Merantau Minang, Merantau Jawa (Purworejo): Sebuah Pilihan atau Keharusan, Ini Kata Mereka!

KONFRONTASI - Setiap orang pastilah memiliki cita-cita dan keinginan menjadi hidup lebih baik. Banyak cara yang dilakukan untuk menggapai itu semua, baik menjadi pengusaha, menjadi pekerja juga mengadu nasib ke “nageri” orang. Tidak sedikit pula masyarakat Purworejo yang meninggalkan kampung halamanya untuk mengadu nasib di “negeri” orang dengan harapan mendapatkan hidup yang lebih layak.

Selain itu adanya faktor eksternal dan budaya juga menentukan masyarakat berkeinginan merantau dan meninggalkan kampung halamanya. Faktor ekternal itu diantaranya dengan melihat tetangga atau rekan sukses dirantau akan menimbulkan keinginan individu mengikuti jejak dan menguatkan keinginan merantaunya.

Namun semua ini bagi sebagian kalangan apakah menjadi sebuah keharusan atau hanya pilihan hidup karena di “negeri” sendiri tidak dapat memberikan penghidupan yang layak. Seperti apa tanggapan warga Purworejo tentang merantau ini:

Bagi Budi Sunarko yang sekarang menetap di Bantul, Yogyakarta, merantau adalah pilihan yang mana dulu ia juga pernah bekerja di Purworejo. “Waktu itu saya kerja di Purworejo, dan karena tahun 2006 terjadi gempa bumi di sebagian wilayah Yogyakarta, saya dan teman-teman di minta untuk jadi relawan dan selanjutnya diminta untuk mengerjakan beberapa proyek rumah di daerah Kabuoaten Bantul, dan akhirnya dapat kenalan orang Bantul dan menikah dengan orang bantul”, ungkapnya.

Baginya hal itu sebuah pilihan yang harus dijalani karena bukan hanya faktor pekerjaan, namun juga faktor keluarga yang mengharuskan tinggal di tanah rantau. “Alasan saya waktu itu sebenarnya mau pulang kampung, tetapi karena oleh keluarga besar yang Yogyakarta tidak boleh dan harus menetap di Yogyakarta, karena harus menempati tanah warisan dari orangtua dan sekaligus mengurus orang tua maka saya membangun gubug di Yogyakarta, menetap dan sudah menjadi warga Yogyakarta”, ungkapnya lebih lanjut.

Senada dengan Budi Sunarko, Rendra Kusuma Wijaya juga berpendapat bahwa baginya merantau adalah sebuah pilihan. “Sebenarnya bukan keharusan, karena saat itu pada umumnya semua merantau, dan ketersediaan lapangan pekerjaan di desa belum ada, belum terpikirkan untuk pengembangan sumber peri kehidupan, kalau suruh memilih sebenarnya lebih senang tidak merantau dan mengembangkan wilayah asal”

Rendra Kusuma Wijaya yang saat ini sebagai Social and Economic Development Coordinator WWF Site Ujung Kulon juga berpendapat secara umum bahwa merantau tidak terpaku pada pilihan semata, namun ada faktor lain yang menimbulkan keinginan untuk merantau. “Bukan juga sebuah pilihan… merantau bisa jadi satu budaya yang berkembang di masyarakat karena sumber sumber livelihood wilayah asal tidak berkembang, sehingga untuk mencari peruntungan akhirnya merantau. Cerita sukses story dari tetangga, kawan, saudara dan yang lainnya menjadi daya pikat untuk merantau. Selain itu sistem pendidikan kita juga hanya dipersiapkan untuk menjadi pencari kerja bukan untuk menciptakan usaha”, jelasnya.

Pria yang berasal dari desa Bugel, Bagelen ini juga berharap pada pemerintah daerah agar menyiapkan generasi penerus yang mampu membuka lapangan pekerjaan. “Harapan ke pemda saat ini tidak banyak berharap, lapangan pekerjaan butuh kebijakan yang mendukung adanya investasi, tetapi investasi juga berdampak besar terhadap sosial budaya dan lingkungan, yang jauh lebih penting bagaimana menyiapkan generasi yg mampu menciptakan lapangan pekerjaan diawali dari sejak sekolah. Kalau untuk yang sudah merantau bersama sama memikirkan untuk memajukan daerah asal dg pengembangan Potensi yang ada sehingga sumber-sumber perekonomian bisa terbangun, hal ini akan berdampak terhadap keinginan masyarakat untuk tidak merantau”, tutupnya.

Bagi Uzi yang juga warga Purworejo dan merantau di Ibu Kota, merantau meruakan pilihan. “Lebih mengikuti apa yg terjadi di hidupku sih. Lepas wisuda coba daftar-daftar kerjaan, termasuk di Purworejo, tapi pengumuman pertama yang di Jakarta. Coba jalanin, cocok, dan sekarang ga berasa uda 4 taun gawe di Jakarta”, ungkapnya.

Menurut wanita yang sekarang bekerja di pemerintahan ini tidak ada keinginan khusus bekerja di mana. Baginya yang terpenting lulus kuliah bisa bekerja. “Aku apply di salah satu kantor di Purworejo, Jogja, Semarang, Jakarta, dan Bogor. Pengumuman pertama Jakarta. Jadi aku pilih Jakarta”, jelasnya.

“Kalau diliat dari banyaknya anak Purworejo yang merantau, mungkin di Purworejo belum tersedia banyak lapangan kerjanya, atau bisa juga anak-anak muda nya uda terlanjur punya mindset cari kerja harus di kota-kota gede”, tutupnya.

Sedangkan bagi Yulianto yang juga seoarang anggota TNI ini, merantau juga sebuah pilihan hidup yang harus ia pilih. “Saya merantau karena tidak ada pilihan untuk tetap bertahan hidup di Purworejo, mengingat kondisi atau kesempatan kerja yang sangat kurang. Sedangkan untuk bertani disamping memamg kurang populer dalam tanda kutip waktu-waktu itu, juga kurang menjanjikan masa depan. Sehingga saya memutuskan untuk merantau, dan walaupun kehidupan diperantauan itu keras Alhamdulillah saya bisa bertahan”, tuturnya.

“Dan hingga sekarang saya melihat Purworejo itu masih terlalu tidak ramah bagi diaspora Purworejo yang mereka anggap sebagai “orang asing”, sehingga ada kesan eksklusif atau tertutup, nah ini salah satu faktor yang menjadi Purworejo sulit berkembang, padahal banyak sekali tokoh-tokoh Nasional yg terlahir dari Purworejo”

Menurutnya jika pemerintah daerah dapat memberikan pilihan bekerja lebih layak lagi di daerah asal, warganya pun akan tidak sebanyak ini dalam merantau. “Saya rasa seperti itu, jika banyak lapangan kerja di Purworejo, tentu kita tidak perlu merantau untuk sekedar mencari penghidupan. Saya berharap di era keterbukaan ini dan dengan semangat kebersamaan untuk membangun tanah kelahiran, mudah-mudahan semua pihak dapat bersinergi untuk memajukan Purworejo menjadi kita yang maju, bermartabat, dengan tetap memegang teguh nilai nilai luhur yang sudah ditanamkan oleh pendahulu pendahulu kita”, ungkapnya.

Senada dengan yang lainnya, Anna seorang Purworejo yang sedang mencari pekerjaan juga keinginanya memcari pekerjaan di tanah rantau adalah pilihan. “Ya enggak juga mas, cuma kalau ada kesempatan dengan merantau dapet pekerjaan yg lebih baik ya merantau. Pengen lebih mandiri lagi, tapi jujur aja berharap dapet pekerjaan yang lebih baik dari pada di kampung mas”, ungkapnya.

Baginya Purworejo adalah kabupaten yang tidak terlalu besar, dan lowongan yang sesuai sama jenjang pendidikannya jarang.

Dan sebagai seoarang Purworejo yang mewakili generasi muda iapun berharap kedepan nya Purworejo lebih maju, lebih baik agar bisa menyediakan lowongan pekerjaan yang sesuai dengan jenjang pendidikan warga nya.

Bagi Kuat Prihatin merantau itu adalah pilihan, tetapi pada suatu titik tertentu bisa menjadi keharusan, karena melihat peluang-peluanh dari berbagai pilihan. “Untuk saya sendiri, 30 tahun yang lalu, merasa merantau menjadi keharusan karena merasa hanya itu pilihan terbaik, atau itu adalah pilihan yang paling baik”, ungkapnya.

 

Merantau Bagi Orang Minang

 

Mengapa Orang Minang Suka Merantau? ... Banyak faktor yang menyebabkan seseorang merantau, di antaranya karena faktor budaya, ekonomi, alam, dan pendidikan. Namun, faktor paling dominan adalah faktor ekonomi. Dalam hal ini, merantau dianggap memberikan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di tempat yang akan dituju.

Namun bagi Suku Minangkabau, merantau bukan hanya disebabkan karena faktor ekonomi, tetapi juga ada faktor tradisi atau kebudayaan. Berikut beberapa faktor yang menyebabkan mengapa orang Minang suka merantau:

1. Faktor sistem matrilineal
Merantau dalam tradisi Minangkabau dipercaya timbul karena adanya sistem matrilineal. Sistem ini masih dipertahankan hingga sekarang.

Sistem matrilineal di Minangkabau memberikan harta pusaka atau hak waris kepada pihak perempuan, sedangkan pihak laki-laki hanya memiliki hak yang kecil.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Namun, perempuan Minang pada masa sekarang juga telah banyak pergi merantau.

2. Faktor budaya
Pepatah Minang mengatakan “Karatau tumbuah di hulu, babuah babungo alun. Marantau bujang dahulu, di rumah baguno alun”. Pepatah ini menegaskan bahwa anak laki-laki yang masih bujangan atau belum menikah tidak mempunyai peranan atau posisi dalam adat. Keputusan dalam keluargapun tidak bisa diputuskan oleh anak tersebut.

Hal ini dikarenakan anak dianggap belum memiliki pengalaman. Oleh sebab itu, si anak harus mencari pengalaman dengan cara pergi merantau. Para orang tua sebenarnya menyadari hal ini. Terbukti dengan adanya ajakan dan anjuran orang tua kepada anak remaja Minangkabau untuk pergi merantau.

Bahkan ada orang tua yang memaksa agar anak remajanya merantau sejauh-jauhnya dari wilayah Minangkabau, sebab ada pandangan bahwa semakin jauh tempat perantauan, maka pengalaman hidup yang didapatkan juga semakin banyak. Sehingga, si anak semakin berguna dalam masyarakat ketika ia kembali.

3. Faktor ekonomi
Faktor lainnya adalah karena permasalahan ekonomi. Sebagaimana diketahui bahwa jumlah penduduk selalu bertambah dan tidak diiringi dengan penambahan lapangan kerja.

Hal tersebut juga terjadi di Minangkabau, di mana kaum laki-laki akan merasa sangat malu jika tidak bisa bekerja. Oleh sebab itu, agar tidak disebut sebagai pemalas, maka kebanyakan kaum laki-laki yang masih bujangan bekerja membantu orang tua.

Umumnya masyarakat Minang berprofesi sebagai petani dan atau pedagang. Hasil dari tani biasanya dijual sendiri ke pasar.

Seiring meningkatnya kebutuhan, para kaum laki-laki merasa bahwa mereka hanya menambah beban orang tua. Membantu bekerja di kebun atau di sawah tidak lagi bisa mencukupi kebutuhan mereka, apalagi membantu ekonomi keluarga.

Perantau Minang, latar belakang, pelabuhan Teluk Bayur

 

Lalu, kaum laki-laki akan berpikir untuk mencari pekerjaan baru agar tidak terus-menerus bergantung pada orang tua. Awalnya pekerjaan yang dicari biasanya berkisar di daerah tempat tinggal.

Tetapi, karena permasalahan pertambahan penduduk dan lapangan pekerjaan, maka merantau merupakan solusi satu-satunya. Dengan merantau, diyakini bahwa permasalahn ekonomi bisa teratasi.

4. Faktor pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam masyarakat Minangkabau, terutama pendidikan Agama Islam. Adanya hukum "adat basandi sara’, sara’ basandi kita-bullah" mempertegas bahwa masyarakat Minang harus menguasai pengetahuan dalam Islam.

Namun keterbatasan tingkat pendidikan yang ada di daerah Minangkabau, memaksa orang-orang yang ingin menuntut ilmu untuk pergi keluar dari wilayah Minang.

5. Malanjutkan kesuksesan para perantau sebelumnya
Adanya cerita orang-orang terdahulu yang sukses dalam perantauan merupakan motivasi tersendiri yang mendorong terjadinya tradisi merantau di dalam masyarakat Minang untuk meneruskan kesuksesan.

Orang Minang merantau demi mambangkik batang tarandam, artinya dengan kesuksesan itu, dapat merubah nasib dirinya dan keluarganya. Alasan itu menjadi kompilasi dari alasan-alasan lainnya. Ini pula lah yang menjadi motivasi terbesar orang Minang dalam merantau.

Tak peduli ke manapun orang-orang Minang merantau, di manapun mereka berada falsafah-falsafah adat harus senantiasa mereka genggam erat. Di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjuang.

Alam selalu terkembang untuk mereka jadikan guru. Setinggi-tingginya bangau terbang, pulangnya ke kubangan jua. Maksudnya, sejauh apapun mereka merantau, kampung halaman harus diingat juga.

(Jft/ReviensPurworejo, Netralnews.com)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA