5 April 2020

Masa Depan Industri Makanan Minuman Cerah

KONFRONTASI - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meyakini prospek industri makanan dan minuman ke depan masih sangat cerah. Industri yang juga dinilai sangat strategis ini bahkan tumbuh 9,82% pada kuartal III/2016, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan industri pada periode yang sama sebesar 4,71%.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, sepanjang 2016, industri makanan dan minuman juga tumbuh hampir dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. ”Pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar 8,4% di tahun 2016 di mana pertumbuhan ini di atas pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02%,” ujar Menperin di Jakarta, kemarin.

Airlangga mengatakan, industri makanan dan minuman memiliki daya saing yang cukup kuat. Selain itu, pemain industri di sektor ini juga beragam, tidak ada pelaku yang mendominasi. ”Supply chain - nya tidak terganggu mulai bahan baku, produksi, sampai ke konsumen. Oleh karena itu, Kemenperin mendorong sektor ini karena bisa menjadi alat pemerataan mengingat banyak industri kecil dan menengah di sektor ini yang di daerah pun hidup,” tuturnya.

Industri makanan dan minuman mempunyai peranan penting, terutama dalam kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas, di mana peran subsektor industri ini merupakan yang terbesar dibandingkan subsektor lainnya, yaitu sebesar 33,6% pada kuartal III/2016. Nilai ekspor produk makanan dan minuman pada tahun 2016 tercatat mencapai USD19 miliar, surplus bila dibandingkan dengan impor produk makanan dan minuman pada periode yang sama sebesar USD9,64 miliar.

Di samping itu, dilihat dari perkembangan realisasi investasi, subsektor industri ini sampai kuartal III/2016 menarik investasi sebesar Rp24 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan USD1,6 miliar dari penanaman modal asing (PMA). Menurutnya, pertumbuhan di sektor makanan dan minuman di antaranya disebabkan oleh meningkatnya pendapatan masyarakat serta tumbuhnya populasi kelas menengah.

Kecenderungan pola konsumsi masyarakat, menurutnya, mengarah pada konsumsi produk-produk pangan olahan siap santap. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman mengaku optimistis industri ini akan tumbuh signifikan pada 2017. Optimisme itu didasarkannya pada tren peningkatan investasi di sektor industri pangan tersebut.

”Tahun 2017, kami yakin bisa lebih tinggi, minimal bisa 8,5%. Omzetnya sekitar di atas Rp1.400 triliun,” ujarnya. Adhi mengatakan, para pelaku industri makanan dan minuman saat ini sudah mulai berekspansi melirik pasar-pasar baru, termasuk ASEAN. Untuk kawasan ASEAN, ekspor tidak hanya dilakukan melalui pengiriman produk makanan dan minuman dalam kemasan, namun juga melalui ekspansi bisnis kuliner.(juft/Sind0)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...