18 August 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (61

Episode 44

 

Melawan Belanda Hitam

 

Bagian Kedua

 44

 

Kutaraja yang pembagian penghuninya mengutamakan kelas kulit putih Eropa dan kulit berwarna di pinggiran kota  merupakan tipe kota baru di Aceh pada waktu itu. Berpuluh tahun lamanya kota Kutaraja menjadi pusat kegiatan militer Belanda. Pada beberapa bagian dari kota dibangun tangsi-tangsi/barak-barak militer dan tempat-tempat pemukiman orang-orang Belanda, yang secara fisik hingga sekarang sebagiannya masih dapat disaksikan di kota Banda Aceh. Ada Pendopo  di Kelurahan Peuniti, kecamatan Baiturrahman. Didirikkan pada titimangsa 1880, itulah kantor Gubernur Jenderal Van Heutsz dan siapapun yang menjabat sebagai penguasa tertinggi di seluruh Aceh waktu itu. Letnan Karel Van der Heijdeen membngun gedung itu dengan campuran bangunan local dan Belanda, Heijden memegang tongkat tertinggi sebagai komandan militer dan sipil Belanda di Aceh titimangsa 1877-1881. Tujuh tahun sebelum ia berkuasa di Aceh,  Van der heijden meresmikannya pada 1880 sebagai kantor gubernur Aceh

Peninggalan kaphe-kaphe Belanda berikutnya adalah sebuah gedung megah  yang sekarang menjadi gedung Gedung Baperis  serta Angkatan 45. Letaknya di Peuniti, kecamatan Baiturrahman  yang didirikan pada titimangsa  1880. Inilah rumah pribadi  gubernur sipil militer Aceh, yaitu Letnan Jendral Karel Van der Heijden. Selain rumah pribadi, bagian lain dari gedung ini difungsikan sebagai gereja.

Peninggalan ketiga adalah Mesjid Raya Baiturrahman  berlokasi dikecamatan Baiturrahman, kelurahan kampung baru kota Banda Aceh. Mengapa disebut mesjid ini peninggalan Belanda? Padahal, 5 avad sebelumnya telah dibangun oleh Sultan Acehyang berkuasa di  Abad ke-13 , yaitu  Sultan Alaidin Mahmudsyah. Saat Jenderal Kohler tewas ditembak sniper Aceh, tak sampai setahun kemudian pada  titimangsa 1874, kaphe-kaphe Belanda  berhasil menguasai keraton dan mesjid terbesar di Kutaraja ini terbakar. Pemerintah yang berkuasa diKutaraja membangun kembali di titimangsa  1910. Sembilan tahun kemudian  gubernur Van Aken memperbesar mesjid Baiturrahman ini tepatnya pada titimangsa 1939, dan kubahnya dari satu ditambah dua,  menjadi 3 kubah. Inilah yang dimaksud mesjid peninggalan Belanda, karena pembangunannya dalam dua kali ditangani oleh pemerintah kaphe-kaphe Belanda.

Baik, kita tinggalkan dulu bangunan-bangunan peninggalan kaphe-kaphe Belanda di Kutaraja, sekarang kita fokus kepada bagaimana merosotnya moral marsose-marsose Belanda dalam medan perang Aceh yang sangat kejam dan berlaku hukum rimba yang sangat sadis dan sungguh mengerikan.  

Di sebuah medan tempur yang sengit, tiba-tiba hujan mortir bertaburan ditebar  si Letnan Jendral F. van der Veen seorang perwira di Korp Marchaussee. Dalam beberapa menit perang pun senyap, karena banyak mujahidin Aceh yang syahid, dan dalam senyap itu Mosselman memerintahkan pasukannnya yang masih kuat, untuk membawa seorang mujahidah Aceh  sebagai tawanan. Walaupun mujahidah itu  diperlakukan dengan sopan, tetap saja ia meronta-ronta ingin dilepaskan. Ia tak mau dipegang oleh serdadu-serdadu kafir laki-laki yang bukan muhrimnya.

“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Kau najis” lalu ia meludah kekiri dan kekanan, pertanda ia sangat jijik dengan laki-laki yang menawannya. Setiap muslim tidak melihat seorang kafir yang memerangi  mereka  sebagai makhluk manusia yang suci, baikhatimaupun fisiknya. Itulah sebabnya mulai dari Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Cut Meurah Intan , Pocut Baren. Ketika seseorang membisikkan kepada Cut Nyak Dhien yang sudah buta:”Cut menyerah sajakepada kaphe Belanda”Ujarnya.

Dengan sigap Cut Nyak Dhien menatapke arah suara:”Apa kau bilang? Takluk kepada kaphe ? Cis, najis, semoga Allah Subhanahu Wataala menjauhkan perbuatan yang sehina itu dari diriku,”

Begitulah, begitu tingginya muru’ah (harga) diri seorang wanita Aceh yang jangankan disentuh orang kafir,disentuh sesama Muslim yang byukan muhrim pun dianggap najis. Apalagi orang kafiryang menyentuh dirinya.  

Sementara di barisan marsose-marsose kaphe-kaphe Belanda, setiap tentara  pasukan kaphe-kaphe Belanda yang terdiri dari orang Ambon, Manado atau Jawa,Madura mereka  menahan hawa nafsunya. Namun apa yang terjadi ketika ia pulang ke bivaknya. Pecahlah ketegangan dimana sikap menahan diri dari keinginan seks yang membara kini siapapun yang ditemui di dalam bivak, ya perempuan yang ada di bivak langsung ia dekati dan ia gauli dengan buas. Tersebutlah  Belegur  punya istri dan ditarohnya di bivak. Tapi Belohy, tentara marasose kaphe-kaphe Belanda yang pulang dari bertempur sengit dua hari dua malam, dan ia pulang selamat, begitu sampai di bivak ia mendapatkan  Belena, istri Belegur sendirian. Maka dengan ganasnya ia langsung mendekap Belena, perempuan Ambon istri Belegur. Ketika Belegur pulang dan mendapatkan istrinya Belena main gila dengan sahabatnya di medan tempur, Belohy. Maka ia langsung mengeluarkan pistol dari sarangya. Tembakan menggelegar pecah di kesunyian siang itu, dan dua insane yang tak terikatpernikahan sah itu terluka parah. Belohy luka di tengkuk dan langsung mati di tempat. Sedangkan Belena, istri Belegur sekarat karena mengenai wajahnya dan tembus ke belakang kepalanya. Akhirnya dua insan yang main gila itu tewas di bivak yang berlumur darah. Belegur lari dan membiarkan  istri dan temannya jadi mayat yang tergeletak tak berdaya.

Mungkin itu adalah hukuman Tuhan kepada mereka dengan cari lain yang ditimpakan kepada serdadu-serdadu kaphe-kaphe Belanda, namun mereka tiada menyadari bahwa itu adalah kutukan Tuhan yang langsung dijatuhkan kepada tentara-tentara kaphe-kaphe Belanda. Sudah terlalu banyak kasus penembakan hanya gara-gara selingkuh, atau memang disebabkan perseteruan yang tak bisa didamaikan, seperti Abutay dan Aling. Akhirnya dua serdadu marsose itu baku tembak, bukannya baku dapa dan da makang (saling berjumpa dan makan). Kedua tentara kaphe Belanda asal Manado itu  tewas mengenaskan.  

Kehidupan tidak selamanya menunjukkan gejalayang sama, seperti dua kali dua menjadi empat. Atau antara serdadu marsose Belanda saling bersahabat, membantu dan memperkuat persatuan di lapangan dalam melawan musuh. Kadang dalam pertempuran, antara sesama marsose itu saling  beradu otot dan lalu mengeluarkan pistolnya dan menembak temannya dengan tanpa piker panjang lagi. Nanti to rang mo lanjut ley, ujar seorang kepala peleton dari mando dengan logat Manadonya yang kental, terkait kematian dua marsose dari Manado, Abutay dan Aling.    Ketegangan dalam ketentaraan, memang akhirnya menyasar sesama temannya sendiri, dan akhirnya walaupun penjajahan kaphe-kaphe Belanda itu terlihat kuat di Aceh, sebenarnya mereka dalam persaudaraan yang sangat lemah dan mudah terjadi perpecahan akibat kepentingan yang tak mau saling mengalah.   

Ada pula kisah  seorang marsose Ambon yang masih muda, bernama Nannink. Dalam bivak tempat mereka berumah dan tinggal siang dan malam (jika tidak sibuk ke medan perang) mereka  bermain judi “puter dadu” . Permainan ini  benar-benar  mencekam  otak  setiap pemainnya.

Ada seorang perempuan  sudah berjanji akan berkencan dengan Nannink, sebut saja namanya Andu, sudah tidak sabar menunggunya. Andu  adalah istri dari seorang marsose yang sedang berada di lapangan,  sedang berperang dengan mujahidin-mujahidin Aceh.  Karena Nannink yang  kecanduan  bermain  puter dadu,  Andu terus mendesak untuk pergi dari situ. Nannnk pun jadi kalap. Ia langsung naik pitam, ia menghamburkan diri dari permainan puter dadu, dan belari ke ujung sebuah biva.Dari sana ia mengacungkan  kelewang dan langsung menebaskannya kepada Andu. Dalam sekejap Andu pun tewas, kasian istri  temannya yang sedang berjuang melawan mujahidin-mujahidin Aceh di tengah hutan, kini tinggal mayat.

Dan tentu saja, kini perseteruan bukan lagi antara  Andu yang cantik sekaligus pacarnya Nannink.  Kini yang terjadi adalah  diburunya Nannink oleh Pulmorejo, mantan suami Andu yang telah tewas bersama tubuhnya yang lemas, putih dan cantik itu.  

Suatu malam di  dalam mess para serdadu marsose saling  bercengkerama, tiba-tiba  mereka kaget, karena  mendengar suara jeritan seorag wanita. Semula mereka sudah faham, bahwa itu hanyalah hukuman akibat istri seorang serdadu kaphe-kaphe yang pribumi itu menghukum istrinya. Karena sudah biasa,di bivak-bivak atau mess-mess tentara kaphe-kaphe Belanda itu, cukup banyak  istri-istri kaphe-kaphe Belanda   yang nakal. Dan itu sudah jadi rahasia  umum di antara para marsose atau para perwira kaphe-kaphe Belanda yang berkulit putih.  Bernhard, atau Sebastian Bernhard tiba-tiba saja berkata  tentang istrinya:” Aku ingin melihat istriku  yang sudah benar-benar tobat dari kebiasaanya berkencan  dengan lelaki (serdadu marsose) yang dia senangi, padahal tidak dia cintai. Tetapi belum ia sampai ke tempat istrinya, pistol sudah meletus duluan dan  perempuan yang dia cintai, tetapi sangat menyebalkan hati itu, sudah tergeletak bergelimang darah.  

Begitulah keadaannya di tahun-tahun Van Heutsz memerintah. Ia hampir sempurna menguasai keamanan di tano Aceh dalam sikap tangan besi dan penindasan yang kejam dan mengerikan. Tetapi di dalam barisan peleton tentara marsose kaphe-kaphe Belanda itu, keadaan sangat kritis.  Pembunuhan bukannya terjadi  antara marsose kaphe-kaphe Belanda melawan Mujahidin, tetapi antara marsose  versus marsose.

Tsuatu pagi muncul  kepanikan dalam bivak. Seorang serdadu marsose dari Madura, melepaskan tembakan membabi buta ke sekelilingnya bicak dimana hamper semua serdadu marsose belum bangun. Seorang serdadu bayaran dari Denmark, Letnan  Berde mendapat serempetan peluru dan bersarang di rahangnya. Letnan Berde sekarat, datang seorang sahabatnya dari bivak sebelahnya. Dengan mata berbinar ia melihat siapa yang menembak sahabatnya Letnan Berde.  Tanpa tedeng aling-aling ia muntahkan pelurunya sebanyak sepuluh kali kepada  marsose dari Madura itu. Iapun langsung tewas di tempat. Begitulah,  betapa merosotnya moral pasukan marsose kaphe-kaphe Belanda melihat tragedi demi m tragedi yang sangat pahit di antara mereka sendiri. Ada yang karena masalah perempuan, ada yang karena sentiment pribadi,  ada yang  saling cari muka di hadapan van Heutsz dan berakhir di ujung peluru di bivak masing-masing.  Van Heutsz sendiri sangat pusing memikirkan semua ini..

Seoang mantan pasukan kaphe-kaphe Belanda yang kemudian menjadi  wartawan perang di Aceh mengatakan: “ marsoese-marsose  yang tinggal sedikit itu layaknya menjadi orang yang menderita sakit jiwa. Lama kelamaan disiplin pasukan elit kaphe-kaphe Belanda yang gagah perkasa pada awalnya luntur  semangatnya dan hancur-lebur disiplin berperangnya. Mereka juga mengalamai frustasi yang teramat berat, terlihat dari wajah-wajah mereka bahwa mereka kehilangan  kepercayaan terhadap diri sendiri.

Sementara para mujahidin Aceh, walau dalam keadaan kalah dan lemah – mereka sedang menyusun kekuatan di dalam hutan, tempat dan basis peperangan bangsa Aceh yang paling nyaman dan paling aman di dunia. Tidak ada lagi tempat yang paling dapat dipercaya untuk menjaga semangat setiap serdadu Aceh, baik laki-laki atau perempuan, kecuali hutan belantara yang setiap serdadu kaphe-kaphe Belanda gentar mengarunginya. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...