Puluhan Guru Gunung Kidul Ikuti Lomba Macapat

Konfrontasi - Puluhan guru taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas di Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengikuti lomba macapat dalam rangka melestarikan budaya lokal yang mulai luntur.

Ketua Pelaksana Lomba Macapat Edday Rumboko di Gunung Kidul, Selasa (28/4), mengatakan bahwa lomba macapat selain untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional, juga untuk melestarikan kebudayaan yang sudah jarang dimainkan oleh masyarakat Gunung kidul.

"Tembang macapat sendiri kaya akan budi pekerti, nilai agama, dan budaya sehingga akan membentuk karakter bangsa. Kami berharap melalui acara ini para guru bisa mengingat kembali serta melestarikan budaya macapat yang hampir punah," kata dia.

Dalam lomba kali ini, kata dia, diikuti oleh 21 orang peserta. Selain cara menyanyikan, pihaknya akan menilai dari segi penampilan.

Menurut dia, DIY sebagai daerah istimewa harus memiliki identitas budaya yang tetap dijaga, salah satunya macapat. Dengan lomba yang diadakan untuk guru ini diharapkan mampu ditularkan kepada muridnya.

"Sesuai dengan identitas DIY yang berbudaya, seharusnya macapat tetap dilestarikan. Kami berharap guru yang mengikuti mampu mengajarkan kepada anak didiknya tentang pentingnya budaya tradisional," katanya.

Sementara itu, salah seorang juri Wasiran mengatakan bahwa peserta berhak memilih satu dari dua lagu yang sudah diberikan oleh panitia, yakni dandang gula dan megatruh.

Juri akan memberikan nilai dengan melihat aspek dasar suara, irama, dan sastra yang harus jelas.

Ke depannya, kata dia, budaya macapat di Gunung Kidul bisa terlestarikan. Diharapkan dengan lomba ini mampu meningkatkan dasar budaya yang kuat dan berguna bagi kelestarian macapat.

"Peserta boleh menyanyikan satu dari antara dua lagu yang sudah dipersiapkan," katanya. (rol/ar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...