Ekonomi Mandeg, Singapura Berlakukan Lagi Kebijakan Krisis 2008

SINGAPURA-Otoritas Moneter Singapura (MAS) secara mengejutkan memberlakukan kebijakan moneter yang sama dengan ketika terjadi krisis keuangan global tahun 2008 lalu.

Kebijakan ini diambil lantaran pertumbuhan ekonomi Singapura stagnan. MAS beralih ke kebijakan apresiasi nol persen terhadap nilai tukar dollar Singapura.

Kebijakan ini diumumkan dua hari setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan risiko guncangan negatif terhadap perekonomian dunia.

"MAS memberikan pesan yang kuat dengan mengembalikan kebijakan ke pasca Krisis Keuangan Global. Kebijakan yang mengejutkan ini mengindikaaikan outlook yang suram untuk perdagangan regional," kata Sean Callow, currecy strategist di Westpac Banking Corp, Sydney, Australia seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (15/4/2016).

Sebagai pusat keuangan, Singapura berdampak langsung terhadap efek pelemahan global dan perlambatan ekonomi China.

Kebijakan monetary easing menyusul ekspansi anggaran yang diumumkan Menteri Keuangan Heng Swee Keat bulan lalu, mengindikasikan pandangan otoritas terhadap perlambatan, sejalan dengan terkontraksinya bisnis dan pertumbuhan pinjaman bank.

MAS menyatakan, ekonomi Singapura diproyeksikan berekspansi melambat pada 2016. Inflasi inti juga naik secara gradual sepanjang 2016 dibandingkan antisipasi sebelumnya.

"Tampaknya Singapura menggunakan kebijakan fiskal dan nilai tukar untuk menangani situasi. Kita tampaknya belum berada di akhir siklus pelonggaran," ungkap Weiwen Ng, ekonom Australia & New Zealand Banking Group Ltd.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...