IHSG Diyakini Kembali Menguat pada Februari

Pengunjung menggunakan ponsel memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Jakarta, Jumat (31/1/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

 

KONFRONTASI -  Meskipun mengalami pelemahan sepanjang Januari 2020, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan kembali menembus angka 6.000 pada Februari.

Menurut Kepala Riset Kresna Sekuritas Robertus Yanuar selain kekhawatiran terhadap virus Corona, ketidakpastian pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan urusan Brexit juga turut memainkan peran dalam anjloknya IHSG.

“Sentimen negatif ini juga ditambah dengan terdepaknya saham-saham bluechip seperti INDY,MEDC, TPIA, ITMG, dan JSMR dari indeks LQ45 dan IDX30,” kata Robertus.

Pada Februari, Robertus mengatakan indeks berpotensi rebound untuk menguji resisten pada tingkat 6.000 hingga 6.030. Penguatan ini ditopang oleh proyeksi inflasi Indonesia pada Januari 2020 yang diperkirakan masih stabil di kisaran 3 persen year-on-year.

Selain itu, pada 5 Februari mendatang akan diumumkan data pertumbuhan GDP kuartal IV-2019 yang diperkirakan masih di kisaran 5 persen year-on-year.

Lebih lanjut, pernyataan BI terkait kesiapan untuk melakukan intervensi nilai tukar Rupiah apabila diperlukan akan menjadi sentiment positif tambahan bagi naiknya IHSG. Hal ini ditambah dengan kenaikan peringkat kredit Indonesia versi Japan Credit Rating (JCR) menjadi BBB+.

“Apabila masih melanjutkan pelemahan, saya perkirakan nilai saham mendekati Support pada level 5.880 sampai 5.850,” tuturnya.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 1,94 persen atau 117,54 poin ke level 5.940,05 dari level penutupan perdagangan sebelumny. Pada perdagangan Kamis (30/1/2020), IHSG menutup pergerakannya di level 6.057,60 juga dengan koreksi cukup tajam sebesar 0,91 persen atau 55,45 poin.

Sebelum terguling dari level 6.000, indeks sempat rebound ke zona hijau dengan dibuka naik 0,31 persen atau 18,86 poin di posisi 6.076,46 pada Jumat pagi. Sepanjang hari Jumat, IHSG bergerak pada kisaran 5.937,02-6.078,93.

Seluruh sembilan sektor menetap di wilayah negatif pada akhir perdagangan, dipimpin sektor aneka industri (-3,32 persen), disusul sektor finansial (-2,35 persen) dan barang konsumsi (2,1 persen).(Jft/Bisnis)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA