19 June 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (04

 

 

Episode  4

 

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda  (04

 

Bagian Pertama

 

4

 

Berpacu dengan gelombang, pelaut-pelaut kaphe-kaphe Belanda itu terus memacu kapalnya untuk sampai di Aceh. Tetapi ombak dan gelombang selalu menjadi penghalang gerak mereka, untuk bisa sampai di Tanoh Aceh yang kaya raya. Sejarah hubungan Aceh dengan Belanda sebagai dua negara berdaulat, kini telah tamat. Saat itu, betapa kejayaan Belanda didukung oleh Aceh. Sewaktu Laksamana Sri Muhammad dan Mir Hasan hadir pada perayaan kemerdekaan Belanda dari penjajahan Portugis,  bukan hanya sekedar mendukung kemerdekaan, tetapi juga kedua petinggi Aceh itu memberikan surat dan dokumen kerja sama Aceh-Belanda kepada Pangeran Mauritz yang menjadi Raja  Belanda pada Dinasti Orange 1585 - 1625.

 

Belanda yang terjepit oleh kekuatan dominasi Portugis dalam upaya mengembangkan kekuatan ekonomi dan  perdagangan di negerinya sendiri, mencari celah untuk bekerjasama dengan Aceh. Di dalam negeri, Belanda tak mampu berpijak di atas kakinya sendiri dalam menegakkan perekonomian negaranya tahun 1602.  Raja Mauritz berharap, diplomasi serta  kerja sama dengan Aceh mampu mengeluarkan keterkucilan dan kekerdilan para pedagang Belanda dari  dominasi Portugis di Belanda. Di luar negeri, Belanda sudah tercekik dominasi dagang Portugis dan Spanyol dengan penguasaan jalur sutera di laut  Gibraltar, Samudera Atlantik, sampai ke  Samudera Hindia.

 

Di tengah kecamuk perang yang demikian dahsyat, dialog yang dulu pernah terjadi antara Razali dan Tengku  Hanifah muncul lagi. “Ini sebagian kabut besar yang ditiupkan tangan-tangan kotor dari negara Barat, termasuk ‘gereja’ untuk menjadi masalah yang sangat jelas haram” Ujar Banta Sakim.  Kalau dulu mendiskusikan tentang sufi yang dijadikan sasaran empuk pelemahan Islam oleh kaphe-kaphe Belanda yang disebarkan ke tengah masyarakat, sehingga masyarakat akhirnya bersikap anti-sufi, bahkan membenci kaum Tarekat dan kaum sufi.  Benih-benih racun anti sufi disebar oleh sang arsiteknya Snouck Hurgronje ke tengah umat, bahwa kaum sufi itu adalah orang malas, orang yang tak punya visi ke depan, maka kini dialog mereka tentang hal-hal yang cukup kontroversial di tengah-tengah para ulama dan umat Islam di Aceh. Razali lalu berkata: Teungku Hanifah, sekarang ini lumayan, ya walaupun tidak banyak – tapi ada beberapa  ulama yang merokok, bagaimana menurut pendapatmu? Bahkan syekh saya tempat mengaji di Dayah Teungku Hanifah adalah perokok berat?” Kata Razali lanjut

 

Teungku Hanifah bertanya: Bagaimana merokok menurut pendapat syekh kamu di Dayah Al-Ikhlas di daerah Pidie ?”

 

Menurut syekh aku,  merokok itu makruh, jawab Razali. Banta Sakim hanya mengangguk-angguk saja dan terus mengikuti dialog tentang rokok di antara dua sahabatnya.

 

Anakku Razali (penyebutan anak di sini bukan dimaksukan anak kandung, tapi karena statusnya masih muda, maka orang tua memanggilnya sebagai anakku sebagai sebuah simbol keakraban), apakah kau puas dengan pendapat syekh kamu bahwa merokok itu makruh?

 

Sementara saya belum sanggup mengatakan puas atau tidak puas Teungku. Tetapi menurut hati kecilku, bahwa banyak hal yang kurang baik dari merokok. Misalnya penyakit batuk-batuk, adanya mujahidin yang sedang berperang kehausan dan harus terkena serangan jantung karena ketergantungan dengan rokok. Mujahidin yang suka merokok juga mudah lelah dan capek, baru saja –semangat-semangatnya mengokang senjata melawan kaphe Belanda, tubuhnya sudah roboh dan tak diketahui apa penyebabnya.  Banyak pula yang mati dalam pertempuran, matinya tiba-tiba dan tak tahu penyebabnya. Padahal,  ia tak dikenai oleh sebutir peluru kaphe-kaphe Belanda pun. Jawab Razali.

 

“Ah, mana mungkin, kalau orang merokok bisa begitu fatal akibatnya?” Tanya Banta Sakim menyela.

 

Razali, itulah penyakit jantung. Tetapi itu mungkin karena ia merokok istiqamah, pecandu rokok berat. Ia merokok yang sangat kuat, sehingga ketergantungannya kepada nikotin tembakau tak bisa ia lawan,  akhirnya ia tak bisa hidup tanpa rokok. Para ulama yang sudah kecanduan rokok, dan mengajarkan pula secara tidak langsung kepada santri-santrinya bahwa merokok itu hanya makruh, itu adalah satu penodaan ajaran agama yang dibuat oleh syekh kamu.

 

Razali menjadi gelisah mendengar jawaban Teungku Hanifah yang memang dikenal luas pengetahuan  agama, pengetahuan umum dan pengetahuan mengenai ilmu hikmah yang dia tuntut dari Syekh Ahmad Syarif Al-Sanusi di Tanah suci yang sering bolak-balik dari Mekah ke Libya. Sebelumnya ia belajar kepada syekh  Ahmad  Ali Al-Sanusi (1787–1859). Setelah wafat Syekh Ahmad Ibn Ali Al-Sanusi, Teungku Hanifah lalu berguru kepada penggantinya  Syekh Ahmad Syarif Al-Sanusi (1873-1932)

 

Perlu kau ketahui Razali, Muhammad bin Ali as-Sanusi adalah seorang imam yang telah mencapai ma’rifat (‘Arif  billah). Beliau senantiasa mengajak untuk kembali kepada sunnah Nabi, karena ia adalah seorang ahli hadits. Apakah dalam sunah nabi, dalam satu haditsnya yang manapun,  adakah ada sebuah hadits yang menerangkan beliau merokok? Ia selalu mengajak umat kembali kepada Allah bagi generasi muda  yang datang belakangan (umat akhir zaman). Dia seorang  wali Allah yang diakui berilmu tinggi dan tak pernah gentar dengan orang-orang kafir. Hidup wara’, zuhud dan selalu berkhalwat, walaupun ia berada dalam keramaian. Dalam kitabnya al-Salsabil al-Mu’in fi al-tara'iq al-Arba’in beliau bercerita tentang bagaimana beliau menemukan tarekat yang beliau anut saat beliau hidup :

 

“Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kami dengan para ulama besar dan orang yang telah mencapai “mukasyafah”. Kami juga telah mempelajari tarekat mereka dan mengambil ijazah sebagian besar dari tarekat itu. Kemudian aku mencoba untuk mengikuti salah satu dari tarekat yang berjumlah 40 itu dan akhirnya aku mendapatkan satu tarekat yang memiliki sanad yang tinggi  yaitu  Tarekat Al-Sanusiyah”

 

Razali, Syekh ini mengatakan bahwa tak ada satu haditspun  dapat ditolak, kecuali yang terang-terangan isinya bertentangan dengan akidah (iman) dan islam (syari’at). Dalam literatur sufi, tidak ada kategori hadits saheh, dha’if, gharib atau hadits apapun namanya, jika itu datang dari Nabi Muhammad Saw, tetaplah hadits itu  dapat dipercaya dan dipegang isinya sebagai ajaran agama yang baik. Aku yakin itu berasal dari ucapan Nabi Muhammad Saw. Contohnya hadits ini: Rasulullah Saw pernah bersabda (maksudnya) : “Kelak… akan datang kaum-kaum di akhir zaman, mereka suka menghisap asap tembakau dan mereka berkata: Kami adalah umat Muhammad, padahal mereka bukan umatku dan aku juga tidak menganggap mereka sebagai umatku, bahkan mereka adalah orang yang celaka”

 

Abu Hurairah R.A yang mendengar sabda tersebut bertanya: “Bagaimana sejarah tembakau itu tumbuh wahai Rasulullah?”  Sabda Rasulullah SAW : “ Sesungguhnya setelah Allah menciptakan Adam dan memerintahkan para malaikat untuk sujud (tanda penghormatan) kepada Adam, seluruh malaikat  kemudian sujud kepadanya kecuali iblis. Dia enggan sujud dan bersikap sombong dan termasuk orang-orang yang kafir. Allah bertanya kepada iblis : Wahai iblis apa yang menyebabkan kamu tidak mau sujud ketika Aku memerintahkan mu? Kata iblis : Aku lebih baik darinya, aku tercipta dari api sedangkan ia dari tanah. Allah berfirman: Keluarlah engkau dari syurga, sesungguhnya engkau terkutuk dan engkau dilaknat hingga akhir zaman. Iblis keluar dari surga ketakutan hingga terkencing-kencing. Dari titisan kencing iblis itulah tumbuh sejenis tumbuhan yang dinamakan pohon tembakau.  Nabi bersabda lagi : “Allah memasukkan mereka ke dalam neraka dan sesungguhnya tembakau adalah tanaman yang keji.”

 

Banta Sakim lalu berkata:”Mengapa hadits itu dikatakan dha’if? Bukankan di dalam hadits itu ada keterlibatan Abu Hurairah. Abu Hurairah bukan sembarang perawi hadits. Jika beliau merawikan hadits tersebut, maka hadits itu pasti  shahih.”

 

“Betul, aku setuju denganmu!” Seru Banta Sakim.

 

Debur ombak sore itu meningkahi pantai di utara Kutaraja. Razali ,  Banta Sakim dan Teungku Hanifah terlihat lagi bertiga  di sana. Mereka melanjutkan diskusi yang masih tersisa kemaren. Tetapi semakin mereka terus berdiskusi semakin panjang dan terus saja mereka berdiskusi membahas beberapa  masalah.

 

Sayang sekali umat Muhammad Saw ini ilmu dan pengetahuannya bertingkat-tingkat. Ada yang terlalu tinggi, ada yang sedang dan ada pula yang rendah. Ada yang luas wawasannya, ada yang sempit.Tetapi lebih dari itu, adalah yang sangat berbahaya adalah rendahnya keyakinannya kepada Nabi Muhammad dan ajarannya.  Bagi yang rendah tingkat imannya dan fanatik, sulit menambah ilmu. Dia bersikap tertutup. Inilah sasaran empuk bagi bangsa-bangsa kuat yang selalu menyasar tubuh bangsa Aceh dan agama Islam.  Mereka yang  rendah tingkat keimanannya , apalagi miskin pengetahuan dan sangat fanatik dengan ajaran yang dipegang yang sempit itu,  lebih merasa sangat puas dengan ilmu yang telah mereka dapatkan. Apakah ilmu itu berasal  dari  kyai atau syekhnya. Padahal, dalam Islam, seorang santri atau seorang murid harus mencari banyak ulama untuk mendapatkan pengetahuan yang  lebih luas dan beragam dari sebelumnya. Ia harus mencari ulama  yang lebih tinggi lagi ilmunya dari ilmu yang telah ia dapatkan dari ulama (guru) sebelumnya.  Inilah yang jarang dilakukan oleh umat Islam sekarang, termasuk umat Islam Aceh saat ini. Ujar Teungku Hanifah.

 

Apa contohnya Teungku Hanifah, ujar Razali.

 

Ada diskusi di mesjid Baiturrahman beberapa waktu lalu yang berakhir dengan kisruh dan nyaris bentrok, karena mereka saling mempertahankan pendapatnya masing-masing.

 

Si A mengatakan bahwa merokok itu haram. Tetapi temannya  si B menjawab bahwa merokok itu makruh 

 

Lalu si A menjawab begini:

 

Yang bilang makruh ulama. Yang bilang haram ulama. Ulama mana yang waratsatul anbiya? Tentu saja ulama yang mengharamkan. Karena mengikuti sunnah nabi mulai dari nabi Adam sampai nabi Muhammad saw. Karena keseluruhan nabi-nabi tersebut tidak ada yang merokok.

 

 Lalu si B menjawab begini:  Terlalu naif menuduh ulama yang memakruhkan rokok bukan waratsatul anbiya . Anda itu orang thariqah jangan asal bicara!   Saya itu paling tidak senang ada yang menyalahkan ulama walaupun tidak sependapat dengan kita.    Saya diajari jangan suka menyalahkan ulama                    

 

Si A pun menjawab pula:    Tidak ada yang salah di sini. Yang salah itu bukan ulamanya. Tapi kelakuan yang menjabat ulama. Ulama adalah lembaga. Tapi bagaimanapun ulama itu sebagai lembaga, para pemangkunya  tetaplah makhluk yang bisa salah dan bisa benar. Pemegang martabat ulama terdiri dari banyak orang yang memahami agama Islam dari berbagai segi. Ada ulama ahli fiqih, ada ulama ahli kalam, ada ulama ahli tasawuf. Dan ada ulama yang ahli keseluruhannya, faham fiqih,faham ilmu kalam dan faham pula tasawuf (Islam,Iman dan Ihsan). Kita tetaplah menghormati semua ulama, tetapi ‘af’al (amalan/perbuatan) dan martabat ulama itu bertingkat-tingkat. Apakah kita akan mengikuti ulama yang memakruhkan merokok, yang bila dilihat dari tingkatan martabat nabi-nabi yang tak satupun di antaranya yang merokok? Coba, ditingkat manakah ulama yang memakruhkan merokok?  Otomatis mencintai rokok dan merokok? Adakah nabi dan para Rasulyang mencintai rokok? Saat ini masih lebih banyak ulama yang lebih luas ilmunya dan tak tersandera oleh nikotin dalam tubuhnya yang menggambarkan nafsu dirinya akan kecanduan tembakau. Itulah gambaran pemangku ulama sebagai orang yang tak mampu menguasai diri jika berhadapan dengan makhluk lemah, yaitu rokok atau tembakau?   Kelakuan sebagian ulama. Allah juga akan menghisabnya di padang mahsyar nanti. itu informasi yang saya terima dari quran dan hadits.                      

 

Sebuah hadits menerangkan bahwa - kelakuan nabi Muhammad itu al quran. Silahkann tafsir sendiri.

 

Si B pun tak kalah menjawab:  Jangankan sarjana. Anak SD pun faham dengan perkataan anda. Kalau pernah di pesantren salaf akan tahu siapa siapa ulama yang memakruhkan merokok. Beliau-beliau  bukan ulama biasa. Ulama yang kitabnya jadi acuan ulama lagi .  Sudahlah jangan suka membela diri. Hormatilah pendapat yang lain. Fokuslah terhadap diri sendiri. Betulkah sudah benar-benar mencontoh nabi dalam segala galanya ? Apakah orang-orang  thariqah suka berkata seperti anda? Yang saya tahu mereka itu bijak dalam berkata . Saya tidak suka berdebat .                      

 

Si A pun menjawab:  Ya. Serahkan semua kepada Allah wahai si B, saya hanya orang bodoh. Walaupun bodoh dapat membedakan kelakuan ini baik, kelakuan itu buruk. Jadi kalau berpanjang-panjang berdiskusi di sini menghabiskan waktu. Anda orang tarekat juga. Ini kata syekh Ahmad Al-Syazali: tidak ada kewalian bagi yang melakukan kelakuan/pekerjaan yang sia-sia. Termasuk merokok. Nanti saya akan menjadi saksi bersama anda  di hadapan Allah di padang mahsyar. Insya Allah.siaplah saudaraku.                    

 

Si B pun menjawab:  Bijaklah dalam bicara. Jangan membuat orang lain tersakiti walaupun dia salah                       

 

Si A pun menjawab: Katakan yg benar itu benar. Walaupun pahit rasanya                      

 

Ini jawab si B pula:  Memang anda merasa yang paling tahu dalam agama                      

 

Benar menurut anda belun tentu menurut orang lain

 

Cerita dialog di atas, kalau diteruskan, akan menghabiskan berlembar-lembar kertas buku. Bagaimana menurut pendapatmu Razali? Tanya Teungku Hanifah pula.

 

Razali dan Banta Sakim hanya bingung. Mereka berdua  merasa belum cukup ilmu untuk menengahi diskusi yang cukup sengit dan rumit yang telah terjadi di mesjid Baiturrahman Kutaraja beberapa minggu lalu.

 

Lalu Teungku Hanifah pun berkata: Ada anomali pada si B, ketika ia berucap : “Betulkah sudah benar-benar mencontoh nabi dalam segala galanya ?” Si Amengatakan nabi danrasul tidak ada yang merokok, semenara si B (mungkin perokok) mengatakan: “Betulkah sudah benar-benar mencontoh nabi dalam segala galanya ?” Apa maksud dari kalimat mencontoh nabi dalam segala-galanya?” Apakah nabi juga merokok?  

 

Namun saya pertama-tama akan mengatakan, baik si A maupun si B, kedua-duanya saling tidak memahami latar belakang kepada siapa mereka masing-masing berguru. Maksudnya, mereka tak punya wawasan kepada ulama mana masing-masing menganut sikap dan fahamnya, yang anti rokok dan suka rokok.  Akhirnya, mereka seperti menutup diri dari pendapat yang dilontarkan oleh masing-masing mereka. Si A boleh jadi mengetahui rahasia-rahasia dibalik pendapatnya mengharamkan rokok dan mengatakan ulama yang tidak merokok sesuai dengan sunnah nabi. Benar saja Razali,  tidak ada satu catatan pun nabi yang merokok. Tetapi si B, kepada siapa dia berguru. Mestinya si B harus sadar bahwa pendapatnya sudah terbelakang dan sudah tidak zamannya lagi (out  of date) dan tidak bisa dijadikan landasan hukum, serta mempertahankan pendapatnya seenak udelnya dengan menuduh si A menghina ulama. Si B rupanya tak mampu mencerna kalimat si A: "Yang bilang makruh ulama. Yang bilang haram ulama. Ulama mana yang waratsatul anbiya?". Inikembali kepada cara berfikir si B, mungkin sekalilagi si B tak terlatih dalam berfikir filsafat. FIlsafat diajarkan Tuhan untuk menata cara berfikir yang baik.  Bukan kacau seperti pemahaman B. Sudah dikatakan, ulama yang mana yang waratsatul Anbiya? Mengapa tiba-tiba siB menunjuksi A menghina ulama? Apa maksudnya? 

 

Kemungkinan saja si B itu perokok, sehingga jawaban-jawabannya tidak fokus dan tidak mengena pada sasaran sesuai logika berfikirnya. Dalam banyak diskusi saya dengan para perokok, atau paling tidak orang yang bertahan dengan pendapatnya bahwa rokok makruh, dari segi Naqli dan Aqli sangat lemah. Adanya kata-kata tidak senang bukanlah jawaban, tetapi karena si A menentang perbuatan/ kelakuan orang  yang doyan merokok. Dalam diskusi itu  terdapat  pengalihan isu (baca: melebarkan  masalah ke bukan masalah rokok) itu sangat kuat. Itulah modal hebat perokok dan orang yang berpendapat makruh dalam mempertahankan pendapatnya, karena mungkin saja mereka itu sudah sangat kecanduan

 

Sebelum kedatangan kaphe-kaphe Belanda, sangat sedikit kita menemukan perokok, atau ulama yang merokok. Kalau pun ada ulama yang merokok, ia malu merokok di depan umum. Tapi sekarang banyak ulama yang tidak merasa malu melakukannya di depan umum. Mereka bertiga lalu bubar, karena sudah lelah berdiskusi membicarakan masalah rokok, dan hukumnya.

 

Sementara diwilayah timur, terkait kedaulatan Aceh, tak ada satu negara Eropa pun yang mampu mengalahkan Aceh di Samudera Hindia.  Spanyol sibuk berperang di  Filipina dan Amerika Selatan. Mereka tak berani mengusik Aceh, takut! Portugis dalam upaya menguasai samudera Hindia, lebih banyak dihancurkan oleh kekuatan tempur laksamana Malahayati, panglima laut Aceh yang sangat disegani oleh dunia internasional pada tahun-tahun kerajaan Aceh menjadi penguasa laut 1585  -  1608, sehingga Negara superpower Spanyol dan Portugis sangat takut  jika berhadapan dengan kekuatan tempurnya di laut.

 

Hati-hati dengan Belanda yang masih Negara ketiga saat itu, jika sudah menjadi Negara kedua atau Negara pertama (Negara yang kuat ekonomi dan militernya), maka ia akan memakan (mencaplok) Aceh yang kekayaan alamnya telah diketahui oleh dunia perdagangan internasional. Bahkan jurnalis Belanda, H.C. Zentgraaf menulis mengenai kekayaan Aceh:  “Walaupun ditanam sebuah bom pada setiap helai daun rumput di tanoh Aceh, kekayaan bumi Aceh tetap tak akan pernah habis. Karena itulah, ketika kapal yang terus memacu ombak dan gelombang itu, tiba di pelabuhan Aceh, awak kapal Belanda itu begitu hijau matanya melihat kapal-kapal Aceh memuat barang-barang dagangan yang memenuhi kapal mereka. Diantaranya merica, pala, kelapa, cengkeh, kayu manis, dan masih banyak lagi hasil bumi Aceh yang akan dikapalkan atau dijual ke Istambul (Turki), Kalkutta dan Jedah, Marokko dan laut Merah. (Bersambung)

Category: 
Loading...