13 December 2019

Konsumsi LPG 3Kg Meningkat 10 persen di Bulan Ramadhan, Ini Kata Pertamina

Konfrontasi - Tingkat konsumsi liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram alias elpiji melon, memasuki Ramadan 2019, secara nasional meningkat. Dari yang biasanya 7 juta tabung setiap hari menjadi sekitar 7,8 juta tabung per hari, atau naik 10 persen jika dibandingkan dengan hari biasa.

Namun, masyarakat tidak perlu resah. PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan elpiji sampai Idul Fitri aman.

’’Kami pastikan elpiji 3 kilogram tersedia dengan cukup sesuai dengan kebutuhan masyarakat,’’ ujar Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina (Persero) Mas’ud Khamid.

Pada periode 6–13 Mei 2019, konsumsi harian elpiji melon menjadi 23.338 metrik ton (MT) dari sekitar 21.269 MT.

Mulai Ramadan hingga Idul Fitri nanti, Pertamina menyiapkan pasokan tambahan sekitar 15 persen. Selain itu, Pertamina menyiapkan 33 ribu pangkalan siaga di seluruh Indonesia. Juga sekitar 539 stasiun pengisian dan pengangkutan bulk elpiji (SPPBE).

Mas’ud menambahkan bahwa Pertamina telah memetakan kebutuhan agen dan pangkalan di tiap-tiap daerah. Dengan begitu, penyalurannya lebih tepat sasaran. Sebab, elpiji melon adalah produk yang disubsidi pemerintah.

Dia mengimbau masyarakat yang mampu agar tidak menggunakan elpiji melon. Namun, elpiji 3 kilogram berwarna pink fuschia yang dikenal sebagai bright gas.

Bright gas untuk masyarakat mampu, menurut Mas'ud, sudah semakin mudah diperoleh. ’’Nanti juga ada petugas yang bisa memasangkan sekalian,’’ katanya.

Uji coba tahap pertama bright gas 3 kilogram di Surabaya dan Jakarta tahun lalu sukses. Kini Pertamina melanjutkannya dengan uji coba tahap kedua.

Jika sasaran uji coba tahap pertama adalah masyarakat yang tinggal di apartemen dan hunian vertikal, kini targetnya bergeser ke perkampungan dan perumahan. Mas’ud mengatakan bahwa respons masyarakat tidak sebagus pada uji coba tahap pertama.

’’Begitu masyarakatnya mix (pada uji coba tahap dua, Red) kita kesulitan. Banyak yang lebih memilih (elpiji) subsidi,’’ terangnya.

Perbedaan harga menjadi alasan utama keengganan penduduk kampung dan perumahan untuk menggunakan elpiji nonsubsidi. Selisihnya hampir dua kali lipat. Saat ini harga elpiji 3 kilogram yang bersubsidi Rp 19 ribu hingga Rp 22 ribu. Sementara itu, harga bright gas 3 kilogram sekitar Rp 39 ribu.

Direktur Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan bahwa pemerintah akan menambah 5.662 paket elpiji di kawasan Indonesia Tengah. Targetnya, program tersebut rampung pada 2020.

’’Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Flores, Lembata, dan Nagekeo. Itu yang menjadi prioritas penambahan,’’ terangnya. (jp/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...