19 August 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (54

Episode 37

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol
 

Bagian Pertama
 37

Selesai Syekh Ahmad  Al-Jabbar  berceramah tiba-tiba seorang pemuda kulit putih yang dulu bernama John Stambhot dan berubah nama menjadi Ahmad Samin mendekat dan terlibat berbincang.
“Syekh, bagaimana pendapatmu tentang jihad  fi sabilillah?” Lelaki berjubah putih, bersorban dan berselendang hijau itu serius kepada Syekh Ahmad Jabbar. Syekh Jabbar pun tidak merasa heran dengan pria kulit-putih itu. Dalam Islam, kehidupan metropolitan pun sebenarnya jauh lebih plural dibanding dalam budaya Eropa. Bahkan Eropa sebenarnya meniru pluralism Islam sewaktu para pemuda Eropa menuntut ilmu di barbagai kota besar saat jayanya peradaban Islam. Seperti Kordoba, Kairo, Baghdad, Isfahan dan banyak kota lainnya dimana anak-anak muda Eropa seperti baru belajar toleransi dan mennyerap budaya plural dari peradaban Islam.
Syekh Ahmad al-Jabar menjawab:”Sebenarnya Jihad dalam Islam itu, 99 persen adalah jihad Akbar, sebagai ditekankan oleh Nabi Muhammad Saw: “: ‘Sesungguhnya kalian pulang dari jihad kecil menuju jihad besar’. Para shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah jihad yang besar itu?’ Beliau menjawab: ‘Jihad nafs (jihad melawan hawa nafsu)’”. Jihad melawan hawa nfasu itu adalah 99 persen dalam kehidupan setiap Muslim, baik di masa damai maupun di saat perang. Hanya 1 persen saja jihad melawan orang-orang kafir ditujukan dalam hadits tersebut. Tetapi sekali api jihad yang 1 % itu dipantik, maka setiap Muslim wajib melakukan jihad fisik itu.” Tegas Syekh Ahmad al-Jabbar kepada Ahmad Samin. Matanya biru berputar-putar bagai bola senter yang menyala di gelap malam.
“Dalam kehidupan saya dan teman-teman di Belanda dulu, sebelum saya diterjunkan di tano Aceh ini oleh pemerintah kaphe-kaphe Belanda, guru-guru saya dan teman-teman saya di Nederland  menafsirkan bahwa, umat islam itu melakukan jihad melawan kaum kafir adalah yang 99%, sedang 1 % jihad melawan nafsu.” Jawab Ahmad Samin alias Stambhoot.
“Inilah zaman sudah dibolak-balik oleh  kaphe-kaphe Belanda. Mestinya seperti apa yang saya ucapkan pertama tadi. Ingatkan ketika Nabi dianiaya di Mekah, kemudian sampai berdarah-darah di kota Tha-if. Nabi sabar. Sementara Jibril menawarkan kepada Nabi untuk membawa gunung di kota Thaif untuk dijatuhkan ke umat yang telah menzalimi beliau? Nah, Nabi tidak emosi,yang mengemuka di situ bahwa Nabi sedang memerangi hawa nfsunya sendiri dan mengedepankan bahwa kedatangannya ke muka bumi hanyalah untuk rahmat bagi semesta alam. Jika misiku bukan sebagai rahmat bagi semesta, pastilah tawaran Jibril langsung aku terima” Ucap Syekh Ahmad al-Jabbar. Makaberdoalah nabi Muhammad untuk keselamatan orang yang zalim dan juga keturunan-keturunannya, karena doa orang beriman kepada orang yang menzaliminya,juga sebuah rahmat (sebentuk kasih sayang Allah).
Nabi Muhammad sangat berbeda dari nabi-nabi lain sebelumnya. Bila ada umat yang menzalimi dirinya, maka ia segera memintakan azab bagi umat yang lancang dan berani-beraninya kepada dirinya (nabi tersebu). Maka turunlah azab nabi Luth, turunlah azab nabi Nuh,turun pula azab nabiMusa dan lain sebagainya. Tapi sepanja ng hayat hidup nabi dan setelah kewafatan nabi Muhammad, tidak akan pernah ada ‘azab nabi Muhammad”. Yang ada hanyalah Rahmat Nabi Muhammad bagi alam semesta dan seisinya”. Demikian keterangan Sykeh Al-Jabbar kepada Ahmad Samin.
Ahmad Samin yang jenggotnya berwarna rambut jagung itu mengangguk-angguk dalam dan berkata: Jadi jihad melawan hawa nafsu tetap menjadi perang terbesar dalam hidupmanusia, apakah di masa damai apalagi di masa perang. Karena justru di masa perang itulah banyak datang bujukan-bujukan kaphe-kaphe Belanda untuk menghentikan jihad dengan memberikan imbalan uang dan kesenangan kepada mujahid-mujahid Aceh. Ya, aku mengerti  Sykeh Al-Jabbar. Jawab Ahmad Samin alias John Stamboot itu.   
“Justru, jihad di lapangan seperti yang sekarang tengah terjadi di tanah Aceh  inilah  yang masuk kategori 1 %, tetapi sekali api jihad yang 1% ini dipantik, setiap Muslim (apalagi pemuda) yang menolak maju ke medan tempur, maka ia dihukum kafir, atau wajib dibunuh di atas pengadilan agama.
Ketika Nabi Muhammad Saw diharu-biru oleh  kafir-kafir Quraisy di Mekah, kemudian juga di Thaif, di Tahif inilah penganiayaan terhadap Nabi mencapai puncaknya dan membuat para malaikat marah atas apa yang menimpa Nabi Muhammad Saw.  “Aku marah , karena orang semulia engkau dilecehkan oleh manusia-manusia yang tak ada harganya itu” ujar Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad .”
“Sabar wahaiJibril, mereka belumtahu!” Jawab nabi Muhammad lembut.
Jihad melawan orang-orang kafir adalah termasuk amalan yang paling agung, bahkan ia adalah amalan yang paling utama dilakukan oleh seorang manusia. Allah ta’ala berfirman:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah telah  menjanjikan pahala yang baik (surga). Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk (enggan berjihad) dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari-Nya, ampunan, serta rahmat. Allah itu Ghafur (Maha Pengampun) lagi Rahim (Maha Pemberi rahmat).” [QS An Nisa`: 95-96].

“Tetapi jihad melawan hawa nafsu,jauh lebih agung dari berjihad melawan orang-oang kafir”ujar Sykeh Ahmad al-Jabbar menutu pembicaraan.

*****************

Van Heutsz suatu saat datang ke penjara dan mendapatkan seorang tua renta sedang bershalawat kepada nabi. Suaranya indah dan merdu.Hanya Van Heutsz saja yang menilai suaranya jelek dan tidak menari.   Mendengar suara si tua bangka itu, Van Heutsz mengangkat suara:”Hei tua Bangka, aku melihat suaramu jelek sekali hari ini:Ujar Van Heutsz.  
“Aku juga melihat orang terjelekdi dunia hari ini”Jawab si tua bangka itu.
Van Heutsz hanya melengos dan bergegas pergi.
Sesampai di kantor gubernemen, Van Heutsz berkata kepada pegawai kantornya:
“Bagaimana laporan hari ini, ?” kepada Berg Clementius .
“Lapor Paduka Van Hetusz! Hari ini kita mengalami kekalahan telak di Teunom.” Ujar Berg Clementius.
“Ha, di Teunom? Siapa  yang diutus jadi panglima perangnya?” Heran Van Heutsz.
“Mayor Spoiler van Eugenius Tuan Besar!” Jawab Berg Clementius.
“Tidak becus!” Jawab Van Heutsz pendek.

 Pasukan Mayor Jenderal Spoiler  menglami kekalahan  besar di Teunom. Beberapa pasukan berkuda Spoiler  alami  luka-luka berat. Mereka dihajar oleh raja Teunom yang ditakuti oleh kaphe-kaphe Belanda dari zaman kapanpun.  Kuda-kuda kaphe Belanda itu terpaksa  pulang tanpa penunggangnya. Mayor Spoiler kelihatan  marah-marah kepada prajuritnya. Ini semua karena kesalahan menafsirkan perintah. Kalian kalah karena  musuk ke Teunom tanpa ada aba-aba perintah dari Mayor Jenderal Spoiler van Eugenius. Ini orangnya!  Lihat kan?”
“Seluruh prajuritnya yang selamat mengangguk berbaris di halaman kantor gubernemen kaphe-kaphe Belanda di Kutaraja. Beberapa ekor kuda yang luka-luka sedang dibawa ke klinik hewan. Sedang yang sehat dimasukkan di kandangnya di belakang kantor Gubernemen.  Begitu juga prajurit-prajurit kaphe-kaphe Belanda yang luka-luka, dikirim ke Rumah Sakit Besar Kutaraja. Sedangkan yang meningga, ada kira-kira 20 orang mati, dikirim ke kuburan prajurit Belanda yang tewas dalam Perang Aceh, yaitu Kekhoff Peucut.  
Ketika Mayor Jendeal Spoiler hendak memasuki  Teunom,  kuda-kuda berlari ketakutan mendengar suara mendenging dari sebuah bukit yang tak terlalu tinggi di sebelah kiri jalan. Kuda-kuda itu begitu susah  diatur dan mengacaukan barisan pasukan marsose yang sudah siap hendak bertempur.  Semestinya hal ini tidak terjadi,  tapi pasukan raja Teunom memang sedang mengganggu konsentrasi kuda-muda pasukan kaphe-kaphe Belanda dengan bunyi denging yang menyakitkan kuping-kuping kuda milik kaphe Belanda itu.
Ketikapasukan semakin kacau dan kuda-kuda semakin sulit diatur, tiba-tiba dari rusuk pasukan kaphe Belanda, datang serangan  raja Teuunom yang dipimpin oleh Pang Tengku Achmad Fauzi.
  Mayor Jenderal Spoiler  sebagai ahli strategi pun telah memprediksi kekalahan  ini. Spoiler sudah berjanji akan memasukkan pasukan marsose terlebih dahulu  di perbatasan Teunom. Tetapitiba-tiba hal aneh terjadi, yang masuk terlebih dahulu adalah pasukan berkuda. Namun  musuh tiba dengan mendadak seperti  air bah yang turun dengan cepat dari gunung. Sebelumnya , menjelang tengah hari pasukan Spoioler dihujani panah dengan cepat dan kuda-kuda itu semakin meringkik, kacau  dan berlarian.Seluruh pasukan menjuadibingung dan tak tahu musuh berada dimana. Mayor Jenderal Spoiler hampir saja mati, karena sebuah anak panah bers=desing di samping kupingnya.  Beberapa prajurit marsose segera mepindunginya dengan memasang dirinya menjadi perisai bagi Spoiler. Tapi Mayor  Jenderal Spoiler  begitu marah dan menarik mundur pasukan berkuda, dan kabur dari Teunom. Saat itulah pasukan marsose yang ada dibelakangnya dirajah panah, pedang, kelewang dan tembakan senjata pasukan mujahidin Teunom dengan semena-mena. Dua puluh tentara kaphe-kaphe Belanda tewas dan 17 orang luka-luka berat dan ringan. Sedang mujahidin Aceh syahid 5 orang dan luka-luka 10 orang.  
DIhalaman kantor gubernemen, semuanya merundukkan wajah dengan kekalahan yang memalukan.Itulah hasil dari kemenangan van Heutsz yang tiada jeda selama ini. Sepandai-pandai bajing melompat, pada akhirnya terjerembah juga.(Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...