20 June 2018

Pasar Seni & Seniman Masuk Pasar

KONFRONTASI -   PADA 18 Oktober 1973 di Sotheby’s Parke Bernet, New York, pasangan Robert dan Ethel Scull melelang karya-karya seni koleksi pribadi­nya. Lelang ini dianggap tonggak penting dari kebangkitan pasar seni di sana, karena pada lelang ini tercapai penjualan dengan harga fantastis. Tercapai harga hingga kisaran puluhan bahkan ratusan ribu dolar AS, sementara harga beli Scull dari para seniman, di kisaran 1.000 dolar AS atau bahkan kurang, per karya. Harga jual yang diraih sang kolektor puluhan kali lipat ­harga beli.  

Robert Scull adalah juragan taksi di New York. Setelah kesuksesan komersial dari armada taxinya pada dekade 1950-an dan 1960-an, Scull dan istrinya mulai me­ngoleksi karya-karya abstrak-ekspresionis dan pop art. Jika Anda akrab dengan ­nama-nama Jasper Johns, Robert Rauschenberg, James Rosenquist, Roy Lichtenstein, dan Andy Warhol misalnya, dari sisi komersial, harga karya seniman-seniman ini dilambungkan oleh ulah Scull.

Pada lelang itu, terjual sekitar 50 karya dengan total nilai  2,2 juta dolar AS. Sebelum hari itu, tidak pernah terdengar lelang karya seni mencapai jumlah tersebut. Anne Louie Sussman, editor Artsy’s Art Market kemudian mencatat 3 dampak dari lelang pasangan Scull. Pertama, Scull dianggap memapankan kedudukan seni pascaperang dan seni kontemporer, secara komersial. Ia lalu mengutip Barbara Haskell, kurator Whitney Museum, bahwa prestasi ini memastikan keefektifan seni modern sebagai alat pengeruk keuntungan. Kedua, Sussman mencatat bagaimana pemasaran dan publisitas dibikin berperan sentral. Begini, nama-nama Lichtenstein dan Andy Warhol sudah terkenal. 

Kesuksesan komersial Scull berpijak ­pada keterkenalan ini juga. Namun, Scull punya trik lain. Dalam mengupayakan ­promosi bagi perusahaan taksinya, Scull menyewa ahli etiket terkenal untuk meng­adakan pelatihan bagi para pengemudinya di sebuah tempat yang prestisius. Sebuah kegiatan yang tentu saja diupayakan terliput oleh media massa. Pada lelang Oktober 1973 itu, penampilan Ethel Scull saat memasuki ruang lelang sangat glamor, dengan gaun berlabel terkenal, bak selebritas. Bahkan gerakan protes yang ­digelar di depan balai lelang, menambahkan unsur dramatik.

Bicara suara protes atas lelang ini, ­mengantar kita pada poin ketiga kesimpul­an Sussman: ketika harga karya melambung tinggi, apakah sang seniman turut mendapat bagian? Robert Rauschenberg sang seniman, merangsek masuk ke ruang lelang dan mengonfrontasi Robert Scull. Sebagai keterangan, ini forum lelang tertutup. Walau karya Rauschenberg dilelang, ia tidak diundang pada acara tersebut. Potongan adegan ini dicuplik dalam dokumenter ”Mona Lisa Curse”. Narator­nya adalah kritikus Robert Hughes. Dalam film itu, ia menguar kegelisahannya akan pasar seni. ”Ini adalah masa ketika sejarah seni ditulis dengan buku cek,” demikian ­kira-kira kegelisahan Hughes. Dengan kata lain, Hughes menyoroti perilaku kolektor macam Scull, yang melambungkan harga sedemikian rupa sehingga harga karya ­seolah-olah menjadi variabel utama dari nilai (historis) karya seni.

Keuntungan berlipat ganda

Kembali pada konfrontasi Rauschenberg, ia berhadap-hadapan dengan Scull dan gesturnya tampak agak kasar, sedikit mendorong badan Scull. Ia memprotes, bagaimana bisa kolektor menikmati jumlah keuntungan puluhan kali lipat, sementara seniman yang bekerja keras? Rauschenberg kemudian tercatat mengupayakan melalui jalur hukum agar seniman tetap mendapat komisi manakala kolektor menjual ulang karyanya. Upayanya sempat dilanjutkan oleh Hughes, dan tidak kunjung membuahkan hasil. Keuntungan berlipat ganda tetap jadi milik kolektor. Barangkali Scull sudah memprediksinya sejak semula. 

Pada momen konfrontasi itu, Scull membalikkan pertanyaan Rauschenberg: ”Saya juga telah bekerja untukmu”. Protes Rauschenderg kemudian menjadi bias, karena ia memanfaatkan momen itu untuk meminta Scull terus lanjut membeli karya-karyanya. Rauschenberg toh termasuk seniman yang sukses secara komersial, dengan kata lain, perilaku kolektor macam Scull menguntungkan dia juga. Seniman merangsek masuk pasar, memprotes, lalu menikmati dampak komersial dari pasar.

Adapun tentang kondisi di tanah air, makalah legendaris Sanento Yuliman, ”Boom! Ke Mana Seni Lukis Kita”, memaparkan dampak-dampak dari gempita pasar pada perkembangan seni rupa. Yuliman memopulerkan istilah ”boom”, merujuk pada gejala ledakan tiba-tiba. Tiba-tiba pasar seni (lukis) melambung dan meriah. Kolektor bermunculan bak jamur di musim hujan, (sebagian) pelukis jadi kaya. Paling tidak, tiga hal dari Yuliman patut kita ­ingat: pemingitan, tuna acuan, dan pemiskinan. Pemingitan maksudnya ­pembatasan dari ruang publik. 

Jika kolektor membeli karya langsung dari studio seniman, lalu dibawa ke ru­mah­nya, maka karya berpindah dari ruang privat yang satu ke ruang privat yang lain; terpingit dari pandangan publik. Tuna acuan, penilaian karya tanpa acuan yang jelas. Dinamika harga karya seni tidak ditunjang oleh metode kelimuan sejarah seni yang baik. Pemiskinan, hanya lukisan pada kanvas yang diserap baik oleh pasar. Ditilik dari pokok-soal karya, juga ada kecenderungan trend yang disukai pasar. Seniman cenderung hanya jadi pelukis, itu pun dengan pokok soal lukisan tertentu saja, demikian kira-kira.

Pasar membawa berkah sekaligus kutukan. Mana yang akan lebih dianggap: risalah sejarah seni dengan metode yang kejat dan runut atau besaran angka pada buku cek yang dibayarkan untuk membeli karya? Kita menyaksikan hari-hari ini, ada karya dan reputasi seniman yang dibincangkan, hanya karena harga karyanya melambung tinggi. Jika demikian, apakah ada yang disebut integritas seniman? Ada­kah, yang disebut keilmuan seni, ataukah semua itu hanya cara untuk melambung­kan harga? (Jft/PR)

Category: 
Loading...