21 June 2018

Darmin Nasution: Pertumbuhan Ekonomi 2019 Ditargetkan 5,4%-5,8%

KONFRONTASI -  Pemerintah yakin tekanan terhadap perekonomian yang terjadi tahun ini akan berakhir pada tahun depan. Dengan perkiraan tersebut, pemerintah berani mematok pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sebesar 5,4%-5,8%. Angka itu lebih tinggi dari target APBN 2018.

Kisaran target pertumbuhan ekonomi tersebut termuat dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2019 yang disampaikan pemerintah ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jumat (18/5).

Dalam dokumen KEM dan PPKF 2019, pemerintah juga menargetkan kurs rupiah Rp 13.700–14.000 per dollar Amerika Serikat (AS), harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 60-US$ 70 per barel (lihat tabel). Target kurs 2019 tersebut memperhatikan kurs rupiah yang menurut data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat (18/5) sebesar Rp 14.107 per dollar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan lebih tinggi karena sejalan dengan masuknya investasi yang lebih banyak. Hal sama terlihat pada kuartal I-2018 dimana pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 7,95%. PMTB menjadi motor ekonomi kuartal I-2018 sehingga bisa tumbuh 5,06%.

Pertumbuhan investasi itu tertinggi sejak beberapa tahun belakangan. "PDB kita menurut pengeluaran masih tinggi karena ada PMTB yang makin tinggi. Itu artinya investasi makin tinggi realisasinya," kata Darmin, Jumat (18/5).

Darmin yakin investasi akan mengisi sektor-sektor yang berorientasi ekspor dan subtitusi impor. "Industri-industri itu yang mendapat tax holiday," katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani menilai, pemerintah terlalu optimistis menetapkan target pertumbuhan ekonomi pada tahun depan. Pasalnya, investor masih menunggu dan memastikan stabilitas politik usai pemilihan presiden tahun depan. "Menurut kami pertumbuhan ekonomi pada tahun depan masih akan ada dikisaran 5,3%," katanya, Minggu (20/5).

Ketua Apindo Bidang Pertanian Anton J Supit mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa diraih jika iklim investasi terutama di sektor pertanian dan kelautan kondusif. Namun, Anton menilai, kondisi kedua sektor tersebut pada tahun depan tak akan banyak berubah dibandingkan dengan tahun ini.

"Selama pemerintah masih menerapkan business as usual, pertumbuhan ekonomi 2019 tak akan jauh berbeda dengan tahun ini sekitar 5%. Sebab, pertumbuhan ekonomi masih didominasi konsumsi rumah tangga," katanya.(Jft/Kontan)

Category: 
Loading...