Kabur dari Pasar, Cara Asing Lemahkan Pilkada Tak Langsung

KONFRONTASI - Head of Research Division PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, disahkannya RUU Pilkada telah memperburuk keadaan pasar. Mengingat, investor asing sesungguhnya telah melakukan posisi jual di bursa efek Indonesia (BEI) sejak pekan ke dua bulan ini. Meski, aksi jual tersebut dinilai masih dalam jumlah yang kecil.

"Adanya UU Pilkada ditambah dengan kondisi regional yang jelek, tekanan asing makin besar," ungkapnya kepada Jawa Pos.

Ia memaparkan, beberapa waktu ini asing lebih banyak melakukan aksi jual Rp 400 miliar hingga Rp 500 miliar per hari. Sebaliknya, kemarin, asing mencatat penjualan bersih (foreign net sell) sekitar Rp 1,4 triliun di pasar reguler.

Asing melepas saham-saham unggulannya, yang ditandai koreksi pada indeks LQ45 sebesar 13,89 poin (-1,57 persen) ke level 870,52. Secara keseluruhan, sebanyak 240 saham turun, hanya 66 saham yang naik dan sisanya 64 saham stagnan.

Beberapa saham terbaik di pasar modal yang dilanda aksi jual antara lain BMRI (-4,5 persen) ke level 10.050 per lembar, BBRI (-3,9 persen) ke posisi 10.350 per lembar, dan ASII (-2,4 persen) pada angka 7.000 per lembar saham.

Satrio menerangkan, tren pelemahan IHSG diperkirakan masih terus berlanjut. Dengan penutupan kurang dari range 5.135-5.150, maka IHSG berpotensi terkoreksi ke level 4.950-5.000.

"Tapi koreksi IHSG terbatas dengan level support 4.950-5.000. Ini karena UU Pilkada masih ada kesempatan untuk di-MK (Mahkamah Konstitusi)-kan," ujar pria yang akrab disapa Tomi tersebut.

Di sisi lain, Kepala Grup Assessment Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi mengatakan, pada dasarnya pelemahan rupiah belum bisa disimpulkan merupakan efek dari regulasi yang baru digedok tersebut. Sebaliknya, pihaknya meyakini faktor perkembangan eksternal lebih banyak mempengaruhi.

"Yang jelas, nilai tukar ini kan bagian dari penyesuaian keseimbangan eksternal. Ada penyesuaian portofolio investasi di kalangan investor," ungkapnya di Gedung BI, kemarin (26/9).

Sebagaimana diketahui, market sejauh ini juga mengkhawatirkan perbaikan yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut bakal memicu pembalikan arah investasi, yang sebelumnya ke emerging market berbalik menuju negara maju seperti AS.

Apalagi, bank sentral AS (The Federal Reserve) juga merencanakan untuk meningkatkan suku bunganya. Paling cepat, The Fed akan mengerek suku bunga acuannya pada kuartal pertama 2015.

"Normalisasi di AS merupakan refleksi dari membaiknya ekonomi mereka. Kalau nanti perbaikannya sudah firm dan signifikan, maka return (imbal hasil) dari invetasi di AS akan jadi lebih menarik," paparnya.[ian/jpn]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA