Sisi Lain Myanmar dan Rohingya yang Jarang Kita Tahu

KONFRONTASI -  Memahami Myanmar atau Rohingya sebenarnya tak selalu soal agama, karena agama menjadi isu yang sangat seksi guna kepentingan politik kekuasaan. Isu Rohingya diwarnai dengan foto-foto korban. Berita yang dibagikan sedemikian rupa menjadikan kita banal atas peniadaan nyawa orang lain.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan dalam ruangan

Kita diajarkan melihat keberutalan manusia antara satu dengan yg lainya, bahkan kita diajarkan menjadi pemarah. Hari ini dunia sedang menapaki zamanya, yakni zaman ultrakonsevatif, ruh zaman yang sangat mungkin penuh darah.

Gambar mungkin berisi: 4 orang

Banyak aspek yang perlu difahami agar tak mudah mengobral agama dalam melihat persoalan, salah satunya sebagaimana yang dijelaskan dalam buku berjudul Finding George Orwell in Burma oleh Emma Larkin:

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, luar ruangan dan air

In modern Burma, freedom is slavery, in the sense that “slavery” is unquestioned obedience to the military junta’s rule, which provides the “freedom.” Myanmar’s record of human rights abuses is among the most dismal in the world. Larkin makes clear the tools of enslavement on which the military relies: the distortion and haphazard application of laws (the “rubber band” is what Burmese call their law code); pervasive, unexplained censorship; outlawing or harassment of opposition parties; torture and jailing of political prisoners on the slightest pretext; forced unpaid public labor, including that by children; staged military-friendly demonstrations by government employees; the rewriting of history; systemic discrimination…

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri dan luar ruangan

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri dan makanan

(Jft/Islamico)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...