13 November 2019

Hutan Kita Dibakar (1

Pembakaran hutan dan lahan adalah pekerjaan terorganisasi
Pemerintah tahu organisasi kejahatan itu
Hutan dan lahan dibakar tanpa ketahuan rakyat mana yang jadi pemiliknya
Setengah tahun muncul di lahan perampokan taipan itu, benih-benih sawit yang baru ditanam
Kalian tak akan mampu mengidentifikasi taipan mana yang telah menanam benih sawit di lahan PERAMPOKAN itu
Yang menanamnya adalah makhluk halus yang tak kelihatan
Apalagi para taipan yang jadi perampok hutan dan lahan
Dengan mikroskop kita dapat melihat dan mengamati benda-benda yang sangat kecil
Tapi kalian tak akan mampu meneliti bentuk, sosok, dan sepakterjang  para pembakar hutan
Yang kalian observasi di meja penelitian
Jika kalian mampu melihatnya, tak akan mampu menangkapnya
Bila kalian dapat menangkapnya
Kalian tak bisa menuduhnya
Bila kalian terbukti membuat tuduhan
Kalian tak dapat menghukumnya
Percuma saja kalian menyeret-nyeret setan gundul taipan super rakus itu
Ke meja pengadilan
Kuku mereka tajam setajam pisau silet
Kekuasaan mereka terbentang antara Heilungkiang sampai Nyi Roro Kidul bertahta di selatan pulau Jawa
Kalian tak bisa apa-apa, sampai seluruh hutan Indonesia habis dipanggang
Siapa yang mencoba melawan, akan ditenung oleh dukun terhebat dari “wanchai fire station”
Kalian semua akan menjadi sun go kong (monyet) yang hanya bisa mencibir dan memelototkan mata
Tapi hari demi hari hutan negeri kalian akan terus terbakar
Ketika perang berkecamuk, kalian tak akan dapat melakukan perang gerilya
Kalian tak dapat bersembunyi
Kalian akan kalah oleh praktek perdukunan tukang tenung
Tinggal sedikit lagi untuk memusnahkan bangsa Indonesia seluruhnya
Di musim panas yang kepanasan di atas suhu normal, KALIAN MATI KEPANASAN
Di musim musim hujan yang dingin, kalian juga akan mati kedinginan
Desa dan kota-kota kalian akan tenggelam kebanjiran
Negeri kalian akan direbut dan nanti akan disebut republik rakyat indowanchai
selamat menikmati musim dingin paling dingin
Selamat menikmati musim panas paling panas
Selamat menunggu kematian pelan-pelan
Selamat menanti kemusnahan kalian sebagai bangsa
kalian sungguh sangat merana
Di tengah hancurnya stabilisator penyeimbang suhu udara
hutan-hutan Indonesia yang terus menghilang

 

Jakarta, 9 Oktober 2019

.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh: Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...