Menuju Moskwa: Catatan Perjalanan dari Unpad ke Rusia (bag 3)

Dari redaksi: Mulai minggu ini, prosa bersambung, seakan catatan perjalanan dari Nurbayu Nandes Manan, alumnus FIB studi Rusia Universitas Padjadjaran, dimuat bersambung di media (koran internet)  ini. Selamat membaca. 

Bagian 3: Moskwa- Rusia menanti dan sekitar 1 minggu sebelum keberangkatan, saya dan teman-teman pergi untuk terakhir kalinya ke KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN untuk mencari tau informasi selanjutnya mengenai beasiswa kami. Karena sebelum itu saya mendengar kabar yang kurang baik terkait berkas-berkas yang telah lama saya serahkan untuk Beasiswa Unggulan. Dengar kabar burung berkas-berkas yang masuk untuk pengajuan beasiswa unggulan tahun ini khususnya Pelamar yang akan ke Rusia akan dilimpahkan ke Lembaga Pengelolah Dana Pendidikan (LPDP) dibawah Kementerian Keuangan.

Saya pastikan berita itu, saya pergi ke Diknas dan bertemu dengan staf biro yang tidak bisa kusebutkan namanya, ya karena dia hanyalah bawahaan yang akan tunduk dengan atasan. Saya tidak terlalu puas dengan penjelasan staf itu terkait masalah pemindahan berkas dari Diknas ke LPDP terlalu mutar-mutar sehingga pusing sendiri dia untuk menjelaskannya.Tak sabar, aku langsung berhadapan dengan bos nya, yaitu pak abe, ya pak abe, yang menjadi pembicara di Institusi yang bernama SEAMOLEC. Ternyata sama saja jawaban yang Saya dapat. Beliau hanya mengatakan berkas-berkas yang masuk dari pelamar yang ke Rusia akan dilimpahkan ke LPDP atas perintah atasan. 

Karena terkait akan ada bantuan untuk mahasiswa/i yang ada di Rusia akan diberi bantuan oleh RI1, jadilah kami disatukan kedalamnya. Disini yang tak saya mengerti. Dari awal Saya dan teman-teman mengajukan untuk Beasiswa Unggulan yang itu hak setiap anak bangsa. Jika berkas-berkas kami dipindahkan ke LPDP sama saja kami tidak mengajukan beasiswa, karena LPDP memang akan memberi tambahan uang saku untuk para mahasiswa/i yang berada di Rusia, bukan memberikan beasiswa. Kenapa kami protes?ya jelas saja kami mengajukan beasiswa unggulan diknas dibawah bendera PBNU, karna itu kami meminta rekomendasi dari PBNU untuk mempercepat proses pendanaan tersebut. Besar harapan kami dengan surat itu beasiswa kami akan lebih cepat diproses. Bukan untuk dilepar kesana kemari seperti bola.

 

Pada akhirnya saya pun tidak bisa berbuat apa-apa dengan birokrasi ini. Indah memang birokrasi ini. Saya pun tidak memikirakannya, Saya serahkan semua kepada yang Maha esa. Saya bersama teman-teman sudah berusaha sampai 3 hari sebelum keberangkatan, belum juga mendapatkan penjelasan sama sekali. Karena waktu keberangkatan kami semakin dekat. Kami harus siapkan mental dan siap dengan kondisi apapun setelah sampai di Rusia nanti. Toh ini mimpi ku, apapun yang akan terjadi saya akan tetap berangkat. Jadi untuk sementara tidak ada kepastian tentang beasiswa aku pun meminta dana talangan sementara kepada mamaku untuk bekal disana dan sekali lagi kasih ibu kepada anaknya tak terhingga. Bagaimanapun kondisinya beliau tetap mengusahakan untuk anak tercintanya meraih mimpi.

 

Tugas kami tidak berhenti disana, masih banyak yang kami harus kerjakan. Kami pergi untuk membeli perlengkapan musim dingin. Kami beli penutup kepala, badan, tangan, dan kaki. Kami belanja di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Sudirman, Jakarta. Mahal memang, tapi kami butuh, apa boleh buat tetap kami beli. Kami hanya membeli long jhon, karena itu yang murah disana. Selebihnya kami membeli perlengkapan di Pasar Pagi Mangga Dua. Saya tau disana ada satu toko yang menjual perlengkapan musim dingin yang sesuai dengan harga kantong. Lalu saya pergi dan memborong semua yang dibutuhkan dari atas kepala sampai bawah.

Selain keperluan musim dingin, mengingat makanan di negara kita jauh berbeda dengan makanan sana, aku juga mempersiapkan kebutuhan makan dan beberapa alat dapur yang pastinya lebih murah di sini bahkan tidak ditemukan di Rusia sana. Seperti bumbu-bumbu instan makanan khas Indonesia yang kita konsumsi sehari-hari, mie rebus indomie favorit, piring plastik, gelas plastik, dan lain-lain. Seperti belanja ibu rumah tangga untuk 1 bulan. Tetap aku harus memilah-milah untuk aku bawa ke sana, karena aku tidak bisa melawan peraturan maskapai yang memberikan jatah preman untuk bagasi sebanyak 30 KG.

Nurbayu Nandes, menulis dari Rusia

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...