2 April 2020

Ekonom: Pelaku Pasar Tak Percaya dengan Cara Pemerintah Atasi Corona

KONFRONTASI-Ekonom Senior Indef Drajad Wibowo menyampaikan pandangannya terkait dengan babak belurnya ekonomi Indonesia saat ini akibat penyebaran wabah virus corona atau covid 19.

Menurut Drajad begitu ia disapa tanpa adanya wabah covid 19 pun ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh di bawah 5%.

“Itu saat corona baru melanda Cina. Saya sendiri pernah sebutkan hanya 4,3-4,8%. Bagaimana jika ada wabah? Entahlah. Mudah-mudahan tidak,” ungkap Drajad kepada KedaiPena.Com, Sabtu, (21/3/2020).

Meski demikian, Drajad menilai, semakin terpuruknya, ekonomi Indonesia hingga pasca ada wabah virus corona menunjukkan bahwa pelaku pasar tidak percaya dengan cara yang ditempuh pemerintah Indonesia dalam mencegah atau menangani wabah.

“Akibatnya, mereka berspekulasi sangat negatif terhadap ekonomi Indonesia. Cina yang begitu kuat ekonominya saja merosot drastis karena corona,” ungkap Drajad.

Dengan situasi seperti itu, tegas Drajad, secara alami investor asing di pasar keuangan Indonesia kabur. Para investor akan melakukan flight to safety, yakni kabur mencari tempat aman.

“Begitu asing kabur, pelaku domestik ikut-ikutan, menimbulkan efek spiral,” tegas Politikus PAN ini.

Dengan kondisi demikian, Drajad menegaskan, agar sebaiknya pemerintah Indonesia dapat mengambil prioritas yang benar.

“Yaitu, cegah wabah corona dulu. Ekonomi menyusul kemudian, ” tegas Drajad.

Untuk diketahui, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan wabah virus corona ini benar-benar memukul perekonomian. Bahkan skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di posisi 0%.

“Jadi kami di Kemenkeu melakukan berbagai skenario, katakanlah covid-nya berapa lama, berapa bulan dan kalau kemungkinan terjadinya pergerakan yang dipersempit atau bahkan sampai lockdown, juga kami membuat skenario,” kata Sri Mulyani setelah Rapat Terbatas dengan Presiden Jokowi melalui video conference, Jumat (20/3/20).

Indonesia sendiri saat ini dihantam persoalan ekonomi yang bertubi-tubi. Utang pemerintah pusat hingga Februari 2020 sebesar Rp 4.948,18 triliun.

Di era rezim pemerintahan Jokowi sendiri nilai tukar rupiah terhadap dolar mencatat rekor terendah sejak 1998 yakni di angka Rp16.000.(mr/kedaip)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...