22 July 2018

Bulog NTB Serap Bawang Merah Petani

KONFRONTASI-Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Nusa Tenggara Barat mulai membeli bawang merah petani Kabupaten Bima sebagai bagian dari bisnis di luar tugas utama menyerap beras untuk stok pangan nasional.

Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional Bima R Guna Dharma, di Mataram, Minggu (21/6), mengatakan pembelian bawang merah juga bertujuan menjaga kestabilan harga komoditas tersebut, sehingga tidak merugikan petani pada saat panen raya.

"Menteri Pertanian menginginkan agar Bulog berperan dalam menjaga kestabilan harga bawang merah pada saat panen raya," katanya.

Menurut dia, bawang merah yang banyak diproduksi oleh petani NTB selama ini diserap oleh para pengusaha, namun terkadang harga tidak sesuai harapan petani, terutama ketika musim panen raya. Namun di sisi lain, harga bawang merah di tingkat pedagang pengecer relatif mahal, sehingga sering memicu inflasi di NTB, yang dianggap kelebihan produksi komoditas tersebut.

"Makanya Bulog diminta berperan agar bisa memutus rantai pemasaran, sehingga disparitas harga di tingkat petani dengan pedagang pengecer tidak terlalu jauh," ujarnya. Awang sapaan akrab Kasubdivre Bulog Bima, menyebutkan pihaknya membeli hasil panen petani dengan harga paling tinggi Rp 14.000 per kilogram.

Upaya penyerapan dibantu langsung oleh pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat yang sudah diinstruksikan Presiden Joko Widodo, mengawal petani dalam memproduksi pangan.

"Kami berupaya membeli sebanyak-banyaknya pada saat musim panen raya, sehingga ada persaingan dengan para tengkulak yang sering membeli dengan harga murah, lalu menjual dengan harga mahal," ucap Awang.

Untuk proses penyimpanan, Awang mengaku tidak terlalu khawatir karena memiliki gudang yang tersebar di Kabupaten Bima dan Dompu.

Bawang yang sudah dibeli tidak akan disimpan lama di gudang, namun akan didistribusikan kembali ke pasaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama di daerah nonproduksi, seperti DKI Jakarta. Pemasaran dilakukan bekerja sama dengan Bulog antar daerah.

"Untuk memperlancar proses distribusi antarpulau, kami berkoordinasi dengan Bulog di provinsi yang menjadi tujuan distribusi," uarnya.

NTB merupakan salah satu sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia, sehingga mampu berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat produksi bawang merah di provinsi ini pada 2013, sebanyak 101.628 ton dengan total luas panen mencapai 9.277 hektare (ha). Angka produksi tersebut lebih tinggi dibanding musim tanam 2012 sebanyak 100.989 ton dengan total luas lahan panen 12.333 ha.

Sentra produksi terbesar berada di Kabupaten Bima dengan volume produksi pada 2013 mencapai 80.218 ton, disusul Kabupaten Sumbawa 11.885 ton, Lombok Timur7.823 ton, Dompu 1.583 ton, Lombok Utara 55 ton dan Kota Bima 35 ton.[mr/bst]

Category: 
Loading...