Idul Fitri Dalam Genangan Darah Dan Airmata (1


Oleh: Juftazani

 

Takbir, tahlil dan tahmid berkumandang di langit Palestina
Tapi bagiku
Oh tak pernah kurasakan pelukan Ibuku? Dimana Ayahku?
Tiada canda dan tawa di pagi yang teramat indah
Baru saja jeda suara takbir, tahlil, tahmid terdengar dentuman bom
Hardik tentara dan todongan senjata bagi anak-anak Palestina

 


Idul Fitri hanya ada di negeri-negeri jauh
Gema kebesaran suara Tuhan
Terdengar sayup-sayup nun di ujung dunia
Di Palestina, hanya ada gelegar petir kebengisan penguasa kafir
Dekapkanlah kupingmu sahabat ke dinding masjid al-Aqsha
Kau dengarkah?
Ratapan, isak tangis, darah dan airmata
Bibir kelu berpuluh tahun dibungkam penguasa
Perut kami lapar
Kantong celana dan-keranjang kami dipenuh kayu dan batu
Hari-hari kami hanya ditemani kesedihan dan keperihan
Saudaraku sesama Arab tak mendengar
walaupun rumahnya berseberangan dari kamp pengungsian kami

 

Tak ada Idul Fitri di Palestina
Kami angkat senjata terhadap ketidakadilan yang dijalankan tentara kekar dan berwajah sangar
Membela dan berjuang membebaskan tanah air kami
Tapi kami dituding teroris dan dunia menertawai kami
Pandangan-pandangan geram tentara Israel
Tak sedikitpun menyiratkan kasih sayang, kelembutan apalagi cinta
Di sini kami disuguhi dusta, kekerasan, letupan dinamit dan ranjau
Di sini kami rayakan Idul Fitri 1441 Hijriya
Dengan kepungan senjata, blokade obat-obatan dan tiada makanan
Hiduplah seperti kami sahabat
Dengan segala kekurangan, kelaparan dan penderitaan
Bahkan darah airmata
Menjadi hidangan indah di barak-barak pengungsian kami setiap hari

 

Kami kehilangan paman yang kemaren ditembak tentara Zionis yang bengis
Kami tak punya apa-apa
Rumah yang baru saja selesai dibangun
Hancur dibom pesawat pembom Israel
Jiwa kami dicengkeram
Bahkan bayi yang baru saja dilahirkan
Ditodongkan senjata AK 47 ke wajahnya
Astaga, bayi merah itu tak mampu menghisap susu dari tetek ibunya
Ibunya telah tiada beberapa saat setelah ia dilahirkan
O, kemana lagi kami akan mengadukan perihal nasib malang kami?

 


Tak ada idul Fitri di sini
Masih adakah tersisa sepotong cinta dariMu?
O Allah ‘Azza Wajalla, tolonglah kami bangsa Palestina
Jerit jiwa kami, derai airmata kami
Tak lagi jadi bahasa yang memilukan bagi dunia
Kami selalu berharap terus berada dalam genggaman cintaMu
Walau hidup ini sungguh pedih, perih dan sangat menyedihkan
Terseok-seok di antara kelaparan, blockade dan kepungan kekuatan yang tak kami inginkan
Tenda-tenda pengungsian reot,
Kehidupan centang perenang kami yang belum ada akhirnya
Kami selalu menengadahkan wajah ke langit
Allah Yang punya kasih sayang dan cinta
kasihanilah kami dalam dekapmu yang abadi
Tanpa cintaMu, kami sudah musnah dan poranda,
Tiada lagi kekuatan kecuali hafalan surah-surah al-Quran anak-anak Palestina
Kami sarapan pagi dengan cahaya
Kami makan siang dengan sepiring cahaya
Tidur dalam tenda-tenda penuh cahaya
Walaupun semua kehidupan kami tiada berbentuk, remuk dan porak poranda
Dalam pengalaman kami
Kami selalu menyaksikan cahaya
Abadi dan penuh bahagia


 

Allahu Akbar Allahu akbar Alllahu Akbar!
Laaaailaaaha illallaaaahuwallaaaahu Akbar
Allaaaaahu Akbar Walillaaaaahilhamd..
 


Jakarta 01 Syawal 1441 Hijriyah / 24 Mei 2020


----------------------------


Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akan terbit novel keduanya: "De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon"Juftazani

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA