15 August 2018

Rangkuman Diskusi Film "Layu Sebelum Berkembang" Di Pisa Cafe Mahakam

KONFRONTASI-Pengamat film Eric Sasono yang menjadi narasumber dalam Diskusi Pemutaran Film" Layu Sebelum Berkembang" karya Sutradara Aryani Djalal di Pisa Cafe Mahakam Kawasan Blok M, mejelaskan film itu termasuk dalam katagori film observasi yakni film yang dalam proses pembuatannya meletakkan atau menaruh kamera sehingga-sedapat mungkin para pemain atau insan yang terlibat dalam pembuatan film utamanya para pemain film tak terpengaruh dengan keberadaan kamera dan mereka beraktifitas seperti keseharian mereka. Eric juga menjelaskan jenis-jenis pembuatan film dokumenter yang lain sebagai bahan komparasi.

Walau tak lengkap dalam mendokumtasikan peristiwa, adanya film dokumenter menjali cerita menjadi sebuah narasi yang bertutur secara runtut, dan film sangat berbeda dengan jurnalisme, yang membedakan jurnalisme dengan dokumentasi menurut Eric adalah dalam jurnalisme dikenal adanya verifikasi dan kaidah jurnalsme yang lain faktor aktualitas sebuah peristiwa, lain dengan dokumentasi ia dapat dibuat kapan saja,

Eric Sasono menilai film Layu Sebelum Berkembang "telah mematikan obyeknya", sebab menurut Eric kedua tokoh dalam film itu, dua remaja putri yang beru masuk SMP tidak bisa dirumuskan dalam judul pendek ' Layu Sebelum Berkembang' mestinya sebuah kisah itu baru dimulai bukan sesuatu yang pupus seperti tersirat dalam judulnya, Eric juga mencontoh film luar negeri yang dibuat secara berseri dan periodik pada tingakt usia tokohnya, dia mencontoh film yang dibuat ketika tokoh dalam film dibuat pada usia tokoh 7 tahun, 14 tahun dan seterusnya.

Sutradara film Aryani Djalal menangkis tuduhan yang disampaikan Eric, bahwa ia membuat film itu justru untuk membangunkan kesadaran ibu-ibu maupun orang tua untuk melihat kondisi pendidikan kita yang carut marut, banyak siwa yang stres bahkan bunuh diri akibat gagal dalam menempuh UN. dan menurut Aryani ini persoalan serius bangsa bukan masalah dunia pendidikan saja. Sebagai seorang ibu yang mempunyai dua remaja diusia sekolah dirinya harus mampu membimbing dan mengarahkan anak-anaknya mendapatkan dan memilih pendidikan yang bermutu.

Eric juga menyoroti persoalan pendidikan di indonesia, bagaimana problem pendidikan di sini bukan saja problem sosial, yakni kenaikan status sosial, akan tetapi juga problem survival, artinya pendidikan menuntut satu resistensi atau daya tahan siswa dan juga orang tua siswa pada sejumlah kebijakan dalam dunia pendidikan yang amburadul, kurikulum yang berubah-ubah juga nilai UN yang menjadi standar dan ukuran keberhasilan siswa.

Sebagai sebuah film dokumenter mendapat banyak pujian dari para peserta diskusi, seorang peserta diskusi yang mengaku bergiat didunia pendidikan menyampaikan penghargaan yang tinggi pada film itu dan berharap bisa disosialisasikan pada ibu-ibu dan orang tua murid, ia lebih jauh memuji film itu mengadung niali kultural dan spiritual. dan seorang peserta diskusi yang juga alumni UI mengaku bahwa film itu refleksi dari potret diri bagaimana ia mengalami hal-hal yang dialami tokoh dalam film itu seorang instrofet yang mendapat bantuan ibundanya mencari dan memilih sekolah favorit yang diinginkannya.(W/kf)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...