23 July 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (38

 

Episode 21         

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

 

Bagian Pertama

 

21

                                                             

Setelah Bonjol jatuh ada rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol karena  tindakan kaum Padri yahng rasanya kurang pantas atas sesama orang Minang, kepada orang Mandailing dan Batak, yang terlihat dalam beberapa ucapannya  sebagai berikut: "Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?)

 

Namun penyesalan tinggallah penyesalan dan  perjuangan heroik Tuanku Imam Bonjol bersama pengikutnya masih belum berakhir. Walaupun Bonjol sudah takluk, namun Imam dan seluruh pengikutnya jangan sampai tertangkap apalagi menyerah. Imam Bonjol dan para pengikutnya harus melawan dan menunjukkan kesungguhan untuk mempertahankan kehormatan diri, kemuliaan tanah air dan ketinggian agama serta keyakinan yang dianut oleh seluruh masyarakat Minangkabau.   

Namun dari pihak ‘kapia-kapia  Balando’ (penyebutan orang Minangkabau atas kaphe-kaphe Belanda, yang biasa diucapkan dalam masyarakat Aceh) ambisi dan semangat yang bertubi-tubi sangat menggebu-gebu untuk menangkap hidup Tuanku Imam Bonjol dan seluruh pengikutnya. Untuk itu bala bantuan didatangkan dari Batavia.  Kapia-kapia Balando mulai melanjutkan kembali pengepungan, inilah yang terasa kemudian oleh Imam, kedudukan Tuanku Imam Bonjol kian terpojok. Di titimangsa   bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang kapia-kapia Balando  berunding di Palupuh. Awalnya Imam Bonjol tak ingin mengikuti ajakan kapia-kapia Balando ini, namun karena posisinya kian sulit, maka Imam mempertimbangkan untuk mengikuti ajakan ini. Dengan semangat apa adanya,  tanpa jelek sangka, tak mengenal rasa  takut,  demi bangsa dan agama, serta anti penjajahan  dengan langkah tegap. Dengan keyakinan mantap Tuanku Imam menerima ajakan untuk berunding di Palupuh.

Tetapi apa yang terjadi di Palupuh?  Palupuh adalah bagian dari wilayah Tilatang Kamang , kabupaten Agam yang diperintah oleh  Asisten Wedana, beribu-kota  di Pekan Kamis.Imam Bonjol yang baru sampai di Palupuh  tidak memiliki firasat untuk dikhianati, tiba-tiba disergap oleh kekuatan kapia-kapia Balando. 

Tuanku Imam sangat kaget dengan perlakuan kapia-kapia Balando yang sangat keji, licik dan tidak fair ini. Teringatlah Tuanku Imam akan sebuah hal tentang kajian menyangkut sifat Mukjizat,  Karamah, Ma’unah, dan Irhas. Dalam waktu yang sangat singkat itu, terbayang di dalam pikiran Tuanku Imam tentang empat pertolongan  Allah yang diturunkan kepada manusia itu. Yakni Mukjizat, Karamah, Ma’unah, dan Irhas . Ada beberapa unsur yang terdapat dalam  mukjizat yang hanya dianugerahkan untuk seorang nabi dalam satu zaman, yaitu   kejadian luar biasa  tampak pada diri seorang nabi.   Adanya tantangan dari kaum yang menyangsikan kedudukan nabi yang mengajak umatnya,  tentu saja umat manusia itu tak pernah  mampu menandingi hal yang luar biasa tersebut.Biasanya nabi atau rasul menampakkan mukjizat khusus untuk saat-saat yang sangat dibutuhkan. Hanya guna  membela diri dan  menjawab tantangan kaum kafirin (kapia-kapia Balando).

Karamah, ini diperuntukkan bagi para waliullah (wali-wali Allah). Kata ini  berasal dari bahasa arab yang bermakna  kemuliaan, keluhuran, serta anugerah yang datang secara tiba-tiba dari sisi Allah. Karamah atau sering dimaknai dengan  keramat.  Karamah ini dapat memperlihatkan  sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena ketaqwaanya kepada Tuhan. Tetapi Tuanku Imam Bonjol diberikan karamah kesabaran dan menerima segala kekalahan secara fisik, mengingat segala pertimbangan bahwa posisinya sudah tidak mempunyai apa-apa dilihat dari sisi kekuatan, strategi dan tawar-menawar yang sulit diajukan oleh Tuanku Imam.

 

Akan tetapi waliullah setingkat Tuanku Imam ini tetaplah ia dalam maqam keimanan, ketakwaan, dan tetap istiqamah beramal shaleh kepadaNya setiap detik melewati waktu.

Kemudian ingatan dan memori Tuanku Imam cepat memutar dua hal yang tersisa dari 4 sifat pertolongan yang diberikan Allah kepada manusia. Ma’unah adalah pertolongan yang diberikan oleh Allah Swt kepada orang mukmin untuk mengatasi kesulitan yang menurut akal sehat melebihi kemampuannya yang terjadi kepada   orang biasa berkat pertolongan Allah. Misalnya, orang yang terjebak dalam kobaran api yang sangat hebat, namun berkat ma’unah/pertolongan Allah, ia selamat.Ma’unah berarti pertolongan. Kemudian sifat Irhas adalah kejadian luar biasa atau hal-hal yang luarbiasa terjadi pada  calon nabi atau Rasul di saat masih berusia balita, atau baru dilahirkan.  Nabi Isa saat  masih bayi merah dalam pelukan sang ibunda Siti Maryam  dapat berbicara kepada orang-orang kafir  yang merendahkan sang ibunda karena dituding telah melakukan perbuatan buruk dan terkutuk,yaitu berzina. Dengan kemampuan berbicara Nabi Isa yang disebut Irhas ini, segala tudingan orang kafir dapat dibantah oleh Allah lewat mulut seorang bayi merah yaitu bayi Nabi Isa.

 

Nah  Tuanku Imam kembali mengingat pertolongan Allah, tetapi bukan untuk memuliakan manusia. Tapi untuk menunda azab Allah yang diturunkan  pada seorang fasik, maka jika hal itu terjadi sesuai dengan tujuannya maka kemampuan luar biasa itu disebut Istidroj (tipu daya Allah Swt kepada orang-orang Kapia, dan sekaligus menguji keimanan orang-orang islam yang menghadapinya)

 

Dan jika tidak sesuai dengan tujuannya maka hal itu disebut Ihanah (Penghinaan Allah bagi orang tersebut) seperti yang pernah terjadi pada Musailimah al kadzab (kalimat musailimah dengan dibaca kasroh huruf lamnya/orang yang mengaku sebagai nabi)

 

Pada suatu hari  Musailimah berdoa untuk orang yang buta satu matanya, agar matanya yang buta itu bisa melihat. Tetapi apayang terjadi? Dengan izin Allah, mata pasien Musailimah  yang sehat menjadi buta pula.

Ada lagi peristiwa Ihanah (penghinaan Allah) untuk Musailimah. Sua hari ia  meludah ke dalam sumur, agar air sumur menjadi manis  rasanya. Tapi dengan kuasa Allah menjadikan air sumur itu berubah menjadi  asin yang sangat asin dan bahkan  terasa pahit.

 

Lalu Tunk Imam mengingat kata    Istidraj, sesuatu yang luar biasa  diberikan kepada orang fasik. Seperti, kapia-kapia Balando  semakin mudah berbuat kezaliman, kecurangan dan menipu. Dan semua dimudahkan oleh Allah, sedangkan rezkinya Allah berikan melimpah ruah, kesenangan hidup begitu mudah didapatkan, tidak pernah sakit dan celaka, panjang umur, bahkan Allah berikan keluarbiasaan pada kekuatan tubuhnya. Maka, hati-hatilah bisa jadi ini adalah istidraj baginya, bukan karamah, secara berangsur Allah menariknya dalam kebinasaan. Inilah yang diberikan oleh Allah untuk ‘kapia-kapia Balando beserta orang jahat yang suka bermaksiat.

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali ‘Imran: 178)

Ya, begitulah peran Sihir atau Istidrajyang terus dijalankan kapia-kapia Balando untuk Tuanku Imam Bonjol. DI tahun 1830 pun kapia-kapia Balando menipu Pangeran Diponegoro yang mengakhiri Perang Jawa.  Dan bukan kapia-kapia  Balando namanyha jika tgidak menipu dan memakai politik menghalalkan segala cara. Maka Tuanku Imam hanya bisa pasrah, ketika tentara kapia-kapia Balando telah mengepungnya dengan bersenjata lengkap. Akan tetapi Tuanku Imam begitu yakin: “Nikmat yang diperoleh kapia-kapiaBalando oitu hanya sementara. Untuk kenikmatan duniawiyang juga sementara. Kelak mereka akan sengsara selamanya.  Lalu seperti juga politikKaphe-kaphe Belanda di Tano Aceh,  Tuanku Imam Bonjol dibuang ke Cianjur.Namun karena sesuatu dan lain hal , kapia-kapia Balando memindahkannya ke Ambon. Disinipun Belanda masih belum merasa tenang hingga akhirnya dibuang ke kampung Lottak di pinggiran kota Manado. Undangan untuk perundingan damai merupakan   siasaat licik dari penjajah kapia-kapia Balando. Sebuah taktik yang tak dapat  dibenarkan, apakah itu di  dalam perang sekalipun – hanya akan menimbulkan malapetaka bagi bangsa yang memang tidak memiliki ketinggian moral dalam menghadapi semua persoalan di atas muka bumi.

Tuanku Imam Bonjol bernama asli Muhammad Shahab. Lahir di kota kecil Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat,  pada titimangsa  1772. Ayahnya bernama Bayanuddin  dan  ibunya bernama  Hamatun. Khatib Bayanuddin, itulah nama lengkap ayahnya adalah  seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota.

 

Dia memperoleh beberapa gelar, Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Seorang tokoh adat dan agama. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam, sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol, hingga akhirnya populer dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.(Bersambung)

Category: 
Loading...