20 June 2019

Sekelumit Cerita dari Leiden 3: Setelah Sosrokartono dan Hussein Jayadiningrat [Laporan Khusus - Habis]

KONFRONTASI -   SEJAK awal Februari 2019, wartawan Pikiran Rakyat Yulistyne Kasumaningrum mendapatkan kesempatan mempelajari etnosains di Leiden Ethnosystem and Development (LEAD) Programme, Faculty of Science, Universitas Leiden, ­Be­landa.

Di bawah supervisi langsung dari guru besar sekaligus Direktur dari LEAD Progamme LJ Slikkerveer, ia mencoba memahami dan menggali lebih dalam mengenai konsep ­pem­bangunan berbasis pengetahuan dan budaya lokal yang dipelajari di salah satu kampus tertua tersebut.

Berikut ini sekelumit kisahnya dari Leiden. Kepada pembaca yang budiman, selamat membaca.

Toga yang sederhana

Jarum jam menunjuk ke angka tiga saat dentang lonceng gereja bergema di seantero Kota Leiden. Dentangan lonceng itu menandakan prosesi dies natalis Universitas Leiden segera dimulai.

Diiringi tetabuhan drum, ratusan orang bertoga hitam berbaris melangkah dari Academie Gebouw (Gedung Akademik).

Barisan itu kemudian berbelok melintasi kanal Rapenburg menuju ke Gereja St Peter (Pieterskerk), tempat penyelenggaraan kegiatan itu.

Pada 8 Februari 2019, universitas tertua di Belanda itu merayakan ulang tahun yang ke-444. Meski tak termasuk ke dalam daftar sepuluh universitas tertua di dunia, rentang usia tersebut bukanlah perjalanan waktu yang pendek.

UNIVERSITAS Leiden/UNIVERSITEIT LEIDEN

Di tiap-tiap sudut gereja bergaya gotik yang berdiri sejak abad ke-11 itu, bendera berwarna biru benhur dengan angka 4 rangkap tiga berkibar dengan gagahnya.

Tak kurang dari 200 guru besar ikut dalam barisan yang terdiri atas dua banjar. Mayo­ritas dari mereka mengguna­kan toga hitam polos milik Universitas Leiden. Memang, jika dibandingkan dengan universitas lain, toga bagi profesor di kampus ini terbilang sederhana: bercorak hitam polos tanpa tambahan apa pun. Hanya toga milik rektor yang sedikit berbeda, yakni berkalung perak sebagai pembeda dari yang lainnya.

Menurut Jan Slikkerveer, toga yang tampak seadanya tersebut bukanlah tanpa sebab. Ia menjelaskan, toga hitam sederhana itu sebagai simbol bahwa semua disiplin ilmu pada prinsipnya berposisi setara atau tidak ada kasta yang lebih unggul.

Meski demikian, khusus saat dies ­natalis, para guru besar tersebut dibolehkan tampil ber­beda. Mereka diizinkan menambah atribut yang diperoleh dari universitas ataupun institusi lain.

Misalnya, pada kegiatan tersebut, Slikkerveer mengenakan selempang berwarna kuning khas dari Universitas Padjadjaran.

Ia memakainya karena pada 2005 lalu ia dianugerahi gelar kehormatan, yaitu doktor honoris causa (HC) dalam bidang ilmu kedokteran dari Unpad. Selain itu, ada yang istimewa pada dies tahun ini. Guru Besar ­Ilmu Kedokteran Unpad ­Ramdan Panigoro tampak ikut serta dalam barisan para ­profesor terkemuka tersebut.

Digitaliasi jadi tema inti

Pada perayaan tahun ini, berbagai perkembangan yang terjadi pada era digital menjadi tema inti. Dari panggung utama, dua perempuan profesor, yakni Sybille Lammes dan Simone van der Hof, membacakan orasi dari dua sudut pandang yang berbeda.

Lammes, profesor bidang media baru dan budaya digital, memaparkan tentang perkembangan hubungan antara teknologi dan permainan yang kian erat sehingga mendorong terjadinya perubahan besar dalam hal cara bermain pada era digital.

Sementara, van der Hof, profesor di bidang hukum dan lembaga informasi, menyoroti pentingnya regulasi untuk me­lindungi anak-anak dari eks­ploitasi ekonomi.

Hal itu terle­bih di tengah kepungan derasnya digitalisasi dan ko­mer­siali­sasi. Menurut dia, per­kem­bangan teknologi seharusnya tidak mengorbankan marta­bat manusia, termasuk anak-anak.

Pada kegiatan tersebut juga dianugerahkan gelar doktor honoris causa (HC) kepada dua profesor, yakni Melissa Little dan Robbert Dijkgraaf.

Beruntung, saya berkesempat­an berfoto dan berbincang ringan bersama Djikgraaf. Ia merupakan seorang ilmuwan yang memenangi Penghargaan Spinoza pada 2003 lalu. Penghargaan ini merupakan penghargaan saintifik paling prestisius di Belanda.

Kata Spinoza diambil dari nama seorang filsuf kelahiran Belanda, Baruch Spinoza. Ia populer dengan pemikiran tentang zat (substance) tunggal tuhan atau alam.

Dijkgraaf yang juga seorang astronom dikenal sebagai ilmu­­wan yang mampu me­nye­der­hanakan konsep alam semesta yang rumit dalam baha­sa se­derhana dan dipahami masya­rakat awam.

Sehari-hari, pria ini sering disapa warga ­biasa yang berterima kasih ka­rena mendapat pencerahan mengenai alam semesta mela­lui acara televisi yang diasuhnya.

Dijkgraaf mengingatkan kita pada ungkapan Einstein yang juga pernah mengajar di Universitas Leiden. Ungkapan tersebut berbunyi, ”Jika kamu tidak dapat menjelaskan sesuatu dengan sederhana, sesungguhnya kamu belum benar-benar memahami sesuatu itu”.

Pascaprosesi dies natalis, saya berkesempatan berbincang singkat dengan Rektor Universitas Leiden Carel Stol­ker. Dalam perbincangan selintas itu, dia mengaku sangat tertarik dengan Indonesia.

Dia bahkan merencanakan kunjungan ke Indonesia, te­pat­nya Bali, dalam beberapa bulan ke depan. Stolker juga ber­harap ia bisa berkunjung ke ber­bagai daerah lain di Indonesia.

”Saya (pada bulan) Juni akan ke sana, ke Bali, sekitar seminggu. Kita lihat, apa mungkin saya mengunjungi Bandung, kota yang nyaman tentunya,” katanya.

Ikatan Universitas Leiden dan Indonesia

Ada semacam ikatan erat antara Universitas Leiden dan Indonesia. Bahkan, jauh sebelum masa kemerdekaan RI, hubungan keduanya sudah terjalin dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Arsip sejarah Indonesia selama 400 tahun tersimpan rapi di Universitas Leiden. Hal itu berarti ketika nama ”Indonesia” belum lagi masyhur.

Nama Indonesia pertama kali disebutkan oleh ilmuwan Skotlandia James Richardson Logan, pada tahun 1825. Sebelum itu, sebagaimana disebutkan Brown (2003), wilayah Indonesia lebih sering disebutkan dengan Hindia Timur (East Indies), Hindia Belanda (Dutch Indies), Nusantara, atau Kepulauan Melayu (Malay Archipelago).

Selain itu, hubungan ini juga beranjak dari fakta bahwa sarjana pertama dan doktor pertama asli putra Indonesia dilahirkan dari Universitas Leiden.

Sejarah mencatat, bumi­putra pertama yang menerus­kan studi lanjutnya di Belanda adalah Sosrokartono. Ia merupakan kakak kandung Raden Ajeng Kartini.

Sosrokartono/DOK. PR

Awalnya, pria bernama lengkap Raden Mas Panji Sosrokartono itu melanjutkan sekolahnya ke sekolah teknik tinggi di Delft. Namun, pang­gil­an hati membuat Sosro­kartono mengubah haluan dan memilih pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur, Fakultas Seni dan Filsafat di Universitas Leiden.

Di sini, Sosrokartono menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana dengan gelar Doctorandus in de Oostersche Talen pada 1908.

Akan tetapi, studi akademik Sosrokartono tak berlangsung mulus pada strata berikutnya. Hingga kemudian, anak negeri pertama yang berhasil meraih gelar doktor adalah Hussein Jayadiningrat pada 1913.

HUSEIN Jayadiningrat/DOK. PR

Hussein Jayadiningrat mendapatkan gelar doktor dengan disertasi ber­judul ”Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten” (Tinjauan Kritis Atas Sejarah Banten) dari Fakultas Humaniora, di bawah promotor Snouck Hurgronje. ­

Hussein Jayadiningrat merupakan salah seorang tokoh intelektual asal Indonesia yang sangat dise­gani di Belanda. Bahkan, ­saking dihormatinya, patung Hussein Jayadiningrat yang sedang mengenakan pakaian adat Jawa berdiri anggun di Aula Academie Gebouw.

Di Universitas Leiden, patung Hussein Jayadiningrat merupakan satu-satunya patung dengan tubuh utuh. Sementara, patung lainnya hanya berupa tubuh bagian atas. Patung Hussein Jayadiningrat pun menarik perhati­an saya.

HUSSEIN Jayadiningrat/TEMBI RUMAH BUDAYA

Begitu pertama kali menginjakkan kaki di Academie Gebouw, patung Hussein langsung menjadi titik pertama saat saya berswafoto.

Mengenai Academie Gebouw, gedung ini pada mulanya (tahun 1516) merupakan gereja yang kemudian (pada tahun 1581) dimodifikasi agar cocok dengan kegiatan akademik. Bangunannya lalu berubah fungsi dan menjadi bagian dari Universitas Leiden. Di gedung inilah para kandidat doktor dari berbagai disiplin ilmu menjalani sidang di hadapan komisi penguji selama 45 menit.

Setelah masa Sosrokartono dan Hussein Jayadiningrat, mahasiswa asal Indonesia yang datang untuk menuntut ilmu, baik untuk berkuliah ataupun melakukan riset, terus mengalir.

Mereka menyebar di berbagai disiplin ilmu, mulai dari hukum, sejarah, bahasa, biologi, hingga ilmu sosial lainnya.

”Soal pendidikan, semua sebetulnya sama. Hanya, di sini, ada nilai-nilai lain yang bisa diperoleh selama menjalani studi. Misalnya, bagaimana memahami alam pikiran masyarakat di sini, kebiasaannya, kulturnya, disiplin, dan banyak hal lainnya. Di sisi akademis, tentu juga ada value lain, seperti jejaring dan publikasi internasional. Harapannya, apa yang kami peroleh bisa memberikan kontribusi positif bagi tanah air,” ujar Harlan Dimas, salah seorang mahasiswa asal Indonesia.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...