17 August 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (37

Episode 20         

Perang batak Usai Perang Imam Bonjol

Bagian Pertama

 

Bagian Pertama

 

20

 

 

Ditangkapnya raja Minangkabau Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah  di Batusangkar pada titimangsa 2 Mei 1833 oleh Letnan Kolonel Elout, menyebabkan kaum agama dan kaum adat yang telah menyatu  - kehilangan sedikit kekuatan pengaruh moral pada pasukan tradisional Minangkabau melawan kaphe-kaphe Belanda. Terdapat orang-orang Aceh, orang tapanuli seperti Sipirok, Padang Sidempuan, Sibolga yang ikut membantu Tuanku Imam Bonjol. Juga  orang Keling, Arab , Turki dalam perang yang cukup lama dan berkepanjangan ini.

 

Belanda yang cepatdan mudah menguaxsai medan daerah Minangkabau yang berbukit dan bergunung mengepung Bonjol dari segala jurusan, Saaty itu titimangsa menunjukkan 16 Maret 1837 dan selama enam bulan mereka terus merapatkan barisan tanpa membericelah kepada kaum Padri untukbernafas dan menambah makanan dan perbekalan perang di benteng  yang terkenal kukuh itu.  Tepat pada 17 Agustus 1837 kaphe-kaphe Belanda  juga dapat menjadi apresiasinya akan kepahlawanannya menentang penjajahan, serta rincian laporan G. Teitler yang berjudul Akhir Perang Paderi: Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837.

Penyerangan benteng kaum Paderi di Bonjol oleh Belanda dipimpin oleh jenderal dan para perwira  seperti Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz.Semua perwira kulitputih itu yang sesungguhnya jumlahnya sangat sedikit kitu, dibantu oleh ribuan bahkan puluhan ribu pasukan Nusantara yang terdiri dari  orang-orang Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon dan Flores yang mau berada dan tunduk di bawah kekuasaan kaphe-kaphe Belanda. Mereka walaupun pribumi dan tak bisa berbahasa Belanda, tapi otak mereka, perut mereka dan dada mereka telah dicuci dengan air gandum dan makanan kecil seperti roti dan keju.

Benteng ini sudah beberapa dikepung oleh pihak kaphe-kaphe Belanda. Dua kali dikepung dan ingin dihancurkan, dua kali pula upaya itu mengalami kegagalan total. Benteng itu  terbikin dari dari tanah liat. Di sekitar benteng digali parit yang cukup dalam, sehingga kaphe-kaphe belanda sangat kesulitan menyerang dan menaklukkan benteng yang cukup kokoh tersebut.  

Namun peperangan itu tak begitu saja bisa ditaklukkan kaphe –kaphe Belanda dengan mudah,  maka dari Batavia didatangkan bantuan  kekuatan prajurit-prajurit kaphe-kaphe Belanda guna menundukkan daerah Minangkabau yang masyarakatnya sangat relijius waktu itu.  Pada titimangsa  20 Juli 1837 bantuan-bantuan dari Batavia tiba dengan Kapal Perle dan merapat di pelabuhan Telukbayur  Padang yang dipimpin oleh  Kapitein Sinninghe. Dalam kapal itu juga terdapat beberapa puluh  orang kulit putih, orang hitam dari Afrika yang membawa  112 flankeurs, 1 sergeant, 4 korporaals.

Flankeurs adalah  serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda dari  Ghana dan Mali yang dikenal dengan  Sepoys yang resmi  berdinas dalam korps tentara Belanda.

 Dari kalangan Inlandsche (pribumi) ada perwira yang dikenal dengan  Kapitein Noto Prawiro, Letnan Pribumi (Inlandsche Luitenant) Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero dan juga nama-nama Madura dari Sumenep seperti Maulana Santoso, Rahmat Saleh dan nama-nama yang dikenal dari Bugis dan Ambon. Orang-orang Sumenep ini lebih dikenal dengan Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenep, Madura).

Maka dengan  148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi serangan benteng Bonjol pun dimulai yang dipimpin oleh orang-orang Bugis yang berada di garis depan.

 

Tak mampu bertahan terhadap serangan massif dengan peralatan perang yang lebih modern dari yang dimiliki kaumj Padri, maka itu membuat pasukan Imam Bonjol kocar-kacir di dalam benteng. Banyak yang mati dilanyau tentara-tentara kaphe-kaphe Belanda, dan banyak pula yang selamat dan melarikan diri ke gunung-gunung di daerah pasaman.  Begitu benteng Bonjol jatuh ke tangan Belanda, Tepat pada tanggal 16 Agustus 1837, benteng Bonjol ini pun  dikuasai. Maka dengan jatuhnya benteng Bonjol, maka  seluruh wilayah Minangkabau takluk pula dibawah kekuasaan kaphe-kaphe Belanda dan resmi menjadi Pax Nederlandica.(Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...