6 December 2019

Biang Kerok, Harga Gas Industri RI Lebih Mahal dari Malaysia

KONFRONTASI -   Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun tangan memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengecek harga gas industri yang menurutnya mahal hingga dikeluhkan dunia usaha.

Jokowi pun memastikan tak ada kenaikan harga gas industri. Hal itu mengonfirmasi bahwa PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN batal menaikkan harga gas per 1 November 2019 ini.

Benarkah harga gas industri di Indonesia mahal? Apa biang keroknya?

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menjelaskan bahwa harga gas industri di Indonesia relatif di tengah-tengah dibandingkan negara lainnya di Asia. Bila dibandingkan Malaysia memang Indonesia lebih mahal.

Harga gas industri Malaysia di hulu adalah US$ 4,5-6 sedangkan Indonesia US$ 6-8 per MMBTU. Lalu harga di pengguna, Malaysia US$ 7,5-8,21, Indonesia US$ 8-10 per MMBTU.

"Kalau dibandingkan negara-negara ASEAN, Malaysia memang lebih murah, di bawah sedikit," kata dia saat dihubungi detikcom, Jakarta, Senin (4/11/2019).

Namun harga gas industri di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan Singapura US$ 12,5-14,5 dan China US$ 15 per MMBTU di tingkat pengguna.

"Di Singapura harganya (di pengguna) itu sekitar US$ 12,5 per MMBTU, nah di China itu sekitar US$ 15," sebutnya.

Keterangan foto tidak tersedia.

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menilai ada dua penyebab harga gas industri di Indonesia mahal. Mahalnya harga gas industri sampai membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun tangan.

"Nah kalau itu masih dianggap mahal ya saya lihat ada dua penyebab ya, yang pertama harga itu kan ditentukan dari harga gas di hulu. Nah kemudian yang kedua itu ditentukan dengan biaya pengelolaan infrastruktur dan margin," kata dia saat dihubungi detikcom, Jakarta, Senin (4/11/2019).

Menurut dia harga gas industri di hulu memang masih relatif mahal, yaitu antara US$ 6 hingga US$ 8 per MMBTU. Sementara di Malaysia hanya US$ 4,5-6.

"Misalnya di sumur Jawa Barat ya, itu sekitar US$ 6,75, tapi sumur di Medan itu US$ 8,49. Nah ini memang beragam harganya tergantung lokasinya," sebutnya.

Faktor kedua yang mempengaruhi harga gas industri adalah ketersediaan pipa. Itu karena distribusinya harus melalui pipa. Sedangkan ketersediaan pipa di Indonesia masih kurang memadai.

Dia menyebut Indonesia yang sangat luas dengan sumber gas terpencar di beberapa daerah membutuhkan sekitar 18.500 km pipa gas. Sedangkan pipa yang ada, misalnya yang dioperasikan oleh PGN baru sekitar 9.300an km.

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi mengatakan harga gas cukup dipengaruhi biaya pengelolaan infrastruktur karena keterbatasan infrastruktur pipa gas yang dibutuhkan untuk menyalurkan gas bumi dari hulu hingga ke hilir.

"Nah solusinya saya kira harus ada tambahan pipa tadi," kata dia saat dihubungi detikcom, Jakarta, Senin (4/11/2019).

Dia mengatakan, PGN memiliki kontribusi yang paling besar dalam pembangunan kilang pipa gas yang dibiayai dari sumber dana internal perusahaan, tanpa bantuan dana dari APBN. Sementara nilai pembangunan pipa gas terbilang besar, pengembalian investasinya justru dalam jangka panjang dan berisiko tinggi.

Menurutnya, wajar jika PGN membebankan pengembalian investasi dalam penetapan harga dengan menaikkan harga jual dengan mempertimbangkan mahalnya pembangunan pipa gas.

Menurutnya pemerintah Indonesia bisa berkaca dari Malaysia yang memiliki harga gas industri lebih murah. Di negara tersebut, pembangunan pipa gas dibiayai pakai uang negara. Itu salah satu faktor harga gas bisa murah.

"Kalau pemerintah melarang PGN untuk menaikkan harga gas maka mestinya pemerintah mengalokasikan dana untuk bangun pipa tadi sehingga PGN tidak perlu mengalokasikan pengeluaran investasi tadi dalam penetapan harga jual," tambah dia.

Gambar mungkin berisi: 8 orang, orang tersenyum

Jokowi menyebut harga gas industri di Indonesia lebih mahal jika dibandingkan di negara lain. Dirinya pun meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengecek penyebabnya.

"Saya sudah menyampaikan kepada Menteri ESDM kemarin agar betul-betul yang namanya harga gas itu dilihat lagi. Beban-beban mana yang menyebabkan harga itu menjadi sebuah angka yang kalau dilihat oleh industri di negara-negara lain, harga kita ini terlalu mahal," kata Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (1/11/2019).

Menurut Mantan Walikota Solo itu bisa saja penyebab mahalnya harga gas industri karena harga sewa pipa dari sumur produksi ke kawasan industri, misalnya dari sumur gas di Dumai menuju Jawa.

"Apakah harga sewa pipa gas itu terlalu mahal? Bisa saja di situ. Karena data yang saya miliki, harga gas di offshore masih normal. Begitu ditarik ke industri, ditarik ke sebuah area ekonomi itu kok lebih mahal, ada di mana, makanya saya suruh cek," jelasnya.

Jokowi pun heran kenapa harga gas industri di Indonesia bisa sampai US$ 9-US$ 11 per MMBTU, sementara harga di offshore masih normal.

"Dilihat secara detail betul ini yang menyebabkan harganya kok sampai US$ 9 sampai US$ 11, dari mana. Hitung-hitungannya dari mana. Di offshore-nya harganya sekian kok setelah ke pengguna, ke user bisa jadi angkanya setinggi gitu," ungkapnya.(jft/Detik)

(Jft/Detik)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...