Idul Fitri Dalam Genangan Darah Dan Airmata (4

Juftazani
 
 
Roket-roket Palestina berluncuran ke tanah-tanah pemukiman yang dijanjikan
Satu jiwa gugur di wilayah pendudukan Israel
Langsung naik pitam, balasan untuk satu hantaman roket katsyusha
Palestina harus membayar dengan 45 warga sipil tak berdosa
Inikah protokol perang Nyetanyahu terhadap warga dunia?
Siapa saja dari warga musuhnya membunuh satu warga negara penjajah yang istimewa
Harus membayar dengan ratusan nyawa
Hidup jika dilandaskan atas keunggulan dan kehebatan golongan
Tak akan memberi kebahagiaan dan kedamaian
Begitu banyak Palestina berkorban untuk sebuah penjajahan yang dikira kekal dan jaya
Bagi Palestina itu adalah satu keuntungan yang luarbiasa
Sabar dan pasrah kepada keputusan Ilahi yang akan mengangkat derajat mereka
Bagi Israel, kemenangan semu itu adalah kejahatan dan akumulasi kekalahan yang mengerikan
Yang menjadi bom waktu bagi yang merasa unggul dan agung,
Padahal kehinaan yang terlanjang merajalela
Menyimpan kekeroposan debu
Untuk mengalami kemunduran, kekalahan dan kehancuran selamanya
Tunggu waktu!
 
 
Ketika anak-anak Palestina disiksa dan ditembak sampai mampus,teraniaya dan menderita
Apakah itu peradaban agung manusia atau kejahatan dendam manusia berhati Iblis
Mengumbar dendam, kemarahan penuh kejahatan angkara murka
Makin menyingkap situasi psikologis tentara pengecut dan mengerikan
Darah mengucur dimana-mana
Air mata dan kesedihan jadi pemandangan indah bagi langit
Tapi jadi lanskap kehebatan Israel sebagai adikuasa dan kesombongan yang dipertontonkan
Pada dunia
Bukanlah kemenangan
Itu kemelaratan hidup manusia yang jiwanya mengalami kesengsaraan dan penderitaan
Yang sungguh mengerikan
 
 
Dendam dan nafsu busuk yang diperturutkan
Akan menjadi pertanda kerapuhan suatu bangsa
Kekalahan bagi bangsa yang diinjak harkat kemanusiaannya
Hanyalah kemenangan yang tertunda
Sejarah buka banyak tabir dan rahasia
Kemusnahan sudah pasti atas bangsa-bangsa yang hidup di atas bangkai-bangkai korbannya
Penjajah Israel selalu membuat keputusan mengurangi usianya satu hari lebih cepat
Dari catatan ghaib yang telah diturunkan pada mereka
 
 
Bangsa Rumawi musnah di atas korban-korban yang tumbuh bagai cendawan
di awal musim penghujan
Bangsa Mesir hancur di atas kesabaran Nabi Musa yang bertahan dan tabah atas segala petaka
Bangsa yang digigit seekor nyamuk mengobarkan kemarahannya dengan membakar rumahnya
Hati-hati - Kehancuran yang makin pasti menunggu waktu
untuk bangsa gila dan paranoid seperti ini
Tumpukan kesalahan dan gelombang dosa yang tak pernah dimintakan maaf dan rasa bersalah
Adalah umpan api yang paling empuk
Bangsa yang menyimbolkan diri sebagai ilalang kering
Dengan cepat dijilat api
Walaupun kelihatannya bertahan dalam waktu lama menguasai suatu bangsa
Sambil menikmati harta rampasan dan menginjak-injak korbannya
Tiba-tiba mereka runtuh dan musnah tanpa mereka tunda lagi
Saat kehancurannya
 
 
 
Tangerang, 26 Mei 2020
----------------------------
Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akan terbit novel keduanya: "De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon"Juftazani

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA