Dramawan Di Balik Lahirnya Pengakuan Kemerdekaan

Oleh : Hamid Nabhan

 


Ali Ahmad Baktsier lahir di Surabaya pada 1910. Pada usia 10 tahun dibawa ayahnya ke negeri Yaman guna menuntut ilmu agama. Pada usia remaja bakat sebagai seorang pe-
nyair mulai terlihat. Sempat menjadi guru. Lalu pada tahun 1932 pindah ke kota Aden, Yaman. Diteruskan ke Somalia, pindah ke Hijas Saudi Arabia, sampai tahun 1934 ia pindah ke Mesir. Selama berpindah dari satu negera ke negara yang lain, beliau tidak pernah melupakan tanah airnya, Indonesia. Beliau selalu menjalin komunikasi dengan beberapa sahabat di tanah air yang berjuang ingin melepaskan diri
dari penjajahan.


Dari komunikasi ini, Ali Ahmad Baktsier Banyak mendapatkan informasi tentang perjuangan kemerdekaan
bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda dan jepang.
Karena ikatan emosional yang kuat dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia walau tinggal di luar negeri, Ali Ahmad Baktsier tetap memperjuangkan kemerdekaan negerinya.
Di Mesir inilah Ali Ahmad Baktsier terus menulis tentang perlawanan Bangsa Indonesia melawan penjajahan
di media-media Mesir, sehingga rakyat mesir begitu akrab dengan perjuangan Rakyat Indonesia.
Salah satu karya heroiknya adalah "Audatul Firdaus Au Istiglalu Indonesia" (Kembalinya Surga atau Kemerdekaan Indonesia). Pada saat itu Mesir menjadi pusat dunia Arab dan menjadi markas Liga Arab. Tulisan-tulisan Ali Ahmad Baktsier menyebar ke seluruh negeri Arab.

 

la juga mengenalkan lagu Indonesia Raya kepada masyarakat Timur Tengah dan mengubah lagu tersebut ke dalam bahasa Arab, sehingga lagu ini menjadi populer di negeri-negeri Arab. Lagu Indonesia Raya dan juga buah tulisan serta syair-syair Ali Ahmad Baktsier mengenai perjuangan negaranya yang masih di bawah penjajahan telah menyihir rakyat dan pemerintahan Mesir hingga tergeraklah emosi seluruh rakyat mendukung revolusi Indonesia. Maka lahirlah pengakuan dan bantuan dari negara-negara Arab kepada rakyat dan bangsa Indonesia.

Dari peran besarnya itu, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Kehormatan Rl atas jasanya di bidang seni sastra dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang disematkan oleh Bung Karno ketika presiden berkunjung ke Mesir. Menurut sastrawan Taufik Ismail, drama Audatul Firdaus memberi kontribusi penting bagi Indonesia karena berat bobot historisnya.

 

Sedang penyair Zawawi Imron menilai bahwa ini sebuah bukti drama bisa menjadi alat perjuangan. Mustofa Bisri mengatakan bahwa "Saya mengenal beliau sejak saya di Mesir, selalu membaca tulisan-tulisannya. Ali Ahmad Baktsier bisa disejajarkan dengan sastrawan-sastrawan besar Mesir semisal Taufq El Hakim dan Naguib Mahfouz. Ali Ahmad Baktsier adalah tokoh yang ikut berjuang di dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan aktif di dalam aktivitas perjuangan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia di Mesir. Ali Ahmad Baktisier meninggal dunia pada tahun 1969. (Jft/HN)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...