mengalami haircut 31 persen akan dibayarkan selama 5 tahun tanpa bunga. Porsi pembayaran tahun ke-1 sebesar 10 persen dari nilai tunai polis, tahun ke2-3 sebesar 5 persen, dan mayoritas dibayarkan pada tahun ke-5 yakni 30 persen dari nilai tunai polis.

"Untuk cicilan pembayaran per tahun, tahun pertama berapa persen, tahun kedua berapa persen, itu sampai sekarang belum ada konfirmasi pasti dari Jiwasraya. Kami sangat sayangkan juga, Jiwasraya seperti tidak mau gamblang jelaskan jelas, diberikan opsi yang tidak enak, kami harus pilih tapi semua merugikan, tapi penjelasannya pun tidak pernah sampai dengan detail jelas," ucapnya. 

Tampik Kantongi Bunga Tinggi

Dalam kesempatan yang sama, Roganda menegaskan jika nasabah saving plan mendapatkan bunga sebesar 6 persen-7 persen. Kondisi tersebut tidak sejalan dengan penjelasan pemerintah yang menyatakan jika produk tersebut menawarkan bunga tinggi 9 persen-13 persen.

"Salah satu contoh yang kami berikan, waktu konferensi pers Jumat kemarin, Pak Hexana (Dirut Jiwasraya) bilang bahwa penyebab masalah ini adalah bunga tinggi. Jadi, kami dituduh menerima bunga yang tinggi padahal tadi sudah dikonfirmasi 6 persen -persen, itu sangat wajar sekali," katanya.

Menurutnya, pernyataan bunga tinggi bagi nasabah saving plan merupakan tuduhan bagi nasabah saving plan. Ia pun mengaku jika pernyataan tersebut kerap menyakiti nasabah saving plan.

"Ini intimidasi seolah-olah menuduh kami ini nasabah yang rakus, itu yang menyakitkan kami. Kami kami di-dholimi tapi di lain pihak kami dituduh serakah ingin makan bunga yang tinggi," ujarnya.

Mengamini pernyataan tersebut, nasabah lainnya Oerianto Guyandi menilai jika pernyataan tersebut merupakan bentuk framing yang dilakukan oleh pemerintah dan Jiwasraya. Framing tersebut menyudutkan nasabah saving plan sebagai penyebab ambruknya Jiwasraya karena harus membayar bunga tinggi.

"Secara sistematis dilakukan terus menerus dari dulu untuk framing nasabah Jiwasraya ini penyebab gagal bayar Jiwasraya, dan nasabah rakus menyebabkan Jiwasraya ambruk sehingga pantas kalau direstrukturisasi 15 tahun. Itu yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur menurut kami," katanya.

Hingga berita ini diturunkan, Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko belum bisa untuk dimintai tanggapan terkait tudingan nasabah atas skema restrukturisasi yang ditawarkan. (mr/cnn)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...