Puisi-puisi Dewi Nurhalizah : Parade Sejuta Puisi Penyair Facebook (PSPPF)

Konfrontasi- Saya mengenal dengan baik penulis buku puisi "Perempuan dan Matanya" ini dan saya merasakan betul proses kreatifnya kami intens menjalin komunikasi dan saling memberikan dukungan hingga lahir buku puisinya itu, saya merilis karya-karyanya tiga tahun belakangan ini, dan mengetahui benar alasan ia menulis puisi juga menerbitkan buku puisi. Bagi saya ada kesamaan visi antara kami berdua, kami sama-sama merayakan kehidupan melalui puisi, (Redaksi)

Tak Mau Cinta Membara, Tuan
oleh dewi nurhalizah

tak mau cinta ini membara padamu, tuan
yang akan letikkan api dan membakar
pada siapa tak sejalan, menjadi arang
engkau miliki api,nyalanya melantakkan
dalam kobar yang tak mudah dipadamkan
dan aku kayu pembakar

tetapi samudera itu pun adalah engkau
yang debur ombak menghempas debar
yang merupa muara seluruh penjuru
yang menjadi rumah ikan-ikan
yang membiarkan angin bermain gelombang
yang memberi luang camar tak gentar cumbui siang
pada puncak kembang layar, lengking dititipkan
yang lahirkan hujan membasah pohon-pohon
mengisi ceruk yang tersimpan

aku mencintaimu, tuan
dalam sebutir embun di ujung ilalang
akan basahi kaki-kaki yang menapak langkah
dan berpacu menujumu dengan kegembiraan
menggapai cinta di atas cinta
yang dijanjikan

aku mencintaimu, tuan
tidak dengan airmata
tidak pula luah riangtawa
tetapi dengan diam
cinta tanpa aksara

malang, 072015

2/
Musim Yang Diculik
oleh dewi nurhalizah

bercermin pada siang,
aku di bawah terik
gemuruh rasa bertakik
entah di sisi mana akan naik

tak perlu pekik itu bukan?
timpang dan guncang bukan pilihan
putih atau hitam tak terpisah dalam kesah
ketika benderang tak lepas dari bayang

diamlah,
sedang kudengar bisik kisik
ia paceklik, musim yang diculik
kering sudut
itu badai di sisi ini,
aku
sangsai di ujung rinai

malang, 042015

3/
Perempuan Hujan
oleh dewi nurhalizah

perempuan itu
dan
tangis
dibawa hujan

larut sumeleh
nyunyut
hanyut
leleh

ditatapnya langit
abu-abu

dipaku diam,
kelu

dimana letak kalbuku
suaranya begitu bisu

mata itu
menggigil
beku

malang, 042015

4/
Orang-Orang Aneh
oleh dewi nurhalizah

melintas orang-orang aneh
dengan atribut yang
dikibar sambil terkekeh,
aneh

senyum saling bunuh
mata-mata menikam dada
aneh gelak tawa meruah
ketika otak-otak berderak
dan pecah!

kata tetua terlupa,
jangan makan daging saudara

uh, belah pula dadaku
dikeruk dan dimamah

aku ikut tertawa,
segumpal di tanganku
entah milik siapa,
aneh!

malang, 042015

5/
Bukan Sesiapa
oleh dewi nurhalizah

siapa yang bukan buruh
siapa yang bukan budak
siapa bukanlah sesiapa
berteriaklah, angin membuat terserak
melengkinglah, masa hanya berdenting

siapa yang buruh
siapa yang budak
siapa majikan
siapa kuasa,
siapa?

dan kuduk-kuduk meremang
ketika masa digulungkan
ketika asa diberaikan
ketika jiwa dibekukan
mashyar dibentang
lenyap lantang
lesap tantang,
lengang!

malang, 052015

6
/Kekasih, Dekapi Seluruh
oleh dewi nurhalizah

kekasih, berapa purnama telah kudendang langgam pamujan
memuja setiap nafas membasah pasuryan kasmaran
bukankah lintang kedip pesona malam kala kau dekapiku seluruh
tembang kelangenan senantiasa membuai rasa
di ketiadaan penuh

kalbu tak bisu menanti rindu selalu
bukanlah serupa birahi yang menghentak tiap detak
jantungku ada di ujung telunjukmu, terpapar atau terbiar
jiwa bergelung dalam remang pada bimbang temaram pesawangan
dan tersungkur membujur, searah kutub termahtub

sepenggala mentari hari ini, kekasih
dalam diam menatapmu, pada mata daun dan warna kembang
rinduku menjejak segala ruang, kedap selinap bias cahaya seutas
bila tiba waktu pulang
tiada cinta yang dialtarkan,
dan senyap mencecap ruang kasab

malang, 0520

____________________________________________________________________________

Dewi Nurhalizah, Saat ini tinggal dan berkarya di Malang, telah menerbitkan buku puisi 'Perempuan dan Matanya" , aktif memposting puisi-puisinya di Jejaring sosial facebook (K).

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA