25 June 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (44

Episode 27 

 

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

 

 

Bagian Pertama

 

 27

 

Syekh Abdul Mujab masih terus berkeliling kampung-kampung berpindah-pindah untuk   mengisi kekuatan spiritual mujahidin-mujahidin Aceh. Karena dengan pasokan-pasokan spiritual itulah para mujahidin Aceh terus secara istiqamah menggelorakan jihad melawan kekejaman dan kebrutalan kaphe-kaphe Belanda yang tak mengenal halal dan haram itu. Saat Syekh Mujab memberi pengajian di malam yang sunyi, Syekh Mujab bercerita bagaimana umat islam di saat perang Salib ditahun 1096–1099 dibantai, disiksa, dibunuh dan dihancurkan habis-habisan oleh tentara Salib. Seorang pengamat yang merestui tindakan pembantaian penduduk setempat  menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda perang Salib tergenang dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda". Ratusan ribu penduduk setempat yang kebanyakan umat Islam, syahid dan mengalamai kekalahan yang sangat memilukan.

 

Syekh Mujab menerangkan saat  Perang Salib berkecamuk pertama kali, pasukan tentara Salib yang berasal dari berbagai negeri Eropa sukses  menaklukkan Palestina pada titimangsa  1099 M. Dimulai dari Kota Yerusalem panglima perang Godfrey dari Bouillon, Panglima Robert II dari Flanders, Panglima Raymond IV dari Tolouse dan Panglima Tancred sukses  merebut  kota  Yerusalem dan  tentara Salib menyiksa, membantai dan membunuh penduduk (umat islam) yang tinggal di kota yang dikuasai mereka. Kekuasaan Romawi membawa rasa ketakutan kepada penduduk kota Yerussalem yang masih hidup.

Kemudian Sykeh Mujab melanjutkan, Imam al-Ghazali bersama ulama lain benar-benar merenungkan,mengapa umat islam sampai kalah dan hina seperti ini.Ternyata penyebabnya karena umat Islam jauh dariagamanya,bahkan tidak memedulikan sedikitpun perintah Allah yang termaktub dalam  Al-Quran dan Al-Hadits. Maka Al-Ghazali dan para ulama lain   bergotongroyong membangun pesantren untuk membina para pemuda Muslim dalam segala bidang ilmu pengetahuan, membina akhlak dan  melatih ilmu berperang dan lain-lain.Di dalam pesantren binaan Al-Ghazali dan kawan-kawan paa ulama sezaman. Peran al-Ghazali dibalik kemenangan pembebasan Jerussalem oleh Shalahuddin al-Ayyubi begitu besar dan signifikan.

 

Dengan mengutip al-Ghazali,Sykeh Mujab kembaliberkata:” Ketika orang munafik diperintahkan berjihad, orang-orang ini enggan melaksanakan perintah jihad itu, sebab mereka tak ingin mati yang menurut mereka “konyol”, dan yang berarti bagi mereka adalah   ingin  bersenang-senang  di dunia. Nah, sekarangbagaimana jihad menurut orang Zuhud? Zuhud bukan berarti tidak butuh  dunia, mereka sangat membenci hidup yang mencintai  dunia, seolah dunia ini akan ditinggali selama-lamanya. Jika ahlul Munafiqun enggan berjihad,  ahli Zuhud  langsung bergegas menunaikanya ketika  mendengar seruan jihad.

Inilah jiwa bangsa Aceh, saat berperang melawan kaphe-kaphe Belanda. Bagi al-Ghazali, jiwa zuhud membawa semangat jihad,  tidak mencintai dunia berlebih-lebihan, bahkan dunia ini   dianggap sebagai ladang akhirat, dan tidak tidak takut mati.  Tentara seperti inilah yang  menggentarkan hati  musuh. Sepuluh mujahidin  dengan jiwa zuhud   mengalahkan seratus kaphe-kaphe Belanda. Dua prinsip  jihad orang sufi,  menang membangun peradaban atau syahid bahagia (Udep saree matee sjahid, sikrek gaphan saboh keureunda” (hidup damai atau mati syahid, secarik kain kafan satu keranda).

 

Bagi sufi Mujahid, prinsip : Kanu rahbanan fi al-lail wa farsanan fi an-nahar (pejuang sufi itu menjadi rahib/beribdah di malam hari, penakluk kuda / perperang di siang hari. Kaum  sufi tidakhanya mengenal sajadah dan masjid  serta tasbih  lalu  duduk bersila menengadahkan kedua tangan untuk menembus langit di saat malam. Mereka memilikikecakapan menunggang kuda dan mengayunkan pedang di siang hari. Sufi sejati akan selalu  menggabungkan keduanya. Bukan saja pintar memerangi nafsu, namun paiawai menggerakkan jiwa untuk jihad dijalan Allah.

Akan tetapi al-Ghazali juga membina akhlak para santri mudanya, untuk tidak bersifat dendam, sembarangan membunuh  manusia  di  medan perang(jika keadaan sudah tenang). Jangansembarangan membunuh orang yang sudah kalah, membunuh anak-anak,perempuan dan orang-orang tua. Setelah kemenangan dicapai dengan gemilang, setiap tentara harus segera mengedepankan jiwa sipil. Mengasihi orang fakir, orang tua,anak-anak dan musuh yang sudah takluk, dan jangan menaruh  dendam terhadap siapapun.

Maka pada titimangsa 1187 pecah Perang Salib dan berakhir dititimangsa 1291. Apa yang terjadi dititimangsa 1291? Kaum Salib kalah, tak setetes darahpun ditumpahkan Salahudin Ayubi. Denda perang tidak dipatok tinggi dan berapa sanggup bagi yang tidak mampu. Jauh berbeda di saat perang Salib pertama danoangEropa meraih kemenangan dan banyak kaum Muslim ditawan.

 

Syekh Mujab menerangkan, bahwa kita jangan sampai menebarkan kebencian dan fitnah. Setiap mujahidin Aceh,harus menjauhijiwa berhati Iblis, seperti Van Heutsz dan kaphe-kaphe Belanda lainnya. Jangan membakar rumah-rumah milik masyarakat (rakyat),jangan merampas harta benda mereka, jangan membunuh dan menyiksa masyarakat yang lemah tak berdaya.

Salahudin sempat ditanya seorang tua beragama Kristen penduduk kota Yerussalem : ”Hai Salahudin, kamu memiliki kesempatan untuk membalas dendam kepada pasukan Kristen, mengapa kau tak memanfaatkannya untuk membalas dendam?”

 

Salahudin menjawab: “Agama Islam tak mengenal balas dendam. Ketika pasukan Muslim memperoleh kemenangan, semua musuh yang sudah tunduk dan tak mengangkat senjata, dimaafkan!”Jawab Salahudin

“Kalau demikian indah sekali agamamu Salahudin. Jika demikian, agamamu sangat pantas aku peluk sebagai keyakinanku yang baru,”Jawab orang tua itu, yang akhirnya di depan Salahudin langsung mengucapkan dua kalimah syahadat.

***************

Nafsu perang Van Heutsz rupanya takpernah henti,ia terus berperang, mengejar dan mengepung setiap mujahidin Aceh dan tak memberi waktu istirahat bagi mereka.Hingga akhirnya pasukan Van Heutsz memperoleh kemenangan.  DImana Van Heutsz berada,ia  mengadakan keonaran dan kekacauan,agar rakyat Aceh tidak pernah merasa tenteram dan menangkap pemimpin mujahidin Aceh sampai tertangkap atau mati terbunuh. Inilah singa kaphe-kaphe Belanda yang haus darah,kejam dan tak mengenal perikemanusiaan sedikitpun. Di wilayah Meureudu,Van Heutsz membuat jalan guna melancarkan upaya kolonialisme di Aceh semakin mudah. Maka penduduk Meureudu pun tak tinggal diam,walau banyakyang disiksa, tapi begitu banyak pula yang melaklukan perelawanan secara gerilya.

Bagi Negara kaphe-kaphe  Belanda di eropa sana, perang Aceh bukan semata berisi cerita tentang perang dan penguasaan wilayah. Perang Aceh sangat erkait dengan  problem  politik internasional, persoalan politik dalam negeri Belanda,  serta  politik kolonial Belanda yang  kacau balau selama abad-abad terakhirpenjajahannnya di Asia Tenggara”, tulis Paul Van’ t Veer, dalam  bukunya De Acheh Oorlog, terbitan Amsterdam, titimangsa 1969.

 

Paul   Van’t Veer berkeyakinan,  Aceh tak bisa  dikalahkan  dengan pendekatan militeristik, bangsa Aceh  melihat bahwa perang melawan kaphe-kaphe  Belanda adalah i perang suci  dan jihad dijalan Allah. Dengan datangnya ekspedisi kaphe-kaphe Belanda, setiap rakyat Aceh adalah seorang sufi yang mempersiapkan dirinya untuk  beribadah kepada Allah di malam hari, dan berperang melawan kaphe-kaphe Belanda di siang hari.  Mereka saling berpacu  untuk mati syahid menggempur kaphe-kaphe Belanda.  Semangat yang tak pernah dapat ditundukkan penjajah mananpun di dunia itu, dirangsang oleh  akidah Islam yang sudah merasuk ke dalam tulang sumsumnya. Dan tidak  lain akidah tersebut adalah keyakinan sebagai kaum sufi yang tak pernah mau tunduk kepada makhluk dan setiap mereka memilikipembimbing ruhani (mursyid)yang sangat berwibawa dan sangat dihormati untuk dipatuhi apapun kata dan perintahnya.  Ulama sufi berhasil  melibatkan semua masyarakat Aceh untuk  bangkit melawan dan berperang, tiada kecualinya pula,  kaum perempuan Aceh yang sudah  memiliki kewibawaan sebagai perempuan merdeka dan berani mengambil resiko disebabkan ruh jihad yang tumbuh dari jiwa sufi dan tasawuf bangsa Aceh yang sudah lama tertanam di dalam masyarakatnya.empatulama Aceh yang terkenal di masa sebelum perang 1873, merupakan ulama sufi keseluruhannya dan pengaruh mereka sangat kuat terhadap  masyarakat Aceh untuk meneruskan tradisi sufi dan ketarekatan.Mereka adalah ulama  Syekh  Syamsudin Al-Sumatrani,Syekh Nurudin Al-Raniri, Syekh AbdulRauf al-Singkili dan Syekh Hamzah Fanshuri. Mereka ulama sufi yang sangat kuat pengaruhnya saat kaphe-kaphe Belanda baru datang menginjakkan kakinya di Banda Aceh atau Kutaraja  saat kaphe-kaphe Belanda menduduki Aceh.   

 

Seluruh ulama Aceh meniupkan ruh jihad kepada  seluruh rakyat Aceh dan mngajarkan tasawuf dan terekat kepada seluruh rakyat Aceh. Hampir di seluruh dunia Islam, termasuk wilayah-wilayah Nusantara (Indonesia dan Asia Tenggara) di luar Aceh, sufi, tasawuf atau tarekat telah dimasukkan pikiran-pikiran ghdwul fikri (pendangkalan ataupikiran-pikiran dangkal) tentang sufi. Termasuk Sayid usman, ulama Betawiyang menjadi kolega Snouck Hurgronje dan Hasan Mutapa, seorang ulama Garut yang juga bekerjasama dengan Snouck.   Halini agaknya selain pengaruh Snouck,juga pengaruh salah seorang penghasut dan pemfitnah yang berstatus sebagai perwira Yahudi Inggris, Edward Terrence Lawrence. Dikenal para  ulama jazirah Arab dengan identitas  Laurens Of Arabian. Ia mencoba  meneliti letak kekuatan umat Islam. Ternyata ia menemukannya pada ketaatan mazhab (baik mazhab ilmu kalam, maupun mazhab fikih,  serta sebagian umat Islam yang fanatik   mengikuti tarekat sebagailembaganya dan  tasawuf sebagai ilmunya.

Setelah mengetahui rahasia  itu  Laurens membujuk para ulama dijazirah Arabia atau bagian lain dunia Muslim, untuk menulis buku buku yang menyerang tarikat / tasawuf  dan mazhab, terutama mazhab Syi’ah sebagai musuh kaum Sunni. Rupanya dari proyek pengadaan buku tersebutlah terjadi perpecahan antara Wahabi (pemerintah dan sekte Islam yang dijadikan pion dalam dunia Islam) oleh penjajah Inggris untuk menjelek-jelekkan aliran Syi’ah yang dianut oleh masyarakat Muslim Iran (Persia). Buku-buku yang meminorkan aliran mazahab itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis Eropa. Inilah pekerjaan SnouckHurgronje dan dibantu oleh Van Heutsz untukmenghancurkanbangsa Aceh dari ajaran agamanya (perangkat lunak bangsa Aceh,berupa ajaran-ajaran islamyang ditulis dalam berbagai buku berbahasa Aceh atau bahasa Melayu.(Bersambung).

Category: 
Loading...