17 August 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (49

Episode 32

 

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

 

 

Bagian Pertama

 32

 

 

Orang-orang Seumarantee sebetulnya menurut Undang-undang hanya dipekerjakan untuk membuat jalan, bukan menjadi umpan peluru bagi mujahidin-mujahidin Aceh. Pada titimangsa  1 Januari 1875 dalam surat-menyuratnya dengan pemerintahan Den Haag Gubernur Jenderal Loudon yang bermarkas di Batavia telah memperkirakan terjadinya  kekurangan tenaga narapidana kerja paksa atau orang-orang Seumarante. Itu disebabkan setelah perang Aceh pertama yang menewaskan JHR Kohler dan Perang Aceh kedua, diutusnya Jenderal Van Swieten menyebabkan begitu banyaknya orang-orang Seumarante dan tentara kulit putih dan kulit saomatang yang tewas di Aceh.  Pada saat dua perang tersebut sudah tewas 2000 jiwa dan yang sakit lebih banyak dari lagi.

Pihak  pemerintah kaphe-kaphe Belanda menyadari bahwa tanpa bantuan orang-orang kulit sawo matang, baik yang diangkat menjadi tentara (kopral, tamtama atau setingkat di atasnya), atau orang-orang Seumarante itu yang tiada berpangkat dan bermatabat, usaha penjajahannya di Sumatera,Jawa, Kalimantan dan Sulawesi sampai ke Papua tak akan pernah berhasil. Rupanya bangsa Nusantara  selama ini diskenariokan oleh kaphe-kaphe Belanda dalam sebuah bentuk “Perang Saudara”.  Perang Saudara itulah yang rupanya dijalankan oleh kaphe-kaphe Belanda selama ini di seluruh tanah Nusantara yang kini dikenal sebagai Indonesia.

Nah, hati-hati dengan penjajahan baru di Indonesia di era Zaman now.Pasti pola perang saudara lagi yang bakal dipakai oleh penguasa (penjajah) zaman now, yang dalam istilah Yunani kuno disebut “Devide et Impera”.  Di sinilah Loudon sekiitar 15 tahun lalu, sang tokoh penjajah kaphe-kaphe Belanda itu, sangat memerlukan “Tukang Pikul” untuk membantu pasukan-pasukan kaphe-kaphe Belanda. Maka baik Van Swieten, Van Heutsz sampai Van Daalen mencoba membawa orang-orang Seumarante selain dari Jawa, juga dari Afrika dan benua Eropa. Dari benua Eropa orang-orang Seumarante itu bukan diangkat menjadi kuli kerja paksa, tetapi diangkat menjadi kapten atau kopral atau sejenisnya, terutama narapidana dari Swis, Swedia, Perancis, Denmark, Jerman atau dari Negeri Belanda sendiri. Sedangkan orang-orang Seumarante dari Jawa, Afrika diperlakukan sebagai kuli angkut guna membawa alat-alat berat yang diperlukan tentara-tentara kaphe-kaphe Belanda.

Pada tahun-tahun `1890-an itu , kaphe-kaphe Belanda mengumpulkan orang-orang Seumarante dari  Batavia 150  orang,  dari Padang 10 orang, dari Surabaya 100 orang dan  Semarang 100 orang. Dengan terkumpulnya orang-oang Seumarante yang kebanyakan tewas kelaparan di Aceh, kini kaphe-kaphe Belanda dapat bernafas kembali dalam proyek-proyek memperlancar kolonialisme seperti membangun jalan, membangun jembatan, membangun rel kereta api, bahkan orang-orang Seumarante itu bukan hanya berjenis laki-laki. Tapi juga berjenis perempuan untuk pemuas nafsu seks  tentara kaphe-kaphe Belanda serta kopral-kopral pribuminya dalam upaya mempertahankan semangat berjuang menjajah seluruh tanah Nusantara, termasuk di tanah Aceh. Uh, sangat  menjijikkan pekerjaan kaphe-kaphe Belanda itu. Walau kini angka-angka tenaga kerja paksa sudah mulai normal lagi, perlakuan kaphe-kaphe Belanda terhadap mereka tetap saja tak  manusiawi. Mereka dipaksa bekerja siang tanpa digaji, tanpa dikasih makan. Kadang diberi sepotong roti untuk pengurangan hukuman, itu saja sudah membuat orang-orang Seumarante menjadi gembira. Bagi yang lebih parah, karena mencuri, mereka dihukum mati atau ditembak seperti menembak seekor anjing pesakitan yang tiada harganya.

Sesuai dengan  hukum acara pidana titimangsa 1848, terdapat berbagai tingkatan dalam kerja paksa. Pertama dengan kedua kaki  bekalungkan rantai, tanpa rantai namun ditaroh di sebuah pulau terpencil. Masih ada lagi cara yang lainnya sesuai tingkatan hukuman dan kadar wujud jera bagi si terhukum. Dalam prakteknya paska  titimangsa 1873 seluruh bromocorah ( narapidana ) yang divonis hukuman penjara lebih dari satu tahun dikirim ke Aceh, dan semuanya disamaratakan tanpa perbedaan. Seluruhnya dianggaporang Seumarante yang sudah terhina dan tak dapat membela diri lagi.  Menteri Kehakiman saat itu  Mr. T.H. Derkinderen, menginginkan hukuman  kerja paksa sebagai sebuah upaya menuju perbaikan yang dinamakan dengan "penebusan dosa".

Si terhukum jika selama dalam masahukuman melakukan perbuatan baik dan tidak ada hal-hal kriminal yang dilakukannya, maka ia dikenakan  pengurangan hukuman.  Kemudian si terhukum yang selama masa hukuman dengan  pengawasan dan memenuhi syarat yang telah ditentukan  untuk kelancaran  ekspedisi militer, ia akan mendapat pengampunan. Saat berkobarnya perang Aceh,  rancangan ini diterima oleh para wakil kaphe-kaphe Belanda di Nederland, namu n dilapangan tidak mempunyai kekuatan hokum apapun, alias  oleh Negara mendapatkan  persetujuan, akan tapi tak pernah dilaksanakan.  Begitu juga banyak rencana pembaharuan  yang hanya semata angina lalu, rancangan tinggal rancangan, tetapi prakteknya Hol alias kosong melompong.

Anehnya, pemerintahan kaphe-kaphe Belanda  seperti orang tolol juga. DI lapangan para pejabat di wilayah Nangro Aceh Darussalam mereka nyinyir membicarakan hewan pengangkut  barang, daripada orang Seumarante yang membawa beban. Lebih berharga hewan pengakut beban daripada orang pembawa be=ban, alias orang-orang Seumarante itu.  

Pada momen perang kaphe-kaphe Belanda pertama dan kedua,  pengangkutan militer di darat bagi entara-tentara penjajah KNIL menjadi salah satu masalah besar untuk membawa  perbekalan serta  logistic  perang kaphe-kaphe Belanda yang sangat  berat. Mereka  berpikir  mencari alat atau media transporatasi  yang muerah dan praktis. Satu-satunya jalan keluar  adalah orang-orang Seumarante.Bayangkan,harga kuda sangat  mahal. Maka dikerahkanlah  Lembu dan kerbau guna bisa membawa alat-alat berat kaphe-kaphe Belanda. Cuma saja, beban psikologis bagipekabat dan tentara penjajah kaphe-kaphe Belanda  bahwa langkah-langkah kerbau itu begitu lambatnya.  

Maka untuk mengatasi masalah kerbau yang lamban itu,  pemerintah kaphe-kaphe Belanda mencoba mengimpor 800 keledai dari Afrika Utara,  terutama dari Libya, Marokko dan Al-Jazair.  Percobaan pemerintah kaphe dengan keledai-keledai bengalnya itu mengalami kegagalan. Ya, keledai-keledainya kitu tidak jauh berbeda “bengal” dengan para kaphe-kaphe Belandanya.  Nah di titimangsa 1883 kaphe-kaphe Belanda  mencoba mengerahkan bala-gajah untuk mengatasi logistic dan alat-alat berat lainnya, tetapi juga kegagalan itu masih kerap menghampiri mereka. Pernah suatu kali, seekor gajah yang dijinakkan darihutan, mengamuk dan mengambil seorang letnan kaphe-kaphe Belanda dengan belalainya dan melambungkannya keudara setinggi-tingginya. Lalu gajah itu menghampiri tubuh letnan kulit putih yang b erlaku sombong itu dan menginjak-injak tubuhnya, yang akhirnya letnan Vookerkoop itu tewas megenaskan. Innalillahi wainnailaihi raaji’uuun. Pada akhirnya,  pemerintah kaphe-kaphe penjajah itu kembali lagi kepada orang-orang Seumarante yang sangat berjasa besar bagi ekspedisi-ekspedisi mereka melawan mujahidin-mujahidin Aceh yang terkenal liat, liar dan sulit ditundukkan.

Lagipula pemerintah kaphe-kaphe Belanda mengalami kemiskinan – bayangkan pemerintah  colonial mengalami kemiskinan, mereka kemudian mengalami masa-mnasa kaya dan makmur, karena berhasil menduduki daerah yang akan dirampok dan dijajah. Begitu;lah cara mereka mendapatkan makanan dan penghasilan setiap bulannya, dari hasil memeras, menjajah, merampok dan menjadikan orang-orang Seumaraten seperti tikus yang sewaktu-waktu dapat dihajar karena banyaknya kesalahan mereka, karena kasus pencurian karena kelaparan. Mengapa kelaparan, karena mereka dipekerjakan memang tanpa gaji dan tanpa diberi makan.Tetapi setiap makhluk hidup sangat memerlukan makan untuk melanjutkan umur dan hidupnya, apalagi sampai diperas tenaganya seperti tenaga kerja paksa oleh kaphe-kap;he Belanda itu.   

Kembalinya pemerintah kaphe-kaphe Belanda dari orang-orang Seumarante, terus ke kerbau, kemudian keledai dan terakhir beralih ke kendaraan gajah yang membuat banyak malapetaka bagi pawing dan kapten atau Letnan kaphje-kaphe Belanda.

Akhirnya dipilihnya orang-orang Seumarate karena mereka tidak membuat pemerintah dipusingkan oleh biaya. Orang-orang Seumarante cukup diberikan kandang, atau dibiarkan tidur di bawah pohon dengan atap daun, dahan dan ranting, walaupun dalam dalam dua minggu dijamin sakit dan akhirnya mati. Kapeh-kaphe Belanda itu yakin bahwa kebijakan yang sangat tak popular ini sering mendapat protes dari aktifis kemanusiaan atau Palng Merah Internasional atau sejenisnya. Walaupun orang-orang Seumarante kebanyakan tidak bisa dipercaya, namun hanya memakan  biaya sekitar dua gulden saja atau 1 Gulden . Sangat murah bukan?

Kapten Kaufmann, sebagaimana menurut Jenderal Van der Heijden pada titimangsa 1875 sukses  mengamankan pemberontakan pembenrontakan menurut pemerintah kaphe-kaphe Belanda di wilayah Aceh.

Di titimangsa 1901 keluar  sebuah system dimana  para beruang (orang-orang Seumarante) berada di bawah kekuasaan mandor-mandor dari  kalangan mereka sendiri. Para mandor itu harus  bertanggung jawab jika terjadi desersi. Banyak para desersi itu ditangkap, lalu dianiaya ataujika ingin diringankan hukumannya diperas tenaganya lebih berat lagi beban pekerjaannya. Begitulah nasibnya orang-orang Seumarante itu. Nasib mereka sangat t=ragis, dimana kaphe-kaphe Belanda (Gajah) dan mujahid-mujahid Aceh (Banteng)  bertempur, oerang-orang Seumarante (pelanduk) mati di tengah-tengahnya. sebagai tikus selama perang masih berlangsung. Berdasarkan bahan-bahan, taksiran saya, dalam empat puluhtahun, 25.000orang meninggal dunia,  seperempat dari jumlah seluruhnya korban 

Bayangkan,  sepanjang  perang Aceh berlangsung, para bromocorah  atau orang-orang Seumarante itu dipukul seperti memukul punggung kerbau atau kuda dengan pecut yang membuat seluruh tubuh orang-orang Seumarante itu sakit-sakitan dan menjadi layu dan kemps, karena tidak pernah makan dan terus saja dipekerjakan tanpa ampun.  Kaphe-kaphe Belanda menganggap mereka adalah lapisan sampah dari klapisan sosial masyarakat Hindia Belanda (Nusantara)  dan maaf), kebanyakan mereka berasal dari  Jawa, sebagaimana cerita  wartawan Hindia J.C. Zentgraaff  yang menuturkannya dalam bukunya  “De Atjeh” pada titimangsa 1938. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...