IMLA, Aku Harus Ke Bandung, Ini Perjumpaan Terakhirku

Juftazani

 


Aku sebenarnya sudah rindu untuk pulang
Memenuhi panggilanNya yang demikian indah dan mendebarkan
Namun ada satu agenda yang tak ingin kutinggalkan
Dan Dia masih memberikan waktu kepadaku


Tepat pukul 00.00, sebuah telegram dari langit menerakan tulisan 
Di layar jiwaku
Bahasa tanpa suara dan sangat lembut hanya terbaca olehku
Menyatakan: Wahai sayangku, Taufik Ahmad Dardiri
Tepat ba’da Maghrib tanggal 5 November 2019 
Kau akan kupanggil menghadapKu
Bersiaplah sayangKu
Ketabahanmu dan kesabaranmu dalam menghadapi 
Hebatnya perasaan tersiksa karena sakit sejak 2012 silam 
Telah menyebabkan banyak dosa dan kesalahanmu
Yang Kuhapus dan Kuampuni
Berbabahagialah kau dalam perjumpaan kita nanti


Di rumah, di Purwomartani 
Terjadi keributan antara aku dengan istri dan anakku
Aku bersikeras hadir dalam pertemuan IMLA ke VI 16 oktober 2019
di Bandung
Aku harus hadir!
Istri dan anakku bersikeras dan menjawab: jangan!
Kami mengkhawatirkan kesehatan ayahanda
Tapi aku tetap bersikeras untuk hadir dalam pertemuan 
Yang kuyakini perjumpaan terakhir dan terindah 
Dengan teman-teman dan kolega seperjuanganku
Walaupun aku tak bisa berbicara dengan suara
Tapi lewat tulisan di layar WA Hp, aku bersikeras untuk hadir
Akhirnya istri dan anak-anakku luluh
Dan mereka menemaniku ke Bandung
Walaupun dengan penuh kekhawatiran dan kecemasan

Wahai dzat yang hidup dan dzat yang mematikan
Dengan segala kekuasaanMu
Engkau telah memberi kekuatan kepadaku
Walau hanya mampu duduk di kursi roda
Dengan langkah terpatah-patah dengan mulut membisu
Kubaca rasa bahagia semua yang hadir 
Aura keindahan perjumpaan terakhir bersama para sahabatku
Dalam perhelatan “Pertemuan Ilmiah Internasional Bahasa Arab ke-XII” 
Dan Muktamar VI Ikatan Pengajar Bahasa Arab di Indonesia (IMLA) 
Di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Bandung

Terimakasihku kepada semua kalian
Dan rasa syukurku kepada Ilahi Rabbi 
Yang telah memberiku anugerah yang tak ternilai
Oh, aku sujud padaMu 
Mengucap rasa syukurku yang tiada terhingga 
Sebelum Engkau benar-benar memanggilku
40 hari ke depan yang terbaca di layar ruhku


Hanya aku yang mampu membaca dan merasakan panggilan ini
Dan tak bisa menceritakannya kepada siapapun 
Karena ini rahasia antara Kau dan aku
Kontrak hidupku di dunia fana akan berakhir malam Rabu
Airmataku mengalir menunggu pertemuan kita nanti 
Ya Ilahi Rabbi
Dekatkanlah aku selalu dengan berdzikir terus dalam pengabdian kepadaMu 
Dengan hati yang suci

 


Tangerang, 17 Oktober 2020


----------------------------------
Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog"terbit 2014. Insya Allah akan terbit novel keduanya awal tahun 2001 nanti, Novel keduanya yang berjudul "De Atjeh Oorlog, Djihad en Koloniaal matchvertoon", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...