17 August 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (31

Episode 14                             

Semangat Jihad Semakin Membara

Bagian Pertama

14

Perhatikan pula para gubernur militer dan sipil kaphe Belanda yang sempat memerintah Aceh sejak kematian Kohler di bawah  pohon Geuleumpang. Ada 26 Gubernur Jenderal selama kaphe-kaphe Belanda menginjakkan kaki di tano Aceh.

  1. Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel - Penguasa Militer (1874-1876)
  2. Mayor Jenderal G.B.F. Wiggers van Kerchem - Penguasa Militer (Maret 1876 - November 1876)
  3. Mayor Jenderal A.J.E. Diemont - Penguasa Militer (1876-1878)
  4. Letnan Jenderal K. van der Heijden - Gubernur Sipil/Militer (1878-1881)
  5. A. Pruis van der Hoeven - Gubernur Sipil (1881-1883)
  6. P.S. Laging Tobias - Gubernur Sipil (1883-1884)
  7. Mayor Jenderal M.Demmeni - Gubernur Sipil/Militer (1884-1886)
  8. Mayor Jenderal H.K.F. van Teijn - Gubernur Sipil/Militer (1886-1891)
  9. Kolonel Infanteri S. pompe van Meerdervort - Gubernur Sipil/Militer (1891-1892)
  10. Mayor Jenderal C. Djeirkhoff - Gubernur Sipil/Militer (1892-1896)
  11. Letnan Jenderal J.A Vetter - Pejabat Sementara Gubernur Sipil/Militer (April 1896-Juli 1896)
  12. Mayor Jenderal J.J.K. de Moulin - Gubernur Sipil/Militer (5 Juli 1896 -7 Juli 1896)
  13. Mayor Jenderal J.W. Stemfoort - Gubernur Sipil/Militer (Juli-Oktober 1896)
  14. Mayor Jenderal C.P.J van Vliet - Gubernur Sipil/Militer (1896-1898)
  15. Letnan Jenderal J.B. van Heutsz - Gubernur Sipil/Militer (1898-1904)
  16. Mayor Jenderal Jhr.J.C.van der Wijk - Gubernur Sipil/Militer (1904-1905)
  17. Mayor JenderalG.C.J. van Daalen - Gubernur Sipil/Militer (1905-1908)
  18. Mayor Jenderal H.N.A. Swart - Gubernur Sipil/Militer (1908-1918)
  19. M.A.G.H. van Sluys - Gubernur Sipil (1918-1923)
  20. A.M. Hens - Gubernur Sipil (1923-1925)
  21. O.M. Gedhart - Gubernur Sipil (1925-1929)
  22. A.H Philips - Gubernur Sipil (1930-1932)
  23. A.Ph. van Aken - Gubernur Sipil (1932-1936)
  24. J. Jongejans - Gubernur Sipil (1936-1938)
  25. J. Pauw - Gubernur Sipil (30 September1938-12 Maret 1942)
  26. S. Lino Syu Cokan (Maret 1942-Agustus 1945)

Nah setelah 14 gubernur militer dan sipil kaphe Belanda yang malang melintang di tano Aceh, baru pada gubernur ke 15-lah kaphe-kaphe Belanda memperoleh kepercayaan diri untuk menindas Aceh. Dengan sikap keras dan sangat kejamnya Van Heutsz, rasa perlawanan rakyat Aceh semakin dalam di hati.

Di kantor itu Snuk dan Van Heutz sedang duduk-duduk minum kopi Aceh yang wangi dan gurih  sekali diminum. Tak lupa cerutu yang menghiasi bibir Van Heutz dengan kumisnya yang runcing ke kiri kanan. Saat itu bertitimangsa 1891, mereka berdua duduk-duduk sambil berbincang tentang politik penjajahan di negeri keras “Tanah Perlawanan”.

“Menurutku Islam di Hindia Belanda harus dibedakan dalam tiga kateegori, Islam ibadah (ibadah mahdhah), Islam sebagai kegiatan social dan Islam sebagai ideologi politik.Nah Islam sebagai ideologi inilah yang akan membahayakan kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda di tanah jajahan, termasuk “Tanah Perlawanan”.” Ujar Snuk kepada sahabatnya yang berwajah  keras, tegas dan tak kenal kompromi.

Di luar kantor berjaga tentara yang menjaga keamanan markas besar kolonial gubernur Jenderal untuk Aceh yang dipimpin oleh Van Heutz sendiri. Langit terlihat agak redup, burung-burung pagi itu berkicau merdu di sekitar kantor gubernur Jenderal di atas pohon-pohon besar yang mengelilingi markas kolonial Hindia Belanda.  Tak berapa lama masuk ajudan Van Heutz member hormat di depan pintu masuk. Snuk terperangah sesaat, menatap perwira kulit puitih, sebangsaanya sendiri. Setelah selesai melapor keadaan kembali normal, ajudan itu duduk berhadap-hadapan dengan Snuk. Ia telah lama tahu siapa Snuk sebenarnya. Seorang professor dari Universitas Leiden, Negeri Belanda.

Tak lama Snuk kembali berkicau menatap Van Heutz:” Selama aku mengadakan penelitian di Arab tahun 1885 yang tak sampai satu tahun, kemudian di pulau Jawa antara tahun 1889 sampai 1890 dan beberapa bulan ini di sini - Aceh (1891), Islam itu hanya dapat diklasifikasikan dengan tia tingkatan itu. Dan yang paling membahayakan dari semua umat Islam adalah kaum Tarekat aytau kaum sufi. Inilah bagian umat islam yang paling bernhaya bagi pemerintah  kolonial di manpun di dunia. Sebagai contoh tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Jawa di tahun-tahun belakangan ini, mendorong masyarakat untuk bersatu dalam satu barisan yang membawa panji-panji mileniarisme, nativisme, ratu adil dan akhirnya arekat ini bergerak melawan kekuaan pemerintah kolonial setelah disirami habis dengan ideology “Jihad fi Sabilillah”. Tidak ada faham dalam islam yang paling berbahaya di dunia ini bagi kekuasaan di luar mereka (kaphe-kaphe Belanda dlsb) kecuali tarekat. Kekuatan Islam syari’at tidak ada apa-apanya dalam kehidupan yang bersinggungan dengan kekuasaan kita. Mereka gampnag dikalahkan, karena nafas keagamaan mereka bukan bersumber dari Allah, Rasulullah dan guru mursyid mereka yang selalu melafalkan kalimat tauhid “Lailaahaillah” dalam setiap geraak-gerik nafas mereka. Bahakn dalam tidurpun semangat tauhid itu pun masih mereka zikirkan dengan teguhnya!” Ujar Snuk menatap Van Heutz dalam-dalam.

“Dalam tidur?” Tanya Van Heutz.

“Coba saja lihat tidurnya orang syariat (yang tak bertarekat) dengan tidurnya orang bertarekat, sangat jauh bedanya. Itu terlihat kalau kita terbiasa dengan kehidupan muslim di berbagai belahan dunia yang pernah aku teliti. Kalau orang syariat, kita kalahkan, budayanya pun dengan mudah kita taklukkan setakluk-takluknya. Tapi kaum tarekat, tidak semudah itu kita mampu menaklukkannya. Walaupun mereka telah takluk, tetapi budaya mereka tak ada yang pernah mampu menaklukkan, dan kita hanya mengalienasi mereka dengan menyebut mereka sebagai kaum surban, kaum kolot, kaum terbelakang, kaum jumud dlsb. Kalau kaum syariat dengan mudah kita ganti pakaian mereka dengan pantaloon, dengan kemeja dan jas (dengan demikian mereka pun bangga dengan menamakan dirinya kaum modernis). Padahal budaya mereka telah kita setir dan kita taklukkan sedemikian rupa. Tapi kaum tarekat, walaupun sudah kalah sekalipun dengan popor senjata, budaya mereka tetap saja pakai sarung, pakai jubah, pakai surban dan gemar berpakaian putih-putih a la ahaji yang baru pulang dari Mekah. Itulah keunggulan mereka!” Papar Snuk panjang lebar.

Ke depan kita akan mencoba mengadu domba dua entitas umat islam ini dengan segala cara. Sebenarnya kedua golongan ini sama benarnya dalam maqam (tingkatan) mereka masing-masing, seperti halnya orang Katolik dan Protestan dalam agama Kristen, kedua entitas ini berada dalam jalan yang sama menuju Yesus, Bunda Maria dan Tuhan Bapa. Tidak ada yang salah! Tidak ada!” Ujar Snuk menggoyangkan-goyangkan telunjuk kanannya.

“Yang salah apanya Tuan Profesor!” Tanya Van Heutz.

“Dalam Islam kita melihat kelemahan mereka, bahwa mereka gampang sekali membenarkan diri sendiri, membenarkan golongan dan anutan (faham)nya sendiri, di luar apa yang mereka fahami dipandang sesat. Inilah celah kita melemahkan umat Islam yang bertarekat dan yang tidak bertarekat.

“Nah kembali kita ke tarekat, sebuah gerakan yang berbahaya ini. Aceh, hampir seluruhnya dari masyarakat islam di sini, adalah enganut-penganut tarekat yang fanatik.sebenarnya islam politik itu (dalam keadaan tertindas) hanya  ada dalam tarekat.di luar itu tidak ada Islam politik, kecuali mereka yang mau berbagi(kompromi) dengan penjajah. Kaum tarekat tidak punya kompromi kecuali melawan dan mati dalam jihad fi sabililklah dan berjuang sampai titiik darah terakhir. Sebagai contoh, gerakan Diponegoro, Imam Bonjol, Pertempuran di Palembang, pemberonakan di Banten dan Borneo merupakan perlawanan tarekat yang sangat sulit kita taklukkan. Dari semua gerakan tarekat yang terbesar dan paling lama dan sangat liat itu adalah Aceh ini sendiri. Oh, puji Tuhan Yesus, ini benar-benar sebuah kelompoik tarekat yang luarbiasa hebat, didukung oleh para ulamanya yang menyatu dengan umat islam di sini, mereka menjadi wabah peperangan terbesar bagi balanda selama menjajah di bagian manapun di dunia. Tidak di Afrika, tidak di Suriname (Amerika Latin) dan Asia (Hindia Belanda).

Van Heutz dan ajudannya memperhatikan dengan penuh seksama. Karena itu, kita akan mengharamkan tarekat atau faham sufi kepada umat islam di seluruh dunia, karena tidak sesuai dengan mentalitas budak sebagai kaum terjajah. Mereka (Kaum Tarekat) hanya membudak kepada Allah saja, selain itu mereka tidak mau membudak, itulah yang menjadi persoalan besar poilitik penjajahan pemerintah Hindia Belanda di “Tanah Perlawanan” ini. Karena itu, kaum tarekat ini akan perangi habis-habisan.

 

 Aku nasehatkan kepada tuan gubernur Jenderal, agar golongan Keumala (kaum bangsawan Aceh yang bermarkas di Keumala) dan seluruh antek-antek pengikutnya , biarkan saja, tak udah diperdulikan. Kedua, untuk selalu memburu habis-habisan kaum tarekat (ulama dan para murid-muridnya yang terdiri dari hampir seluruh rakyat Aceh. Dengan mereka ini , tidak kata perundingan dan berbaik-baik sangka, kecuali setelah mereka takluk, maka beri mereka ultimatum, mati atau tetap tunduk kepada pemerintahan yang sah Hindia Belanda. Selanjutnya Pemerintah harus berketetapan hati untuk terus mengukuhkan kuku kekuasaannya di pusat (ibukota) Aceh, yaitu Kutaraja. Dan terakhir, pemerintah harus menunjukkan niat dan jasa-jasa baik kepada seluruh rakyat Aceh dengan membangun mesjid yang sudah hancur, membangun mesjid dan mushala yang baru, mendirikan meunasah, dayah, memperbaiki jalan-jalan, mengobati rakyat yang sakit, membangun irigasi, membangun pasar dan apa saja yang berhubungan dengan kemaslahatan rakyat banyak. Sehingga rakyat secara perlahan akan mengikut kepada pemerintah, dan meninggalkan ulama yang selama ini mereka anut dan panuti itu. . Hendrikus Colijn (kelak menjadi Perdana Menteri Belanda), merebut sebagian besar Aceh. Henrickus Collijn, ajudan Van Heutz terkagum-kagum mendengar paparan dan ceramah Snuk, di meja kerjanya di kantor gubernur jenderal di Kutaraja di tahun 1891 itu. Ia berdecak kagum sambil mengemeretakkan giginya dan berdecak yang terdengar di mulutnya. Ia memandang sebentar kepada Van Heutz , atasannya sambil membayangkan  dalam pikirannya dengan mengatakan”Betapa hebat orang yang satu ini, yang kebenaran  berada di hadapan mereka berdua!”.

Sewaktu pertempuran meletus di Kota Jantho 60 km dari Kutaraja, terdapat seorang pemuda dari Lambaro yang memakai senapan laras panjang. Nama pemuda itu Amin Pule  yang suka menembak kaphe-kaphe Belanda  sambil menari-nari. Saat itu rupanya Amin Pule  menewaskan tiga kaphe-kaphe Belanda yang terdesak dalam perang tak seimbang antara 10 mujahidin Aceh melawan 3 serdadu kaphe-kaphe Belanda. Mendengar berita itu, van Heutsz berang sangat dan segera mengejar mujahidin-mujahidin Aceh itu sampaike tengah rimba. Tapi sampai di rimba, pasukan van Heutsz epertikehilangan jejak. Kini mereka berada dalam peta buta.(Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...