23 July 2018

Peran Besar Kiai dalam Penerbitan Media Islam Zaman Dulu

KONFRONTASI - PENERBITAN media Islam Sunda pada periode antara tahun 1920-an hingga tahun 1950-an bisa dikatakan tidak terlepas dari peranan para kiai atau ajengan. Banyak di antara kiai atau alim ulama di Tatar Sunda yang terlibat baik sebagai anggota dewan redaksi maupun kontributor tulisan pada media yang dibantunya.

Dari media yang terbit pada tahun 1920-an, kita mendapatkan nama-nama kiai sebagai berikut: Al-Imtisal yang diterbitkan oleh Perkoempoelan Goeroe Ngadji di Tasikmalaya ini dipimpin oleh RHM Saleh (Memed) yang merupakan ”Kiai Babakan Sumedang, Tasikmalaya”. Selain itu, Memed dibantu oleh para kiai, antara lain HM Pachroerozi (Sukalaya), H Mh Holil (Leuwidahu), HM Sobandi (Ajengan District Panumbangan), HM Mansoer (Sukawarsi), HM Sjabandi (Kiai Cilenga), dan H Mh Zarkasjie (Jajaway).

Tjahaja Islam yang mulai terbit pada 1 Juli 1930 setali tiga uang. Majalah yang bersuluk ”Soerat kabar agama Islam Madzhab Ahli Soennah waldjamaah” serta dipimpin Moeh Anwar Sanuci ini didukung oleh anggota dewan redaksi yang terdiri atas HM Djakaria (Kiai Cilame), HM Romli (Kiai Haurkuning), dan Mh Toechfah (guru agama Majalaya).

Kita juga bisa melihat pada penerbitan Al-Hidajatoel Islamijah yang mulai diterbitkan dan dipimpin oleh H Ahmad Sanoesi (Tanah Tinggi, Senen, Batavia) sejak Januari 1931. Penerbitan majalah yang bersuluk ”Pitoedoeh Djalan-djalanna dina Agama Islam, Panjapoe Kokotor Roentah2 Kasasaran dina Agama Islam” ini dibantu oleh para kontributor (medewerkers) yang rata-rata terdiri atas para ajengan.

Semuanya ada sepuluh orang, yaitu H Badroeddin (Kadudampit), Ajengan Mh Nahrowi (Cantayan), Ajengan Mh Soedjai (Kadudampit), Ajengan Hadji Sjafe’I (Pangkalan), H Ahmad Dasoeki (Karangtengah), Moe’alim Mh Sanoesi (Cantayan), H Ahmad Widjaja (Karangtengah), Ajengan Hadji Rifa’I (Burahol), Hadji Qoemaroeddin (Ranji), dan Hadji Soleh (Bantar Karet).

Majalah Al-Moe’min yang terbit di Cianjur sejak 5 Juli 1932 pun tidak terlepas dari peran para ajengan dan guru agama Islam lainnya. Pada penerbitannya yang memasuki tahun kelima, yaitu 1 Januari 1936, dalam kotak redaksi ada keterangan yang menyatakan bahwa direktur sekaligus pemimpin redaksi Wira Sendjaja didukung oleh para ajengan dan para guru agama (”Dirodjong koe para adjengan sareng para goeroe agama”). 

Demikian pula yang terjadi pada Al-Moechtar, yang terbit sejak 1933 di Tasikmalaya. Bahkan dalam edisi pertamanya, ada pernyataan yang sangat mendukung hal tersebut. Katanya, diterbitkannya Al-Moechtar pada 1 Januari 1933 itu, adalah hasil permufakatan 17 orang yang rata-rata merupakan kiai (”Ngadegna ieu AM kalawan moepakatna sareng pingpinan djoeragan-djoeragan anoe maroelja anoe kasebat di handap ieu”). 

Selengkapnya ke-17 orang tersebut adalah HM Soedjai (Ajengan Kudang, Tasikmalaya), HM Nahrowi (Ajengan Keresek, Cibatu, Garut), RHM Dimjati (Ajengan Sukamiskin, Bandung), RHM Adjhoeri (Ajengan Manonjaya), H Achmad Sanoesie (Ajengan Tanah Tinggi, Batavia), RHM Noch (Kaum Cianjur), RHM Aon (Ajengan Mangunreja), R Kd Ardiwinata (Tegallega, Bandung), HZ Hasan (Ajengan Mancogeh, Tasikmalaya), H Achmad Hidajat (Ajengan Cikoneng, Ciamis), H Abdul Goffar (Ajengan Ciroyom, Tasikmalaya), Haroen Arrasjid (guru sakola Bahrain, Tasikmalaya), SWAR Hassan (Bandung), M Kd Mangoendimadja (Tegallega, Bandung), Hoesien (Ajengan Cicalengka), H Sobandi (Ajengan Panumbangan), dan HM Bakri (Ajengan Cikalang, Tasikmalaya).

 

Hasil pemufakatan

Bahkan hingga tahun 1952, saat majalah Al-Muslih terbit, para kiai melanjutkan tradisi untuk menerbitkan dan mengisi majalah Islam Sunda. Selain dengan pemimpin umum KH Sja’roni, para kontributor atau pangarang yang mengisi Al-Muslih pun rata-rata kiai. Dalam kotak redaksi tertulis daftarnya sebagai berikut: KH Hidajat, KH Sudja’i (Kudang), KH Abdulmalik, KHA Dimjatie, KH Toha, KH Badrudin, KH Sudja’i (Cileunyi), S Munawwar, D Toha Muslim, K. Siradjul Muhdi, KH Tb Achmad (Menes), KA Ruhana, KU Aboebakar (Menes), dan KH Rais (Pandeglang).

Dengan demikian, secara garis besar, bisa dikatakan bahwa memang penerbitan majalah Islam Sunda yang terbit antara tahun 1920-1950-an umumnya dirintis, didukung, dan diisi oleh para kiai. Yang jelas tampak sebagai contoh adalah ketika penerbitan majalah Al-Moechtar yang merupakan hasil permufakatan 17 orang yang rata-rata merupakan kiai. Ada juga kiai yang kemudian memimpin langsung majalahnya, seperti pada RHM Saleh (Memed), Moeh Anwar Sanuci, H Ahmad Sanoesi, HM Pachroerozi, dan KH Sja’roni.

Dalam praktiknya, para kiai yang terlibat di dalam media waktu itu biasanya yang berdekatan atau berada di sekitar tempat media tersebut diterbitkan. Seperti yang tampak pada Al-Imtisal yang kebanyakannya kiai dari sekitar Tasikmalaya, atau Al-Hidajatoel Islamijah yang kebanyakan kiainya berasal dari Sukabumi. Meskipun, memang tidak juga selalu berlaku demikian, karena keterlibatan kiai dari daerah lain pun sering terjadi, misalnya pada Tjahaja Islam, Al-Moechtar, dan Al-Muslih.

Dengan demikian pula, bila dibaca dari sudut pandang literasi, para kiai antara tahun 1920-1950-an itu pasti menggarisbawahi pentingnya menyiarkan agama Islam melalui media komunikasi tulis. Tentu saja dengan maksud agar pemahaman orang terhadap keislamannya akan selalu terpatri. Karena telah ”terpahatkan” dalam bentuk cetakan yang tidak akan berubah dan tidak akan salah tafsir karena keseragaman aksara dan bahasa yang digunakan dalam media cetak tersebut.

Sesuatu yang berbeda dengan tradisi komunikasi lisan yang dengan mudah bisa bisa diingat sekaligus mudah terlupakan. Di sisi ini, bisa dibilang, penerbitan media Islam berbahasa Sunda di masa itu adalah buah kalam para kiai. (Jft/PR)

Category: 
Loading...