Pengamat: Sistem Pendidikan Kita Rentan Picu Stres - Pak Nadiem, Mohon Lakukan Revolusi

KONFRONTASI -   Sistem pendidikan di Indonesia diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya stres. Di kutip dari Lembaga Riset Universitas Gadjah Mada, dari empat pelajar, satu diantaranya alami stres akademik.

Rajin pangkal pandai, peribahasa ini yang akrab di kenal oleh masyarakat Indonesia. Kalimat tersebut mungkin masih menjadi 'roh' sistem pendidikan di Indonesia saat ini, namun sesaknya jadwal yang sesuai dengan kurikulum tak sedikit membuat siswa malah merasa tertekan bahkan alami stres.

Berkutat dalam berbagai macam kemelut aktivitas di sekolah. Dari pagi hari hingga petang, belum lagi waktu malam yang disita dengan 'Pekerjaan Rumah', rutinitas itulah yang diulang selama lima hingga enam hari dalam seminggu.

"Di sekolah banyak tugas yang belum mencapai kapasitas siswa, ya itu membebani banget dan bisa jadi faktor terjadinya kelelahan akibat jam pembelajaran, terus banyak tugas ditambah materi yang tidak sesuai dengan kapasitas seseorang," tandas Rafy salah seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri di Tasikmalaya.

Ia menegaskan stres akademik yang dialami oleh siswa diakibatkan oleh tuntutan, tekanan, dan beban akademik yang melebihi kapasitas. Suasana pendidikan di sekolah tentunya berbeda dengan di rumah atau lingkungan bermain. Seringkali perubahan suasana ini berdampak bagi emosi, sosial, dan tentunya akademik anak.

Sedangkan berdasarkan Lembaga Riset Universitas Gadjah Mada, stres akademik disebabkan dari berbagai faktor, seperti besarnya beban tugas, terlalu banyak materi yang harus dipelajari, kebutuhan siswa untuk berprestasi akademik, tuntutan akademik yang diperkuat tekanan orang tua, sekolah, dan teman sebaya.

Dengan diterapkannya sistem full day berarti kegiatan belajar berlangsung hampir satu hari lamanya. Mulai dari pukul 08:00 pagi hingga 15:00 sore. Sistem ini juga mendapat kritik dari Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru (IGI) Muhammad Ramli Rahim.

"Mendikbud harus membuat revolusi. Mulai dari lama pendidikan di setiap jenjang pendidikan, mata pelajaran yang diajarkan hingga mendesain ulang model pembelajaran,” kata Rahim dalam siaran persnya di Jakarta, saat ditemui Pikiran Rakyat Rabu 4 Desember 2019.

Faktanyanya, dengan sistem pendidikan yang diterapkan sekarang, IGI sendiri menilai bahwa mutu pelajar Indonesia menurun. Ini menandakan ada yang salah dengan sistem pendidikan.

Turunnya mutu pendidikan di Indonesia ini ditunjukan oleh data hasil PISA (Programme for International Student Assesment) 2018 baru saja dirilis. Posisi Indonesia berada di tingkat ke 72 dari 77 Negara peserta PISA.

Dilansir dari laman resmi Kemendikbud, PISA merupakan sistem ujian yang diinisasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 77 negara di seluruh dunia.

Setiap tiga tahun, siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak, untuk mengikuti tes dari tiga kompetensi dasar yaitu membaca, matematika dan sains. PISA mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan (aplikasi) dengan pengetahuannya.

Angka yang turun dari hasil penelitian PISA dalam hal pendidikan di Indonesia yaitu berada pada bidang membaca, sains, dan matematika. Indonesia mendapat angka 371 dalam hal membaca, 379 untuk matematika, dan 369 terkait sains.

Sementara Malaysia mendapatkan nilai membaca sebesar 415, 440 untuk matematika, dan 438 bagi sain. Ini menumjukkan, mutu pendidikan di Indonesia tertinggal bukan hanya dari seluruh anggota PISA di dunia tapi juga di ranah Asia.

Menyikapi turunnya performa pelajar Indonesia, Deby Kurniawan Anggota Komisi X DPR RI juga berharap Menteri pendidikan Nadiem Makarim evaluasi sistem pendidikan. Ia juga meminta pertanggung jawaban atas besarnya anggaran pendidikan yang telah digelontorkan dengan implikasi mutu pelajar yang menurun.
"Semestinya perencanaan pendidikan baik tentu hasilnya akan maksimal. Kalau sekarang PISA saja peringkatnya turun, ini perlu dipertanyakan. Ada apa dengan sistem pendidikan kita. Kami akan minta Kemdikbud mengevaluasi lagi sistem pendidikan kita. Kan anggaran pendidikan kita besar," ulas Debby di Jakarta, Rabu 4 Desember 2019.

Belum lagi masalah kapitalisme di sekolah, semakin meningkatkan angka putus sekolah di Indonesia. Berdasarkan data pendidikan tahun 2010 dari Lembaga Riset Institut Teknologi Sepuluh November, sebanyak 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah.

"Terlalu mahal bayaran, kasian sama orang yang kurang," keluh Rafy kembali.

Kapitalisme di dunia pendidikan mungkin masih menjadi salah satu batu sandungan bagi orang yang kurang mampu, baik untuk orang tua yang anaknya telah terdaftar di sekolah atau bahkan yang belum menyandang status pelajar di lembaga pendidikan formal.(Jft/PR)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...