Latar belakang Sajak 'Malam Lebaran,' Sajak Ikonik Sitor Situmorang

KONFRONTASI -    Judulnya Malam Lebaran. Isinya hanya satu kalimat: "Bulan di atas kuburan." Sajak itu langsung menjadi yang paling ikonik dan menggemparkan dibanding karya lain Sitor Situmorang. Asrul Sani membuatkannya film.

Sajak Malam Lebaran Sitor pertama dimunculkan dalam kumpulan Dalam Sajak, diterbitkan pada 1955. Baru muncul, namun langsung menggegerkan dunia seni. Sebab baru kali itu sajak hanya satu kalimat.

"Itu daya seni. Kemampuan seni seseorang untuk mengungkapkan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Hanya satu kalimat, tapi punya arti interpretatif," ujar Gulontam Situmorang, putra ke-tiga Sitor, kepada CNN Indonesia, pada Selasa (19/1).

Sajak itu pun banyak diperbincangkan. Kawan-kawan dekat Sitor pun mempertanyakan makna atau cerita di balik kalimatnya.

Gulontam kebetulan pernah ikut menghadiri sebuah acara temu beberapa sastrawan di Jakarta. Salah satu yang diingat Gulontam, budayawan W.S. Rendra hadir pula di sana. Mereka memperbincangkan sajak Sitor Malam Lebaran. Ada yang menceletuk bertanya.
"Kok bisa 'malam Lebaran bulan di atas kuburan.' Malam Lebaran enggak ada bulan lho," demikian Gulontam menirukan mereka.

Sitor pun kemudian menjelaskan dengan cerita soal niatnya berlebaran ke rumah seorang kawan. Momennya bukan persis saat Lebaran tiba, yang biasanya ditandai dengan bulat yang masih berbentuk segaris sabit.

Kunjungan Sitor itu terjadi beberapa hari setelah Hari Raya umat Muslim tiba.

"Ada perdebatan, bahwa temannya itu Pram. Tapi ada juga yang menyebut bukan Pram. Saya sendiri tidak ingat siapa persisnya yang disebut waktu itu," kata Gulontam.

Yang jelas, kawan Sitor itu rumahnya di dekat pemakaman Karet. Untuk menuju ke sana, ia harus melewati kuburan. Saat itu masih gelap, belum ada penerangan listrik. Mendadak, bulan muncul dari balik awan.

"Lalu terlihat, eh ada kuburan. Itu melekat sampai dia pulang. Lalu dia bikin lah itu, 'malam Lebaran, bulan di atas kuburan.'"

Sitor sendiri tidak terlalu memusingkan perdebatan seputar sajaknya. Orang bisa menginterpretasikan macam-macam. Ia sendiri hanya ingin menuangkan seni dari pengalaman sehari-hari yang dirasakannya. Kata Gulontam, sang ayah biasa seperti itu.

Ia pernah membuat sajak tentang Kaliurang setelah berkunjung ke Yogyakarta dan melihat pemandangan Kaliurang. Ia juga pernah membuat sajak tentang China saat berkunjung dan melihat para petani di sana.

Sajaknya tentang Paris dan Belanda dihasilkan saat Sitor mendapat beasiswa studi dan wisata di Negeri Kincir Angin.

"Ilham bisa sembarang. Kadang disimpan untuk suatu ketika dituliskan, kadang dituliskan langsung," tutur Gulontam.

Hebohnya sajak Malam Lebaran membuat sineas Asrul Sani tertarik membuat film dengan judul Bulan di Atas Kuburan. Filmnya sendiri dibuat dan ditayangkan saat Sitor masih dalam penjara. Tapi Asrul sepertinya tak merasa perlu meminta izin khusus.

"Sesama seniman saling mengagumi dan menghargai itu biasa. Bagi Bapak mungkin itu suatu kehormatan. Bapak pun tidak pernah bereaksi negatif," kata Gulontam.

Perkara film itu mengisahkan pemuda Batak yang hijrah ke Ibu Kota, menurut Gulontam, murni penafsiran Asrul yang notabene bersahabat dekat dengan Sitor sejak sama-sama di Belanda. Namun ia tidak melupakan fakta bahwa Sitor pun seorang Batak yang berkarya di Jakarta, bahkan internasional.

Bulan di Atas Kuburan kembali difilmkan pada 2015, oleh Edo W.F .Sitanggang. Film itu dibintangi beberapa selebriti ternama seperti Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan, Donny Alamsyah, dan Tio Pakusadewo. (Jft/CNN)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA