KEBIASAAN

Juftazani 
 
 
 
 
pram,
korupsi bagi negara-negara selatan
adalah rencana besar (grand design) neo kolonial
orang yang telah terbiasa hidup menghisap
sulit melepas diri dari kebiasaan itu
orang yang sudah lama merampok
tak bisa meninggalkan kebiasaan itu serta-merta
seseorang yang mendarah daging 
mendapatkan biaya hidup dan kehidupannya
dengan memerangi orang
tak mungkin mampu hidup dengan damai
 
 
 
 
pram,
itulah warisan negara-negara kolonial (kini: negara-negara maju)
yang masih berlangsung sampai detik ini
pembaca kira kau penipu
tidak!
kau benar pram!
akulah saksinya
akulah pendukung pendapatmu itu
kita, bangsa kita, rakyat negara-negara berkembang
masih menjadi budak
di kampung sendiri.
 
 
 
 
Ciputat, 30 Juni 2006  
 
 
-------------------
Pram memang terindikasi sebagai seorang komunis dan bukunya dilarang oleh penguasa Orde Baru. Namun saya bersetuju dengan Pram, tentang penentangan pada penindasan, perampokan dan peghisapan. Adapun Pram terperosok ke dalam ideologi komunis yang ditentang oleh Islam dan umat Islam, itu adalah urusan pribadinya sendiri. Dan saya sangat tidak bersetuju dengan ideologi komunisme dan kapitalisme serta Oligarki maupun oligopoli yang sedang merajalela di seluruh negara-negara di dunia. Pada akhirnya, ketidaksetujuan Pramoedya Ananta Toer pada penindasan, penjajahan, penghisapan dan monopoli itulah yang saya ambil dari Pram. Bukan Pram sebagai seorang yang Pro Komunis
Tahun penulisan puisi :  Ciputat, 30 Juni 2006, tidak ada indikasi saya memihak komunisme. Saya murni mengambil ide0ide Pram sebagai seorang anti Kolonialisme
: Dan menghargai Pram sebagai seorang PEngarang BESAR, menyamai Ernest Hemingway di Amerika, menyaingi Wiliam Shakespeare di Inggris dan Leo Toltoy serta Dostoievsky di Uni SOviet, Rusia.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...