Bukan Hanya Singapura, Virus Corona Hantam Ekonomi Batam, Karyawan Terancam Dirumahkan

KONFRONTASI -   Bukan hanya Singapura, dampak virus Corona juga menghantam perekonomian Batam.

Khusus di Batam, warga Batam juga sedang mempersoalkan PMK 199 Tahun 2019.

Dampak virus Corona memang merambah ke ekonomi.

Dolar Singapura terperosok bahkan diramalkan akan mencapai level terendah sejak 2017.

Sejumlah perusahaan  di Batam kehabisan bahan baku produksi.

Selain itu, tenaga ahli yang berasal dari China tidak bisa datang sehingga kegaiatan produksi terhenti.

Demikan disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Dinaker) Kota Batam Rudi Sakyakirti dihadapan sejumlah pemimpin perusahaan di sela-sela kegiatan Costumer Relationship Management (CRM) yang digelar BPJAMSOSTEK Batam Nagoya di Harmoni One Hotel, Rabu (19/2/2020).

Rudi menyebutkan, jika bahan baku hingga akhir Februari 2020 tidak ada, maka sejumlah perusahaan di Batam terpaksa merumahkan karyawan.

"Ada teman-teman perusahaan menyampaikan ke saya, kalau dirumahkan gaji tidak dibayar apa bisa. Saya jawab tidak boleh, ya harus ikuti peraturan yang ada," kata Rudi.

Tidak adanya bahan baku ini, kata Rudi karena transportasi tidak ada dari China.


Semua ditutup setelah virus corona tersebar ke mana-mana.

"Jika kondisi ini terus terjadi, maka dikhawatirkan banyak perusahaan merumahkan karyawannya karena tidak ada kegiatan produksi," ujarnya.

Menurut Rudi, ada salah satu perusahaan produksi rokok yang tidak bisa menjalankan aktivitasnya.

Hal ini dikarenakan tenaga ahli yang menjalankan mesin produksi tidak ada.

"Tenaga ahlinya dari China yang langsung menangani atau memegang mesin produksi rokok yang ada di perusahaan di wilayah Batam Center. Karena tidak bisa datang ke Batam karena ketiadaan transportasi dari China, maka perusahaan tersebut tidak bisa menjalankan aktivitas produksi," ujarnya.

Sebelumnya, kata Rudi, Disnaker Kota Batam turun ke perusahaan untuk mengecek kondisi kesehatan tenaga kerja asing. Pemeriksaan kesehatan ini terkait dengan penyebaran penyakit pneumonia akibat virus corona yang sedang melanda sejumlah negara.

“Kita turun ini menindaklanjuti arahan dari Wali Kota Batam, untuk mengecek kesehatan tenaga kerja asing (TKA) yang ada di perusahaan-perusahaan,” kata Rudi.

Menurut Rudi, seluruh TKA yang dikunjungi dalam kondisi sehat. Selanjutnya, Disnaker juga memanggil seluruh Human Resources Department (HRD) perusahaan yang mempekerjakan TKA asal Tiongkok. Tujuannya untuk memberikan pengarahan seputar kesehatan pekerja ini.

Singapura turunkan target ekonomi

Singapura menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 menjadi di kisaran -0,5 persen dan 1,5 persen tahun ini.

Singapura merupakan negara kedua dengan jumlah kasus virus corona terbesar setelah China. Kementerian Perdagangan dan Industri setempat sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Singapura akan ada di kisaran 0,5 persen dan 2,5 persen.

 

Per 2019 lalu, perekonomian Singapura tumbuh 1 persen (yoy) di kuartal IV. Angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2018 yang sebesar 0,8 persen.

Adapun untuk keseluruhan tahun 2019, Negeri Singa mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,7 persen.

Angka tersebut merupakan rekor pertumbuhan ekonomi Singapura yang terlemah sejak 2009. Kementerian Perdagangan dan Industri setempat menilai hambatan utama pada kuartal Oktober-Desember adalah manufaktur, yang menyusut 2,3 persen dari tahun lalu.

Adapun terkait virus corona, pihak kementerian menilai terdapat beberapa sektor perekonomian yang bakal terdampak seperti manufaktur dan penjualan grosir, transportasi dan pariwisata sekaligus permintaan domestik yang merosot lantaran orang-orang memutuskan untuk mengurangi aktifitas seperti belanja.

"Karena situasi COVID-19 masih berkembang, kementerian akan terus memantau perkembangan dan dampaknya terhadap ekonomi Singapura secara erat," ujar mereka.

Ancaman resesi di Singapura menimbulkan kekhawatiran dari para pengusaha Batam.

Mengingat, perekonomian Kota Batam sangat tergantung dengan Singapura.

Wakil Koordinator HKI Kepri Tjaw Hoeing menegaskan kondisi ini perlu menjadi perhatian karena ekspor terbesar Provinsi Kepri ini berasal dari Singapura.

Sehingga, jika di ibaratkan Singapura batuk saja, maka ekonomi Kepri juga terguncang sedikit.

"Kita pun berharap kasus virus corona ini cepat terselesaikan," ujar Tjaw Hoeing, Selasa (18/2/2020).

 

Sama halnya dengan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid.

Ia mengatakan jika Singapura mengalami perlambatan secara signifikan secara tidak langsung bisa dibilang cepat atau lambat akan membuat ekonomi Batam terimbas.

Bahkan kemungkinan akan lebih dalam daripada perlambatan yang dialami oleh Singapura.

"Itu yang kita khawatirkan ya. Karena perekonomian Batam sangat tergantung dengan Singapura," ujarnya.

Ia menambahkan ekonomi Batam, digerakkan oleh investasi yang sebagian besarnya berasal dari Singapura.

Jika Singapura mengalami perlambatan ekonomi, maka permintaan produk dari Batam juga bisa dipastikan akan menurun.

"Akibatnya bisa mengancam perekonomian Batam untuk jangka pendek dan menengah," tuturnya.

Berdasarkan data BPS Kepri, posisi ekspor Kepri terbesar ke Singapura, China lalu Amerika. Tercatat data per Desember 2019, Tiongkok berkontribusi 11,70 persen terhadap impor Kepri. Secara keseluruhan, impor dari Tiongkok senilai 1.194,61 juta dolar Amerika (1,1 miliar dolar Amerika) di 2019.

Memang masih kalah jauh dari Singapura yang merupakan mitra utama Kepri dengan nilai impor capai 4.616,61 juta dolar Amerika (4,6 miliar dolar Amerika).

"Tak ada alternatif lain karena susah. Singapura itu Center yang terbesar," jelasnya.

PMK 199 Tahun 2019

Polemik berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 199 Tahun 2019 di Kota Batam terus berlanjut.

Selain pengusaha merugi akibatnya, beberapa karyawan juga mengeluh.

Kekhawatiran paling besar sebagian mereka tak lain adalah takut terkena pengurangan jumlah karyawan di tempatnya bekerja.

Seperti salah satu penuturan pekerja jasa pengiriman barang di Batam, Faisal.

"Omset perusahaan turun hampir di bawah 50 persen bang. Pasti berdampak ke kami-kami orang kecil ini," ungkapnya kepada Tribun Batam, Rabu (19/2/2020).

Bekerja di bidang jasa ekspedisi, Faisal mengaku pendapatan perusahaan tempatnya bekerja tergantung jumlah pengiriman barang tiap harinya.

"Biasa 1500 sehari, sekarang 700 bahkan turun jauh. Hari biasa lebih parah, hanya 300 bahkan di bawahnya. Ini kadang sesama kita saling curhat, siapa yang akan di-PHK nantinya," sambungnya.

Lanjutnya, beberapa perusahaan jasa pengiriman pun juga telah melakukan pengurangan. Bahkan diantaranya adalah perusahaan ternama.

"Banyak gerai tutup bang. Saya takut sekali, apalagi baru saja menikah. Tentu kebutuhan sudah bertambah bang, kalau masih lajang masih bisa kerja serabutan dulu," keluhnya.

Faisal mengakui, biasa sejak pagi telah sibuk mengemas atau membungkus barang yang akan dikirim. Namun dampak aturan PMK 199, hingga siang pun dirinya pernah hanya duduk termenung berharap ada orang yang akan mengirim barang ke luar daerah.

Darinya diketahui pula, banyak juga reseller besar telah pindah ke Jakarta untuk memudahkan bisnis yang dilakukan.(Jft/TribunBATAM)

 

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA