22 July 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (20

Episode 3

Semangat Jihad Semakin Membara 

Bagian Kedua    

3             

 

 

Dalam Perang Aceh episode pertama yang bertitimangsa 1873-1874 di bawah pimpinan Panglima Polim dan  Sultan Mahmud Syah menantang JHR Köhler  yang membawa 3000 serdadunya, dan seluruh rakyat Aceh bahu membahu menerima serangan biadab dan tak berperikemanusiaan itu.  Kafir Quraisy, orang maling kesiangan masuk ke kota Madinah, asalnya mereka dari kota Mekah. Kaphe-kaphe Belanda, nun jauh dari Eropa Barat  yang masih terlalu kampung, jaraknya yang sedemikian jauh datang ke Tano Aceh. Kaphe-kaphe Belanda, maling kesiangan masuk ke kota Banda Aceh. Akhirnya dua-duanya sama-sama menemui ‘kehancuran’nya. Yang satu ,  seperti pertempuran Badar yang menewaskan  Abu Jahal  pada 17 Maret 624 M bertepatan dengan 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Di kota Banda Aceh, JHR Kohler juga dapat ditewaskan pada tanggal 14 April 1873 oleh mujahidin-mujahidin Tano Aceh.

Sepuluh hari kemudian, di Aceh  perang bergelora dan bagaikan api merebak di mana-mana. Pasukan mujahidin Aceh yang telah begitu sabar, yang begitu tabah, yang begitu menerima segala takdir Allah (namun tidak menerima takdir dalam arti menerima nasib terjajah). Takdir adalah tanggal terjadinya penyerangan kaphe-kaphe Belanda di Tano Aceh. Takdir adalah sesuatu yang tak dapat ditolak, bahwa mengapa kami menjadi sebuah bangsa,yakni bangsa Aceh.  Sedangkan terjajah atau tidak,  adalah nasib yang dapat ditentukan oleh niat, tekad dan semangat kami sebagai bangsa Aceh – secara bersama-sama ingin mempertahankan hidup mulia, atau  mati syahid (Udep Sare, Matee Syahid) . Inilah pertahanan dan perang paling besar merebut  Masjid Raya Baiturrahman dari tangan kaphe-kaphe Belanda.  Seluruh laskar pasukan mujahidin Aceh turun gelanggang. Mereka relamenjemput mati, demi mempertahankan kemuliaan rumah Allah (Mesjid Baiturahman), sehingga banyak pasukan yang terdiri dari pasukan  Peukan Aceh,  Peukan Bada, sampai Lambada, Lambhuk, Lampu’uk Krueng Raya dan masih banyak lagi pasukan-pasukan yang ikut turun memegang bedil, mengayunkan pedang dan menghunjamkan rencong kepada siapa saja yang mencoba bertahan dari masjid Baiturrahman yang bukan  haknya.

Ribuan manusia tumpah ruah datang dari  Pidie, Peusangan, Teunom, Gayo, Alas sampai ke negeri yang jauh seperti Singkil.  Maka berkecamuklah  pertempuran di depan masjid Baiturrahman, bagaikan riuhnya Perang Badar, yang dibantu para malaikat dari langit. Kemenangan di perang Badar para malaikat  berpesta pora disebabkan -  inilah pertama kali malaikat-malaikat Allah diperintah oleh Allah membantu  perang orang-orang mukmin di bawah komando malaikat Jibril As. Malaikat yang terjun ke medan perang Badar, bukan sembarang malaikat. Tapi malaikat-malaikat pilihan yang mampu mencari musuh-musuh penting untuk dibunuh. Apakah Abu Jahal dibunuh oleh pemuda-pemuda mukmin dibawah komando Muhammad Rasulullah? Konon menurut cerita yang menyaksikan bahwa Mu'awwadz dan Mu'adz, dua pemuda yang  belum pernah berjumpa dengan Abu jahal langsung mendekatinya. Mu’awwadz memancung kepalanya, sedangkan Mu'adz menusuk perutnya. Abu Jahal yang sedang sekarat itu, disudahi oleh Abdullah bin Mas'ud.

Mendengar kabar berita tewasnya Abu Jahal,Rasulullah Muhammad Saw langsung berkata:”Sungguh,dia adalah Fir’aun di zaman ini”.

Akhirnya,   kemenangan kaum mukmin  di Badar membuat para  malaikat berjoget-joget bergembira dan berpesta karenanya. Sebab ini merupakan peristiwa pertama  pertama para malaikat mendapat izin dari Allah berperang di bawah komando Malaikat Jibril As dan nabi Muhammad Saw. 

“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Q.S.An Anfal:9)

Apakah kaum mujahidin Aceh juga tidak dibantu oleh para malaikat-malaikat pilihan-Nya yang pada akhirnya komandan peletonnya JHR Kohler tewas secara mengenaskan? Tertembak di dadanya di bawah pohon geuleumpang di depan masjid Raya Baiturrahman?
Kekosongan kepemimpinan Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler yang tewas megenaskan itu, secepat kilat diisi oleh  Kolonel Eeldert Christiaan van Daalen. Senjta termodern dengan merek  Beaumont  diturunkan untuk melawan kaum mujahidin Aceh yang berprinsip “Udep Sare, Matee Syahid”. Akan tetapi ‘Beaumont’ yang canggih itu tak mampu berbicara di tangan kaphe-kaphe Belanda, yang akhirnya membuat kaphe-kaphe  Belanda  undur diri ke  pulau Jawa, tepatnya ke Batavia.  Mayor F. P. Cavaljé yang ikut menyerang istana Sultan Aceh, hanya gigit jari  karena tak bisa bertahan di istana karena banyak tentaranya yang tewas dan luka-luka. Demikianlah, arsitek-arsitekperang kaphe-kaphe Belanda seperti   F. N. Nieuwenhuijzen dan Jendeal Loudon juga ikut lari terbirit-birit menyelamatkan diri ke Batavia.

 George Frederik Willem Borel, kapten artileri kaphe-kaphe Belanda menyatakan bahwa :”Serdadu kami  dapat merebut daerah pantai jika memperoleh kepastian adanya wilayah yang lebih stabiluntuk bertahan. Sementara Komando Marinir Koopman tak mampu menerangkan kepastian gerak maju pasukannya, karena dihadang oleh   angin muson yang sangat buruk. Bantuan padsukan baru dari Batavia tak dapat didaratkan dan terpaksa kembali ke laut.  Karena banyaknya kesulitan demi kesulitan yang dialami pasukan kaphe-kaphe Belanda ini,  para koamndan diatasnya saling menyalahkan, dan para kapten serta mayor yang di bawahnya jadi bulan-bulanan dibully para atasannya karena kegagalan serangan tersebut.  Dan ini menjadi polemic dan debat berkepanjangan hingga menjadi perang “Headline” dikotan-koran Belanda, baik di Batavia maupun di Nederland sendiri.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan segala kesulitan-kesulitan di phak kaphe-kaphe tersebut? Boleh jadi, pasukan para malaikat kembali turun setelah 12 abad lalu di perang Badar. Malaikat-malaikat pilihan menjadi pasukan yang bekerja tanpa terlihat oleh prajurit kaphe-kaphe Belanda yang sangat materialistis (tidak percaya hal-halgaib) tersebut. Ini disebabkan karena mujahidin-mujahidin Aceh terdiri dari orang-orang tarekat yang selalu  menyebut-nyebut nama Allah ,  nama para malaikatNya, dan nama para nabi-Nya. Sehingga Allah yang mencintai orang-orang yang selalu menyebut-nyebut namanya, nama para malaikat-Nya dan nama para Nabi-Nya – menjadikan Allah selalu ingat kepada hamba-hamba yang merindukan-Nya. Sehingga datang bantuan Allah yang tiada terduga datangnya.  

Allah SWT menyebutkan  bantuan dengan  pasukan-pasukan malaikat itu adalah untuk memberikan bukti lahiriah untuk menenteramkan hati orang-orang beriman. Namun Allah Swt menegaskan: “Jangan  dianggap  kemenangan orang-orang mukmin tersebut  karena bantuan  malaikat. Ingat! Bantun yang hakiki itu  dari Allah Swt, yang dengan izin-Nya mengirimkan pasukan malaikatsehingga kaum mukminin mencapai kemenangan.

seperti Firman-Nya Dalam Surat Al-Anfal Ayat 12:

Ketika Allah mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku beserta kamu sekalian, maka teguhkanlah (hati) orang-orang beriman. Akan Aku timpakan kedalam hati orang-orang kafir rasa ketakutan. Maka tebaslah leher mereka dan juga jari-jemari mereka”.

Itu menunjukkan bahwa para malaikat diperintah oleh Allah SWT untuk melakukan apa saja, demi membantu hamba-hamba-Nya yang beriman dalam memperjuangkan kebenaran  agama Allah,  baik di Medan Badar 17 Maret 624, maupun di kota Banda Aceh ditahun 1873

Kini dapatlah kita memperoleh pengetahuan, bagaimana  para malaikat itu tak hanya meneguhkan hati dan  pendirian orang-orang beriman,  tetapi malaikat-malaikat itu juga  aktif bertempur dan menghalangi upaya dan usaha orang-orang kafir dalam perang melawan orang-orang beriman yang menjadi hamba-hamba terkasih Allah Swt di Tano Aceh. Ini diabadikan oleh   Abu Dawud Mazani dan Suhail bin Hanif yang meriwayatkan hadits: “Ketika kami baru mengarahkan pedang kami kepada lawan, leher mereka telah terpenggal sebelum pedang kami menyentuh mereka.”

Inilah buktgi bahwa  para malaikat ikut  berperang melawan orang-orang kafir.Sehingga di Aceh,para komandan di lapangan sudah mengalami kekalahan , mereka berbantah-bantahan menyesalkan kekalahan demi kekalahan yang mereka derita. Karena mereka kafir dan tak mengerti apa itu pengertian ikhlas dan bertawakkal kepada Allah ‘Azza Wajalla,  yang memiliki kekuasaan dan mempunyai kehendak semaunya Dia sendiri. Baca dan renungkanlah ayat 50 dari Surat Al-Anfal berikut ini: 

“Dan Jika saja kamu dapat menyaksikan ketika para malaikat itu mencabut jiwa orang-orang kafir itu, dihantamnya wajah-wajah mereka dan punggung-punggung mereka seraya berkata, “Rasakanlah olehmu siksaan api yang membakar.”

Inilah ayat yang menerangkan  ketika para malaikat memisahkan jiwa orang-orang kafir  dari tubuh mereka, mereka disiksa dengan hebat. Tubuh mereka dicambuk dengan cambuk besi panas membara ke  wajah dan punggung mereka yang menyebabkan mereka menjerit kesakitan dan tewas seketika.

Perlawanan bersenjata  dalam jalan  Allah  (Fi Sabilillah) merupakan  satu aspek Jihad. Karena itu,  jangan melihat Jihad sebagai  sebuah kegiatan ‘Zalim”(baca: Ganas kepada musuh-musuh Islam) dan tak mengenal  perikemanusiaan. Itu xsemata gambaran orang-orang kafir terhadap jihad yang merekaabadikan dalam film-film Amerika dan Eropa yang menyesatkan.  Jihad memiliki  tujuan dan pemeliharaan  baik materi dan akhlak, berupa  pemeliharaan diri sendiri, harta benda, ternak dan kebun-kebun,  sawah-sawah dan pemeliharaan peraturan akhlak (moral) di tengah masyakarat dunia." 

Peraturan perang di dalam agama Islam senantiasa  dikembalikan kepada hukum Islam dan fiqih yang dipandu  para ulama dengan  cara yang benar dalam Islam yang harus dipatuhi  para Muslim dan Mukmin. Kewajiban jihad tetap akan berlangsung hingga hari akhir zaman sampai kiamat. Jihad di sini tidak hanya dalam pengertian berperang di medan laga perseteruan manusia antar manusia, tetapi juga di medan dada, saat manusia dan Iblis yang bersatu dengan hawa nafsu manusia, berlaga di medan jiwa yang terdapat di dalam dada. Jihad yang terakhir ini sangat tidak dikenaldi kalangan kaphe-kaphe Belanda dan kaphe-kaphe lainnya. Terhadap jihad keduanya ini: Jihad fisik dan jihad jiwa (non-fisik) sebagaimana ditegaskan nabi Muhammad Saw bahwa jihad non-fisik sebagai jihad terbesar (jihad melawan hawa nafsu). Namun jihad bagi kedua-duanya adalah  fardhu ‘ain bagi bagi setiap muslim dan mukmin. (Bersambung)

 

Category: 
Loading...