Rusia Yang Pudar Seperti Kapur Diterpa Sinar Matahari

Juftazani

 

 

 

kereta api berhenti di tengah padang
misha gordon, duduk di kupe kelas dua didampingi ayahnya
“grigory osipovich gordon” (seorang pengacara dari orenburgh )
pada lelaki sebelas tahun itu, terlihat garis-garis wajah
yang suka merenung dengan mata bola yang besar
ia mengikuti ayahnya yang dipindahkan ke jabatan baru
di moskow

 

sudah tiga hari misha dan ayahnya dalam perjalanan
inilah rusia – dengan ladang-ladang , padang rumput, dusun-dusun dan kota-kota
yang pudar seperti kapur diterpa sinar matahari – bergumpal dan berpusar dalam kepulan debu panas

 

jajaran kereta yang merentang terasa teramat panjang
segerombolan orang meminggir dengan susah payah di simpangan jalan
kereta api lari kencang dengan ganas
terlihat para penunggu dengan kuda-kuda yang hanya memukul irama
yang ditelan gemuruh kereta

 

suatu saat kereta berhenti
orang-orang bergegas meloncat ke luar dan mengerti
sinar matahari yang hampir tenggelam di belakang stasiun
memancarkan sisa cahayanya hari itu
ke kaki-kaki para penumpang
dan roda-roda kereta

 

kehidupan di dunia ini dibius arus besar penghidupan
yang selalu memandu dan membinanya
manusia bekerja, berjuang dan bergulat untuk hidup
selalu dirangsang kesulitan dan kekhawatiran

 

bersyukurlah orang yang meyakini
seluruh peristiwa di dunia tak hanya terjadi di bumi
yang selalu mengubur apa saja yang mati
namun juga di tempat yang tinggi yang dikenal sebagai kerajaan ilahi
setengah orang mengenal dengan sejarah
dan beberapa gelintir mengatakan dengan nama lain

                                                                    

--------------------------------------                     
Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akan terbit novel keduanya: "De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...