16 November 2018

Media Kuno Belanda : Fanatisme Islam Dan Khilafah, Akar Utama Perlawanan Nusantara

KONFRONTASI -  Tulisan berikut merupa kan lanjutan dr bedah media massa kuno Belanda yg diterbitkan secara resmi oleh pemerintah Belanda pd artikel seraamedia seblm nya. Perpustakaan Kerajaan Belanda telah merilis di internet surat kabar lama Belanda th 1618 -1995. Surat kabar lama tsb bisa memberikan informasi ttg peristiwa2 bersejarah yg ditulis pd saat peristiwa tsb ter jadi, seblm ada pihak yg sempat duduk dan me mikirkan bgmn peristiwa tsb ingin diingat oleh sejarah. 

 
Deskripsi Belanda ttg perlawanan di Indonesia
 
Bertentangan dg apa yg diklaim oleh buku2 sejarah Belanda hari ini, Belanda menghadapi perlawanan secara terus-menerus selama periode 1859 – 1930. 
Mengenai kenyataan per lawanan ini, buku2 sejarah ini mengklaim bhw perlawanan di Indonesia disebabkan oleh nasionalisme. Dikatakan bhw bbrp org Indonesia menginginkan negara mrk sendiri dan krn nya memberontak melawan Belanda.
Namun klaim tsb di bantah oleh apa yg diberitakan oleh surat kabar Belanda pd 1850 – 1930. Selama masa itu, pendapat umum yg muncul adalah Islam-lah yg menyebabkan Indonesia memberontak
 
Misalnya surat kabar Algemeen Handelsblad mengatakan pd th 1859 mengenai pemberontak an di Bandjarmasin yg telah disebutkan di atas:
“Kami ingin mem pertimbangkan kembali penyebab kejadian di Bandjarmasin, berkaitan dg kejadian pem berontakan lainnya di wilayah lain. Kami telah melihat bhw, menurut laporan yg di terima oleh mister Van Twist dr sumber yg sangat andal, pemberontakan di bagian tenggara Kalimantan dpt ditandai sebagai Mohammedan, atau anti-Eropa”.
Dg kata lain, menurut surat kabar Algemeen Handelsblad, kesamaan antara pemberontakan di Bandjarmasin, pemberontakan di Kalimantan, dan pemberontakan di bagian lain Indonesia, adalah bhw semuanya disebab kan oleh ke Islaman org Indonesia.
Ketika melihat kasus2 perlawanan Indonesia melawan penguasa kolonial Belanda, surat-kabar2 Belanda jg me nuduh Islam sebagai akar permasalahannya. Misalnya pd th 1864 surat kabar Algemeen Handelsblad menulis ttg pemberontakan di Tegal: “Troeno (…) mencoba utk membuat org2 Tegal memberontak melawan peraturan Eropa. (…) Ternyata dia mengguna kan fanatisme sebagai alat untuk ini”. Kata fanatisme dlm surat kabar pd waktu itu berarti Islam.
Pd th 1885 surat kabar Het Nieuws van den Dag bahkan mengatakan bhw org Indonesia me mandang perlawanan mrk sendiri sebagai Jihad, sebuah motivasi yg murni Islam. Jihad di terjemah kan menjadi perang sabil dlm bhs Indonesia: 
Di Sukabumi, masyarakat sekrang memiliki 5 tempat dmn kelompok2 agama bisa berkumpul. (…) Org2 yg menjadi anggota kelompok ini, para fanatik, tetap bersama setelah sholat Jumat utk membahas prang sabil, Perang Suci. (…) Lihat apa yg sdg terjadi di Sukabumi. Apakah ini tdk cukup berbahaya?”.
 
Sulit dibayangkan sebuah bukti yg lebih jelas yg me nunjukkan bhw per lawanan Indonesia melawan penjajahan Belanda dimotivasi oleh Islam. 
Pd th 1894 surat kabar Algemeen Handelsblad bahkan menyatakan bhw tdk ada penjelasan lain selain Islam yg bisa men jelaskan per lawanan thd Belanda:
“Ras yg berkuasa sangat toleran thd org lain, pemberontakan di Pulau Lombok kemungkinan besar, menurut mrk yg akrab dg mrk spt Mr. Willemsen, disebabkan oleh fanatisme Muhammad.”
Dan ketika surat kabar tsb Het Nieuws van den Dag menulis adanya hubungan antara perlawanan orang Indonesia dan bln Ramadhan, maka ini hanya bisa dipahami bhw perlawanan umat Islam Indonesia di motivasi oleh Islam mrk: “Kemarin (…) di dekat Anak-Guleng ( …) terjadi penembakan yg signifikan. (…) Puasa telah dimulai dan seorg jahat yg meninggal selama masa ini di perang sabil pasti akan masuk surga.” Belanda menggunakan istilah “jahat” (evil person) utk Muslim yg mati syahid .
 
Selama ber tahun2, surat kabar Belanda trus me nyalahkan Islam sebagai motivator perlawanan di Indonesia. Misalnya pd th 1904, surat kabar Het Nieuws van den Dag menulis:
 
“(…) Pd saat itu, seseorg memberi tahu dia bhw benturan kekerasan telah terjadi di Sukabumi, yg menunjukkan kemiripan dg pemberontakan di Sumedang dan Sidoarjo. Dia menganggap bhw sumber dr pemberonta kan ini adalah fanatisme.”
Dan di thn yg sama surat kabar ini menulis ttg pem berontakan di tempat lain:
 
“Kekuatan disertai dg fanatisme adalah sesuatu yg harus benar2 kita per timbangkan. (…) Akhir2 ini, kekuatan ini begitu besar, spt yg bisa dilihat di Jambi, Korintji, Kep. Gaju. Tragedi di Tjilegon, seruan fanatisme di tempat lain, dan sekarang pemberontakan di Gedanggan, semuanya menjadi bukti. Keributan di Sidoarjo, yg pd dasar nya berada di bawah hidung dua pasukan kita, menunjukkan akan [berbahayanya] kekuatan ini. “
 
Pd th 1907, penyebab per lawanan tdk berbeda, menurut surat kabar Het Nieuws van den Dag:
“Di Serang, bahkan sebenarnya di seluruh wilayah Bantan, banyak org yg bicara ttg pem berontakan yg terjadi baru2 ini di Barong (…). Hal ini dpt dg mudah di jelaskan, krn bukan rahasia lagi, bhw orang2 ini mempraktikkan fanatisme dan bhw tdk banyak yg dibutuhkan utk memulai terjadinya gerak an perlawanan yg lain.”
 
Pd th 1908 juga sama:
Sekarang kita tahu bhw lagi2 Sekte Mohammedan, Satria, yg berada di balik semua ini, yg sekali lagi memberikan bukti bhw pemerintah Indonesia bertindak kurang begitu tegas thd fanatisme ini yg men dapat motivasi dr barat, yg merongrong kekuasa an kita, dan menyebabkan bahaya yg terus menerus temhd nya. Perang Suci melawan “kuffar” terus didakwahkan, dan hampir sama sekali tak terduga seblm nya, pd pertengah an bln ini lagi, sebuah per lawanan yg sangat serius meletus.”_
 
Pada tahun 1910 surat kabar Sumatra Post me nyalahkan Islam atas pem berontakan di Padang:
Sejak hari2 [Pemberonta kan] itu, tanda2 fanatisme mulai banyak muncul, dan betapa banyak di daerah Priaman, di Negara Bagian Bawah Tanah Padang, yg menjadi tempat berkembang biak nya orang2 fanatik Mohammed dari sekte Satria, yg menurut lapor an resmi, jg bertanggung jawab atas perlawanan bersenjata pd th 1908.”_
Komentar2 di surat kabar Belanda mengenai kasus perlawanan di Indonesia memperjelas ttg adanya konsensus di Belanda bhw keIslaman org Indonesia adalah penyebab semua ini. Islam dipandang Belanda sebagai akar permasalah an. Mrk bahkan tdk me nyebutkan ttg nasionalisme
Ini berarti bhw buku sejarah hari ini di Belanda tdk hanya meremehkan perlawanan, ketika mrk mengatakan bhw per lawanan hanya terjadi secara sporadis, tp mrk jg menggambarkannya dg tdk tepat saat mrk me ngatakan bhw sumber utama perlawanan adalah krn aspirasi nasionalistik. Dan hal yg sama dpt di katakan mengenai buku sejarah Indonesia saat ini: mrk menggambarkan per lawanan Indonesia me lawan kolonialisme Belanda secara tdk benar ketika mrk mengatakan ini berasal dari aspirasi nasionalistik.
 
Pandangan Belanda ttg perlawanan Indonesia: Khilafah adalah penyebabnya
Pada periode 1850 – 1930 sebagian besar analis di surat kabar Belanda ber pendapat bhw masalah org Belanda di Indonesia dimulai dg hajinya Muslim Indonesia ke Mekkah. Misalnya pd th 1859 seorg analis di surat kabar Algemeen Handelsblad menulis:
“Pendapat umum yg ada adalah bhw penyebab pemberontakan sebagian besar dpt ditemukan di: (…) kedua, dlm peningkat an jumlah peziarah ke Mekkah, yg menyebabkan meningkatnya fanatisme, krn penduduk asli Indonesia termotivasi utk memberontak melawan kekristenan dan dominasi Eropa.”
 
Dan pd th 1866 surat kabar De Locomotief menulis:
Bahaya bagi keselamatan org Jawa biasa meningkat seiring dg meningkatnya jumlah peziarah. Namun hal ini banyak diremeh kan. Bahaya ini adalah sebuah fakta, tanpa bayangan keraguan.
Analis lain kemudian men jelaskan mengapa haji menjadi sumber semua masalah bagi Belanda di Indonesia. Surat kabar De Locomotief menulis pd th 1877:
Semakin banyak jamaah haji pergi ke Mekkah, semakin meningkat fanatismenya.
Dg kata lain, Belanda me lihat hubungan antara haji dan kekuatan keyakinan Islam di antara org Indonesia. Ini krn haji, bagi jamaah haji, jg me rupakan kesempatan utk belajar lebih banyak ttg Islam. Pd periode 1850 – 1924, Khilafah msh ada. Hijaz, daerah sekitar Mekkah dan Madinah yg dikunjungi para peziarah, msh merupakan bagian dr kekhalifahan.
Jadi ketika org Indonesia pergi haji, dia pergi ke sebuah negara yg didiri kan berdasarkan Islam, di mana studi ttg Islam me miliki kedudukan besar di masyarakat, dan di mana org dimotivasi oleh negara utk belajar ttg Islam. Org Indonesia mem bawa apa yg mrk pelajari di sana ke Indonesia, dan berbagi dg sesama Muslim di Indonesia.
 
Lalu, apa yg dikhawatir kan oleh Belanda ttg pengetahuan keIslaman di kalangan org Indonesia?
 
Jawaban atas pertanyaan ini adalah apa yg oleh Belanda disebut “pan-Islamisme”. Misalnya sebuah analisis di surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant pd th 1915 mengatakan:
“Di masa lalu, mungkin saja kita khawatir dg ke inginan berlebihan orang2 Mohammedan di Indonesia utk pergi haji, krn berbagai alasan. (…) Bbrp di antara mrk men dapat pengaruh pan-Islamisme di sana, dan kemudian ketika mrk kembali, memiliki pengaruh atas orang2 sebangsanya.”
Seorg analis yg menulis utk surat kabar Het Nieuws van den Dag pd th 1911 mengatakan:
“Kita tdk perlu lagi mem bicarakan ttg fanatisme di antara sebagian besar peziarah yg kembali. Ini sdh sangat terkenal, bahkan lebih berbahaya lagi di zaman kita saat ini. Saat ini, pan-Islamisme (…) mencoba membuat terobosan di mana2.”
Dg kata lain, ceramah ttg pan-Islamisme adalah masalah yg muncul dari pendidikan Islam di Mekkah dan Madinah. Apa yang dimaksud  dg istilah pan-Islamisme? Pertanyaan ini dijelaskan oleh surat kabar Nieuw Tilburgsche Courant pd th 1900:
“Istilah pan-Islamisme dipahami oleh org Eropa sebagai ‘aspirasi diantara umat Islam utk bersatu dlm satu negara. (…) Dimanakah ide pan-Islamisme ini berakar? Dlm hukum Mohammedan ortodoks, (yg mengata kan) bhw semua pengikut Mohammad (Mohammedan), terlepas dari bangsanya, terlepas dari bahasa yg digunakan, hrs menjadi satu komunitas ideal; Dan bhw semua penguasa Mohammedan hrs meng akui satu penguasa ter tinggi. (…) Apa akibatnya? Bhw penguasa yg kafir, sebagai masalah prinsip, tdk akan pernah diterima oleh orang2 Mohammed ortodoks sebagai penguasa mrk yg sah. (…) Ini adalah suatu bahaya yg tak terbantahkan, utk negara Kristen mana pun yg menjadikan Islam sebagai subjeknya, dlm tingkat yg lebih rendah atau lebih tinggi.”
Atau seperti yg dikatakan oleh surat kabar Algemeen Handelsblad pd th 1910:
“Para penceramah men jelaskan bhw bagi orang2 Mohammedan hanya aturan Khalifah—Sultan Turki—yg merupakan aturan yg sah. Mrk me lihat bhw semua aturan lainnya tdk sah, termasuk aturan kita di Indonesia. Krn itu, ajaran ttg Khilafah adalah elemen yg sangat berbahaya.”
Dg kata lain, Belanda me nyadari bhw Khilafah adalah pilar Islam. Dan Belanda menyadari bhw pilar Islam ini memotivasi umat Islam Indonesia utk terus menerus melawan penjajahan Belanda. Inilah yg dikatakan oleh surat kabar Het Nieuws van den Dag pd th 1897:
“Pemerintah kita bisa mendpt banyak masalah dari ini. Krn, bagi kita, pan-Islamisme juga adalah musuh terbesar dan terhebat bagi per damaian di wilayah koloni kita, sama spt utk semua negara Eropa lainnya yg menjadikan orang2 Mohammedan sebagai subjek atau pihak yg mrk tundukkan.”
 
Pemerintah Belanda me nyadari hal ini, spt yg di tunjukkan oleh sebuah laporan di surat kabar Nieuw Tilburgsche Courant th 1898:
 
“Saat diskusi mengenai anggaran utk pemerintah an kolonial di Indonesia pd th 1899, Mr. De Waal Malefijt mengungkapkan keprihatinan atas mening-katnya Mohammedanisme di Indonesia, yg menyebab kan pengaruh pan-Islamisme meningkat.”(Juft/Seraamedia)
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...