Bursa Asia dibuka mixed pada awal perdagangan Jumat (20/11)

KONFRONTASI -    Bursa Asia dibuka bervariasi dengan mayoritas indeks melemah pada awal perdagangan Jumat (20/11). Pukul 08.15 WIB, indeks Nikkei 225 turun 133,27 poin atau 0,52% ke 25.500,61, Taiex turun 50,86 poin atau 0,37% ke 13.722,43, Kospi turun 1,48 poin atau 0,06% ke 2.546,65, ASX 200 naik 11,88 poin atau 0,18% ke 6.559,10, Straits Times naik 11,34 poin atau 0,44% ke 2.788,98 dan FTSE Malaysia turun 0,88 poin atau 0,06% ke 1.582,75.

Pergerakan bursa Asia berbeda dengan Wall Street yang ditutup menguat setelah Pemimpin Minoritas Senat Demokrat Chuck Schumer mengatakan Pemimpin Mayoritas Partai Republik Mitch McConnell telah setuju untuk memulai kembali pembicaraan untuk menyusun paket stimulus fiskal baru.


Namun, sentimen itu memudar setelah Menteri Keuangan Mnuchin kemudian meminta Federal Reserve untuk mengembalikan dana yang dialokasikan berdasarkan tindakan bantuan pandemi Maret untuk pinjaman darurat kepada bisnis, nirlaba, dan pemerintah lokal.

Itu akan menandai berakhirnya sebagian besar program respons krisis yang dianggap penting oleh Fed untuk menjaga stabilitas ekonomi pada 31 Desember.

"Gedung Putih ingin menarik kembali bagian dana yang tidak terpakai sehingga Kongres dapat membelanjakan dananya di tempat lain, sementara The Fed mendorong kembali," kata Stephen Innes, kepala strategi pasar Global di axi seperti dikutip Reuters. 

"Memang, ini tidak membantu tarik-menarik tarik ulur seputar narasi pasar jangka pendek versus jangka panjang pada saat penting bahwa semua tingkat pemerintah, termasuk The Fed, setidaknya berpura-pura sebagai front persatuan."

Sentimen investor juga diwarnai oleh data yang menunjukkan Covid-19 rawat inap di seluruh AS melonjak hampir 50% dalam dua minggu terakhir, mengancam pemulihan ekonomi terbesar dunia ketika kota dan negara bagian mulai memberlakukan lockdown.

"Paket stimulus yang berarti akan membantu perusahaan kecil, ekonomi yang mendasari, serta pengangguran dan orang yang paling membutuhkan," kata Thomas Hayes, ketua Great Hill Capital di New York. 

"Dan mungkin ada kecenderungan yang lebih kecil bagi kota-kota untuk tutup."(Jft/KONTAN)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...