Harta Karun

Oleh: Kanda Mubu 

 

entah mengapa kampong
yang biasanya senyap
tiba-tiba ramai sibuk 
membicarakan isu
tidak lagi sembunyi-
sembunyi tapi telah
menjadi bancahan diskusi
sidang paripurna 
warung kopi


entah siapa yang 
menghembuskan kabar
jika anak jantan Wak Itam 
tukang cukur rambut yang
sudah puluhan tahun merantau
ke negeri jiran sekejab lagi
akan balek kampong

 

riuh gemuruh kabar itu
bukan tersebab 
anaknya Wak Itam
tapi... budak tu balek 
membawa harta karun

 

berhari-hari, siang malam,
pagi petang orang-orang
kampong asyik membualkan
harta karun yang akan dibawa
anak Wak Itam
yang ke ladang berhenti 
ke ladang, yang ke laut 
berhenti ke laut.
para bini tak ndak lagi
membuatkan kopi lakinya
para lakipun tak balek-balek
dari sidang di warung kopi
semua orang kampong
telah mabuk harta 
harta karun anak Wak Itam


tiba-tiba,
di tengah hiruk bising
riuh cakap orang kampong
seorang budak kecik
dari pelabuhan berlari
tepekik telolong:
"anak Wak Itam balek,
anak Wak Itam balek"

 

Tak menunggu lama
dari lambung perahu
menyembullah peti 
panjang berwarna coklat tua
diusung empat laki-laki
tegap berwajah sendu
dari arah samping datang
pula dua laki-laki membentangkan
baleho putih bertulis tinta hitam:
'Anak Wak Itam telah mati'

 

[]tanah melayu,
28_o7_2o2o
Pak Ngah Riau

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA