Sayidah Khadijah dan Pernikahan Kedua

Juftazani

Takdir kebahagiaan kembali menjemput Sayidah Khadijah
Bersama alunan pejalanan waktu   
Atiq bin Azis rela memetik bunga indah dan  meminangnya
Pesta pernikahan bangsawan Quraisy Mekah
Mengundang anak yatim untuk berpesta
Meramaikan kebahagiaan Sayidah Khadijah dan Atiq bin Azis
Membahagiakan warga kota tak berpunya
Juga handai taulan dan sahabat setia
Semua warga diundang tanpa memandang status sosial
Semua sama di hadapan Allah
Inilah kebahagiaan yang terpancar dari wajah Khadijah
Perempuan kaya, bangsawan ,  suci dan  terpelihara


Hari-hari bergulir seakan berputar tak bermula
Sejak cahaya yang pertama saat Sayidah mengenal Atiq
Pusaran sejarah  terus berputar mengikuti lumparan waktu
Walau telah berumah tangga baru
Sayidah Khadijah terus melakoni hidup sebagai saudagar
Bolak balik antara Mekah dan Syam
Perempuan agung ini lama kelamaan menjadi saudagar besar disegani
Andai majalah Forbes hadir zaman itu
Saudagar Khadijah  masuk daftar 100 orang terkaya di dunia
Semua kekayaannya mampu membeli  2/3 kota Mekah
Yang termasuk kota besar di dunia

  

Kembali langkah kaki Sayidah Khadijah  terbalut rindu
Teduh senyumu Atiq bin Azis  hiasi cinta yang berlabuh
Lelaki Atiq yang temperamental dan kerap lakukan kekerasan
Menjadikan rumah tangga Sayidah Khadijah pecah
Atiq bin Azis memperlihatkan watak aslinya yang merendahkan perempuan
Dan tak bisa kompromi mendayung perahu keluarga penuh keseimbangan
Dengan tekad bulat Sayidah Khadijah pergi meninggalkannya
Semua anaknya diboyong keluar dari rumah

 

Hidup sayidah Khadijah memang harus selalu ditempa
Seorang perempuan dibuat jauh lebih dewasa, tegar dan berani
Akibat situasi dan tradisi
Seorang perempuan selalu siap hidup dalam keadaan bahagia atau sengsara

 

Melepaskan diri dari perlindungan semu seorang laki-laki
Sesungguhnya  dalam hati ia juga merasa kesepian
Hidup menjanda yang disibukkan dengan bisnis dan perdagangan
Mendampingi anak-anak yang terus tumbuh dan besar
Adakah lelaki  benar-benar ideal untuk seorang perempuan cantik, anggun
Berwibawa, berdarah biru namun penyayang orang-orang kecil  
Mengisi sisa hidupnya di masa depan?
Allah yang menentukan jalan hidup seorang manusia
Apakah ia menjadi cahaya terang benderang bagi umat yang besar
Dan menebarkan rahmat bagi semesta  alam  di masa depan
Atau hanya sepercik terang lentera
Lalu redup dan dilupakan?

 

Tangerang 24 April 2021

--------------------------------

Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juftazani sekarang sedang menyusun sebuah buku Autobiografi Syekh Abdul Fattah, Pendiri Tarekat Idrisiyyah Indonesia, dan sebuah novel keduanya: "De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...