Megaproyek LRT Jabodebek Mulai Dilirik Asing

Konfrontasi - Keseriusan pemerintah menggarap megaproyek LRT (Light Rail Transit) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi menarik perhatian beberapa perusahan asing. Satu diantaranya, berharap dapat menanamkan modalnya di proyek infrastruktur yang menelan biaya Rp21,9 triliun itu.

Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan, beberapa perusahaan dan lembaga internasional tertarik berinvestasi di LRT Jabodebek. Salah satunya adalah BlackRock Inc., perusahaan jasa investasi asal New York, Amerika Serikat. 

"BlackRock, salah satu fund manager dunia sudah ingin masuk dan tertarik mendanai proyek ini (LRT Jabodebek). Karena mereka melihat sangat bagus dan konsepnya menarik dari sisi estetika," ujar Luhut saat meninjau pembangunan LRT Jabodebek, Jumat (4/8/2017).

Menurut Luhut, pemerintah tidak mempersoalkan masuknya kerja sama asing dalam megaproyek LRT Jabodebek. Hanya yang perlu ditegaskan adalah format kerja samanya, sehingga kelak tidak ada yang dirugikan. Apalagi proyek LRT Jabodebek adalah proyek andalan.

"Kalau ada pihak yang sangat berminat masuk, ya kami tidak keberatan. Sebab, dengan demikian tidak menggunakan dana APBN. Tapi kerja samanya jangan ada yang dirugikan," katanya.

Sehingga, sambung dia, APBN Indonesia yang untuk dialokasikan ke infrastruktur sebesar 20%. Sedangkan pembiayaan infrastruktur lainnya dibiayai dari sektor swasta.

Dengan adanya ketertarikan dari asing, Luhut mengaku Indonesia harus berbangga. Pasalnya proyek LRT Jabodebek memiliki multiplier effect atau efek ganda yang positif bagi Indonesia di masa depan. 

Apalagi, kata dia, proyek LRT Jabodebek yang memiliki total panjang 76 kilometer ini, berada di daerah padat di Indonesia. Sehingga dia berharap, konstruksi model LRT dapat juga dipakai di Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, dan Makassar. Sehingga kemacetan di daerah lain dapat diurai semaksimal mungkin. (sndo/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA