Dampak Konflik Iran-AS, Investor di Negara Berkembang Main Aman

Konfrontasi - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dikhawatirkan akan berdampak pada perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satunya, berdampak pada volatilitas yang membahayakan ekonomi dalam jangka panjang.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, dengan adanya konflik ini, investor akan takut untuk berinvestasi ke pasar negara berkembang. Sehingga, ada kecenderungan untuk bermain aman.

"Misalnya dengan membeli dolar atau emas. Harga emas dunia telah naik 2,19 persen dibandingkan tahun lalu dan Dollar index menguat tipis 0,51 persen dalam sepekan terakhir," kata Bhima saat dihubungi seperti dilansir Merdeka.com, Minggu (5/1/2019).

Dia menjelaskan, dengan adanya dampak ke volatilitas, maka IHSG dikhawatirkan akan terkoreksi jika kondisi makin memanas.

Selain itu, harga emas dunia yang naik juga akan berpengaruh naiknya harga emas di Indonesia. Tak hanya itu, nilai tukar rupiah juga bisa melemah dengan adanya konflik tersebut.

Untuk mengantisipasi dampak dari konflik tersebut, Bhima menyarankan pemerintah untuk memastikan daya beli masyarakat terjaga dengan mendorong stimulus fiskal, khususnya kepada masyarakat masyarakat rentan miskin dan miskin.

Selain itu, pemerintah didorong untuk melakukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2020 agar asumsi makro, khususnya harga minyak disesuaikan dan alokasi subsidi BBM listrik dan LPG 3 kilogram (kg) bisa ditambah.

"Mendorong korporasi yang meminjam utang dengan valas (valuta asing) agar melakukan lindung nilai atau hedging. Antisipasi pelemahan kurs Rupiah," tandasnya. (mrk/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA