19 June 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (51

 

Episode 34

 

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

 

 

Bagian Pertama

 34

 

Pada titimangsa 1882, seluruh Balige sudah tunduk kepada kafir-kafir Belanda.Hanya Laguboti yang masih setia dan diperintah oleh  masih tetap dipertahankan oleh Panglima Ompu Partahan Bosi Hutapea. Serta panglima-panglima Sisingamangaraja XII lainnya yang setia kepada Raja Batak yang sangat berwibawa ini. Karena kafir-kafir Belanda dengan sungguh-sungguh terus-menerus menambah pasukan balabantuan dari segala penjuru, dari Aceh, dari Padang, dari Batavia, setahun setelah Balige jatuh, kini Laguboti jatuh ke tangan kafir-kafir  Belanda yang rakus dan haus kekuasaan itu. Mereka membawa meriam-meriam besar dan lebih modern dari meriam yang dimiliki  tentara Sisingamangaraja yang dibawa dari  Aceh.  Pada titimangsa  1883, seperti ramalan  Sisingamangaraja XII, daerah Toba pun dikuasai kafir-kafir Belanda.  Ya, kafir-kafir Belanda memainkan praktek permainan domino untuk menguasai derah Batak, satu per satu.Habis daerah tertentu dicaplo, tetangganyaakan ikut pula dicaplok.Kemudian tetangga jauh juga akan jatuh ke tangan kafir-kafir Belanda sampai seluruh tanah Batak berada di bawah kekuasaan kolonial penjajah Belanda yang tiada mengenal puas itu.

Sisingamangaraja XII  tak pernah patah arang dan putus asa melihat kecepatan dan kelihaian kafir-kafir Belanda dalam berperang dan mencaplok daerah Batak satu persatu. Pasukan Sisingamangaraja berusaha  menyerang  kafir-kafir Belanda di Balige. Kekuatan Raja Sisingamgaraja  menusuk kekuatan kafir Belanda  dari arah Huta Pardede. Dengan mengerahkan angkatan laut, dimana  40 Solu Bolon atau kapal-kapal perang  yang bermuatan 800 tentara  menyerang ke Balige. Maka tepat pada titimangsa awal 1883 pecah pertempuran besar antara tentara Sisingamangaraja dan kafir-kafir Belanda. Maka untuk mengimbangi kekuatan Sisingamangaraja XII, kafir-kafir   Belanda mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk meladeni  Sisingamangaraja XII. Di medfan tempur para panglima Sisingamangaraja bertempur sampai daerah penghabisan. Segala tombak, semua bedil dan semua kelewang keluar untuk bertahan dari serangan Belanda atau sebaliknya.  Ratusan tentara dari kedua belah  pihak bergelimpangan di jalan-jalan,di lapangan, di sungai, di saluran-saluran air atau di bawah-pohon-pohon besar yang dipenuhi mayat-mayat kedua tentara yang saling bertempur.

Nampaknya nafsu menguasai kafir-kafir Belanda semakin memuncak, dan sebagian anak-anak bangsa dari TanoBatak mendukung pula nafsu besar Belanda itu.Pada titimangsa  12 Agustus 1883,  Istana dan Markas Besar Sisingamangaraja XII dicaplok kafir-kafirBelanda.Bakara terbakar hebat, pasukan Sisingamangaraja berusaha mempertahankan Bakara dan istana Raja Batak.Namun mujur tak dapat diraih, malang takdapat ditolak, Sisingamangaraja harus mengundurkan diri ke daerah Dairi. Maka rasanya xsemakin tipis harapan Sisingamanaraja untjuk memenangkan peperangan karena Dairisudah dekat ke daerah perbatasan dengan Tano Aceh diutara.  Sementara pusat kekuasaan Sisingamangarajas di TanoToba, Balige, Silindung sudah dikuasai kafir-kafir Belanda yang rakus dan haus darah itu. Pada akhirnya  Sisingamangaraja XII terpaksa melakukan kerjasama dengan Asahan, Tanah Karo dan Simalungun.  Menyaksikan dan mendengar Sisingamangaraja berkonsolidasi dan kerjasama serta mencoba menggerakkan hampir semua orang Batak di tiga daerah itu mengangkat senjata menentang kaphe-kaphe Belanda, maka pemerintah kaphe Belanda marah besar.

Yang menjadi kewalahan kafir-kafir Belanda, bahwa di setiap perang antara kafir-kafir Belanda dan pasukan Sisingamangaraja, kafir-kafir Belanda selalu kehilangan jejak untuk menangkap tokoh yang sangat liat dan kata tentara kafir-kafir Belanda, Sisingamangaraja mempunyai ilmu menghilang.

Untuk mengatasi persoalan yang teramat rumit dan pelik ini, pasukan marsose kaphe-kaphe Belanda dari Aceh pun dikerahkan m bahwa tawanan-tawanan perang da nisi pewnjara =yang terdiri dari para bromocorah / narapidana kembali dijadikan umpan peluru dan perisai tentara kafir-kafir  Belanda dalam setiap pertempuran yang sangat membahayakan terutama bagi colonial kafir-kafir Belanda. Bahkan tak cukup dengan itu, kafir-kafir Belanda terpaksa mengambil orang-orang Afrika yang ahli dalam mencari jejak, menelusuri Sisingamangaraja XII yang sering menghilang dan raib tak tentu rimbanya. Kebanyakan kafir-kafir Belanda mengerahkan orang –orang Afrika yang berasal dari Senegal, Afrika Barat.   Mereka diperintahkan para komandan perang kafir-kafir Belanda  mencari persembunyian Sisingamangaraja XII, dimana tempatnya. Pasukan Sisingamangaraja XII, orang-orang Senegal sepoerti anjing kurapberbau busuk itu disebut  “Si Gurbak Ulu Na Birong”yang maksudnya Si orang bengkak kepalanya hitam.  

Pasukan Sisingamangaraja XII takmau pasif menunggu diserang. Sisingamangaraja XII memerintahkan agar pasukan Tano Batak aktif menyerang dan mengusir  kafir-kafir penjajah itu dari Tapian Nauli atau sebuah wilayah yang dapat memenuhi segala kebutuhan hidup. Maka  di daerah Butar , Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi kafir- kafir Belanda. Namun kafir-kafir Belanda tak kalah cerdih pula, kafir-kafir  Belanda menyerang Lintong.  Di Lintong itulah kafir-kafir Belanda berperang melawan  Raja Ompu Babiat Situmorang. Namun Sisingamangaraja jauh lebih cerdik dan taktis disbanding kafir-kafir belanda. Kecederdikan Sisingamangaraja XII itu, terlihat upayanya  menyerang sasaran yang sama, yaitu  Lintong Nihuta, selain itu menyerang, Simangarongsang, , Parsingguran , Pollung. Hutaraja dan Huta Paung.

Beginilah siasat perang Sisingamangaraja. Beliau  melakutkan peperangan secara mobil (berpindah-pindah) di wilayah  Parlilitan dua puluh dua  tahun. Dalam masa gerilya yang anjang, setiap mampir dui suatu kampong, Sisingamangaraja   membina masyarakat untuk memajukan  pertanian, juga memberikan pengetahuan tentang  adat istiadat  atau hokum adat  untuk meningkatkan  pengetahuan masyarakat serta kesejahteraan mereka. Inilah modalberharga Sisingamangaraja memupuk  kekukuhan berjuang para pengikutnya, masyarakat Batak untuk selalu berjuang melawan kafir-kafir Belanda yang sangat zalim dan rakus itu.

Pada titimangsa 1906 Sisingamangaraja mengalami masa-masa sulit dengan tertangkapnya Panglima Amandopang Manullang. Penasehat Khusus Raja Sisingamangaraja XII, Guru Somaling Pardede dapat pula ditangkap kafir-kafir Belanda. Setahun kemudian, istri Sisingamangaraja ditawan kafir-kafir Belanda. Agaknya ia mengambil pelajaran dari penangkapan istri uleebalang atau istri sultan di Tano Aceh. Tapi di Tano Batak, upaya tipu penangkapan istri raja Sisingamangaraja tak mempan sedikitpun. Bahkan putri Sisingamangaraja XII yang bernama Sunting Mariam tak menggoyahkan ketegaran Sisingamangaraja dalam peperangan.

Banyak di antara rakyat ataupenduduk TanoBatak  yang dipukul  pasukan kafir-kafir Belanda agar mau menunjukkan dimana Sisingamangaraja berada.  Tapi dengan kewibawaan yang besar dan rasa setia rakyat, rakyat Batak tak pernah satu kali pun mau berkhiam=hnat kepada rajanya.

Terdapat rasa atau jiwa metropolitan raja Sisingamangaraja XII. COba lihat struktur pasukan Sisingamangaraja XII, yang terdiri dari  suku Batak dan suku Aceh. Sisingamangaraja menyerahkan kepemimpinan pasukannya kepada putranya yang bernama  Patuan Nagari. Patuan Nagari mengangkat panglima-panglima yang cergas dan tangkas seperti, Ama Ransap Tinambunan dari Peabalane, Rior Purba dari Bakara, Aman Tobok Sinaga dari Uruk Sangkalan, dan Manase Simorangkir dari Silindung. Tak kalah pula, dari suku Aceh diangkat pula parapanglima seperti , Teuku Nyak Ben,Teuku Mat Sabang, Teuku Sagala, Teuku Nyak Bantal , Teuku Nyak Umar,  Teuku Idris serta  Teuku Nyak Imun. Masih ada panglima perang dari  rakyat Parlilitan sebut saja namanya,  Nangkih Tinambunan, Pak Leto Mungkur , Cangkan Meha, Pak Botik Meha, Pulambak Berutu, Tepi Meha ,Pak Nungkun Tinambunan, Tarluga Sihombing dan Koras Tamba ,   dan Pak Kuso Sihotang,.

Pada titimangsa 1907, seorang pemimpin pasukan kafir-kafir Marsose  Belanda ,yaitu  Kapten Christoffel mencoba membidik Sisingamangaraja dengan senapan laras panjang. Saat Sisingamangaraja memangku putrinya Lopian yang terkena tembakan peluru. Karena Sisingamangaraja tak boleh kena percikan darah, Sisingamangaraja menjadi hilang kebalnya, dan tembakan Christoffel mengenai tubuh Sisingamangaraja.

Begitulah sebuahperjuangan panjang Sisingamangaraja  yang berjalan secara marton  30 tahun  telah memakan korban dari kedua belah pihak, baik keluarga  Raja Si Singamangaraja XII sendiri, juga rakyat Batak yang sangat patuh dan setia. Termasuk pula para pengkhianat dari pasukan-pasukan yang dikirim dari Ambon, Manado, Jawa, Madura dan bagian lainnya dari tanah air. Itu karena praktek Perang Saudara yang diprogramkan kafir-kafir Belanda begitu berhasil. Makahati-hatilah dengan upaya memunculkan kembali Perang Saudara dengan politik belah bamboo, yang dalam bahasa Aceh disebut “Plah trieng”.

Category: 
Loading...