8 April 2020

Dengan Bijak dan Tenang, Menko Rizal Ramli Tak Mau Lagi Komentari Pembelian Airbus oleh Meneg BUMN Rini Soemarno

KONFRONTASI- Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli tak mau lagi mengomentari rencana PT Garuda Indonesia Tbk membeli Airbus A350. Ditemui usai menghadiri sidang tahunan MPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015), Rizal Ramli tak mau bersuara meski terus diberondong pertanyaan oleh wartawan.

"Saya tidak komentar," kata Rizal Ramli (RR)  dengan tenang. RR enggan berkomentar, apalagi publik dan media melihat respon Rini jelas dangkal, tidak berkualitas, asal bunyi dan mencoreng citra Kabinet Jokowi 

Pada Kamis kemarin, Rizal yang baru dilantik lantang bicara di media dan meminta agar PT Garuda Indonesia Tbk membatalkan penambahan pesawat. Dia mengaku telah menggagas pembatalan rencana pembelian pesawat Airbus A350 oleh Garuda Indonesia.

"Minggu lalu, saya ketemu Presiden Jokowi. Saya bilang, Mas, saya minta tolong layanan diperhatikan. Saya tidak ingin Garuda bangkrut lagi karena sebulan yang lalu beli pesawat dengan pinjaman 44,5 miliar dollar AS dari China Aviation Bank untuk beli pesawat Airbus A350 sebanyak 30 unit. Itu hanya cocok untuk Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa," ujar Rizal Ramli di Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis kemarin.

Menurut dia, rute internasional yang akan diterbangi oleh Garuda Indonesia tidak menguntungkan. Pasalnya, saat ini, maskapai di kawasan ASEAN yang memiliki rute internasional ke Amerika Serikat dan Eropa, yaitu Singapore Airlines, punya kinerja keuangan yang kurang baik. Hal yang sama juga terjadi pada Garuda Indonesia. Menurut dia, rute internasional Garuda ke Eropa selalu membuat maskapai BUMN itu merugi karena tingkat keterisian penumpangnya hanya 30 persen. (baca: "Gebrakan" Rizal Ramli, Garuda Didesak Batalkan Pembelian Airbus A350)

Namun rencana Rizal ini langsung mendapat respons dari Menteri BUMN Rini Soemarno. Rini mengisyaratkan tidak boleh ada pihak yang mencampuri urusan bisnis PT Garuda Indonesia Tbk, selain Menko Perekonomian, dengan posisi bahwa Kementerian Keuangan bertindak selaku pemegang saham perusahaan milik negara, dan Kementerian BUMN sebagai kuasa pemegang saham.

"BUMN itu (Garuda) jelas di bawah Kemenko Perekonomian, bukan di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Jadi, jangan ada yang mencampuri Garuda di luar Kemenko Perekonomian," kata Rini. (baca: Menteri Rini Larang Pihak Lain Intervensi Garuda, Termasuk Menko Kemaritiman.)

Akhirnya, karena terus didesak oleh wartawan mengenai polemik ini, asisten Rizal sampai turun tangan. Salah satu asistennya mencoba menjauhkan Rizal dari wartawan yang terus diberondong pertanyaan. "Maaf ya mas, Bapak memang sedang tidak mau berkomentar. Nanti akan ada konferensi pers," ucap asisten itu dengan maklum dan mahfum

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Masardi menuding Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno gagal paham. Ini terkait respon Rini yang keberatan atas kritikan Menko Maritim, Rizal Ramli.

Rizal dikabarkan tak sepakat dengan rencana pembelian pesawat Airbus A350 oleh Garuda Indonesia.

"Rini Soemarno gagal paham soal bisnis Garuda. Dalam masalah bisnis, dengan memaksakan Garuda membeli Airbus A350, maka Rini memaksa Garuda melakukan pemborosan," kata Adhie Massardi, Jumat (14/10/2015).

Pesawat seperti itu, tambah Adhie, tidak dibutuhkan Garuda. Pesawat jenis itu hanya cocok untuk rute jarak jauh seperti Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa. Nah, menurut Adhie, Garuda lebih membutuhkan pesawat yang lebih kecil, yang cocok melayani domestik dan regional.

Adhie juga sepakat dengan pernyataan Rizal Ramli yang tidak ingin Garuda bangkrut lagi. Sebab, sebulan lalu membeli pesawat dengan pinjaman 44,5 miliar dollar AS dari China Aviation Bank. Uang ini dialokasikan untuk membeli pesawat Airbus A350 sebanyak 30 unit. "Kalau Rini memaksakan kehendak, kemungkinan Garuda merugi semakin besar," tegas dia.

Selain gagal paham soal bisnis Garuda, Menteri Badan Usaha Milik Negara(BUMN) Rini Soemarno juga gagal paham soal urusan pemerintahan. "Ini bukti bahwa Rini Soemarno tidak paham soal ketatanegaraan dan pemerintahan," ujar Juru Bicara Presiden era Abdurrahman Wahid ini menambahkan.

Ditegaskan, mungkin Rini lupa bahwa secara teknis, Garuda berada memiliki garis koordinasi dengen Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Nah, dalam konteks poros maritim Presiden Joko Widodo, Kemenhub berada di bawah koordinasi Menko Maritim.

(k)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...