Jaga Stabilitas Pangan, Kementan Terus Optimalisasi Lahan Rawa

Konfrontasi - Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan optimasi lahan rawa (Opla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel) untuk menjaga ketersediaan ketahanan pangan.

Program itu sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo agar melakukan upaya peningkatan produksi pangan nasional pasca Covid-19.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyatakan siap membantu program opla untuk menjaga ketersediaan ketahanan pangan Indonesia, di tengah pertumbuhan penduduk yang semakin cepat.

Namun demikian, Kementerian Pertanian akan berfokus pada 164.000 hektare (ha) lahan yang digunakan saat ini atau eksisting sebagai tahap awal.

"Karena lahan tersebut memang existing sudah bisa kita lakukan intervensi dalam waktu atau agenda secepatnya,” ujar Mentan SYL.

Menurut dia, hal ini dilakukan sambil menunggu pematangan lahan sesuai yang direncanakan oleh Menteri Koordinasi (Menko) perekonomian sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo untuk lahan di atas 250 - 300 ribu ha.

SYL juga telah menyiapkan program intensifikasi lahan rawa yang sudah ada, agar produktivitas dan indeks pertanamannya naik.

Hal itu disampaikan oleh Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy, Minggu (24/05/2020).

"Selain itu juga melakukan kegiatan ekstensifikasi atau cetak sawah baru serta terus mengenjot pemanfaatan cetak sawah di tahun tahun sebelumnya," tambah Sarwo Edhy.

Pada kesempatan itu, ia mengatakan, lahan rawa di Sumatera Selatan seluas 235.351 ha seluruhnya bisa dilakukan intensifikasi.

"Sedangkan di Kalimantan Tengah terdapat lahan rawa seluas 198.204 Ha, seluas 119.062 Ha bisa dilakukan intensifikasi," sambungnya.

Ia mengatakan, Kalteng diharapkan bisa mencetak sawah baru seluas 79.142ha dari kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan rawa ini, sehingga diperkirakan bisa ada tambahan produksi padi sekitar 2,8 juta ton.

"Perbaikan sarana dan prasarana merupakan salah satu fokus program optimasi lahan rawa. Termasuk, perbaikan infrastruktur saluran air ke sawah serta ekstensifikasi lahan melalui cetak sawah baru," katanya.

Namun demikian, ia mengaku terdapat banyak kendala dalam peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas lahan rawa.

Kendala tersebut seperti kesuburan lahan yang rendah dan kemasaman tanah yang tinggi, serta rezim air yang fluktuatif atau tidak stabil.

"Optimasi lahan rawa pertanian dilaksanakan dalam rangka perbaikan infrastruktur lahan dan air dengan prioritas pada kegiatan perbaikan tata air mikro seperti rehabilitasi atau pembangunan pintu-pintu air," katanya.

Selain itu, imbuh dia, perbaikan dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas atau kesuburan lahan rawa tersebut.

Dengan demikian, melalui kegiatan Intensifikasi dan ekstensifikasi lahan rawa melalui optimasi lahan dan cetak sawah baru harapannya sawah-sawah rawa bisa ditanami sepanjang tahun sebanyak dua kali bahkan lebih

"Selain itu juga diharapkan luas baku lahan sawah dapat terus bertambah untuk menjaga produksi pangan," ujarnya.

Menurut dia, pencapaian keberhasilan program tersbut perlu dilakukan sinergitas atau kerjasama antar semua pihak.

Dengan demikian, kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan tujuan utama dalam menyediakan stok pangan nasional dapat terwujud. (kcm/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...