21 November 2017

Dirut Ungkap 7-Eleven Tutup

Konfrontasi - Manajemen PT Modern Internasional (MDRN) mengungkapkan bahwa meruginya 7-Eleven (Sevel) disebabkan oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Merosotnya pendapatan 7-Eleven berujung penutupan seluruh gerai waralaba yang berdiri sejak 2009 ini.

Direktur Operasional Modern Sevel Indonesia Ivan Budiman mengungkapkan adanya kesalahan strategi bisnis dalam mengembangkan 7-Eleven. Ekspansi gerai 7-Eleven diakui perseroan terlalu cepat di awal, di mana sebagian besar kebutuhan ekspansi tersebut dibiayai oleh pinjaman.

"Kewajiban pembayaran bunga dan pokok pinjaman yang signifikan mengganggu modal kerja yang dapat digunakan untuk operasi bisnis 7-Eleven," terang dia dalam paparan publik di Jakarta, Jumat (14/7/2017).

Pelemahan daya beli masyarakat yang berkelanjutan, ujar Ivan, menjadi faktor eksternal yang menekan pendapatan 7-Eleven. Kecenderungan ini mulai tampak sejak 2015 hingga 2016 dan awal 2017.

Perlambatan pertumbuhan bisnis retail, dikatakan Ivan, juga menjadi salah satu kendala dalam pengembangan bisnis 7-Eleven. "Hal ini semakin diperparah dengan adanya pelarangan penjualan minuman beralkohol (minol) di gerai-gerai minimarket yang efektif berlaku per April 2015," terang dia.

Sebagai catatan, pada kuartal I-2017, Modern Internasional memiliki kewajiban sebesar Rp1,38 triliun. Terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar Rp1,07 triliun dan jangka panjang sebanyak Rp305 miliar.

Laba dan pendapatan perseroan juga ikut tergerus. Pada kuartal I-2017, Modern Internasional mencatat rugi sebesar Rp447 miliar meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp21,31 miliar. Penjualan bersih turun menjadi Rp138,62 dari sebesar Rp220,66 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. (oke/mg)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...