Ekonom Dorong Maksimalkan Potensi Pajak Selain Cukai Rokok

Konfrontasi - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Vid Adrison mengatakan bahwa pemerintah harus memanfaatkan sumber pajak lain selain cukai, termasuk dari cukai rokok.

Hal itu diungkap kepala Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Vid Edison dalam diskusi virtual "Pandemi, Harga Cukai, dan Naik Perokok Anak", Sabtu (5/9/2020).

Menurut Vid, fakta pertama bahwa merokok berbahaya sehingga konsumsi harus dikendalikan. Kemudian, fakta kedua adalah bahwa revenues dari cukai itu besar sekali.

Nah, Vid mengatakan, kalau seandainya mau pro pengendalian, berimplikasi pada revenues. Sebaliknya, kalau pro revenues pasti implikasinya pada pengendalian.

Namun, Vid menjelaskan sebetulnya ada sesuatu yang salah bila dilihat dari aspek lain,  tax revenues Indonesia rendah yakni 9 persen tax to GDP ratio. Menurut Vid, implikasinya adalah ketika penerimaan dari sumber lain rendah maka pemerintah akan memanfaatkan dari cukai.'

"Padahal sebetulnya filosopi cukai itu adalah pengendalian bukan untuk revenue," tegas Vid. "Sekarang pertanyaannya kenapa di negara lain itu bisa berhasil? Sederhana, karena tax revenues mereka tinggi," kata Vid.

Jadi, Vid menegaskan, selama tax revenues rendah, maka pasti tidak akan selesai pro dan kontra apakah pro pengendalian atau revenues. "Jujur,  tidak akan selesai," tegasnya.

Ia mengatakan bahwa di negara lain kontribusi cukai terhadap revenues kecil. Artinya, kata dia, negara-negara tersebut memanfaatkan sumber lain sehingga kebijakan cukainya lebih ke arah pengendalian.

"Jadi, selama tidak clear cukai ini mau ke arah mana, dan selama revenue sumber lain rendah, saya masih menganggap ini bakal terus-terusan berulang," kata Vid.

Lebih lanjut Vid menjelaskan bahwa yang paling dominan untuk mengurangi konsumsi rokok sebetulnya adalah harga. Menurut dia, harga bisa dipengaruhi dua hal yakni pajak dan cukai, serta harga minimum.

Vid mengatakan Indonesia kebetulan memiliki sistem paling kompleks di dunia, karena struktur cukainya terdiri dari empat komponen.

Yakni, jenis produksi apakah buatan tangan atau mesin. Kedua, golongan produksi apakah masuk di atas III atau di bawahnya. Ketiga, adalah rasa yakni kretek atau rokok putih. Keempat harga jual eceran atau HJE.

"Jadi kompleks, superkompleks. Di negara yang sudah lebih ke arah pengendalian, itu sistem cukainya sederhana," kata Vid.

Menurut Vid, struktur yang paling bagus adalah spesifik dan simple. "Kita, sudah spesifik tetapi kompleks," tegasnya.

Dia menambahkan struktur lebih simple dan spesifik menguntungkan revenues dan pengendalian. Namun, lanjut dia tentu juga dengan syarat revenues dari sumber pajak lain harus bagus. Kalau revenues dari yang lain tidak bagus, di ujung-ujung tahun, pasti akan menggenjot cukai.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...